KebonCinta.com-- Kebiasaan tidur anak ternyata tidak hanya berkaitan dengan waktu istirahat. Rutinitas menjelang tidur juga dapat memberikan petunjuk kepada orang tua tentang kondisi emosional, kemampuan mengendalikan diri, hingga kebiasaan sehari-hari yang sedang terbentuk.
Sejumlah penelitian mengenai tidur dan perkembangan anak menunjukkan adanya hubungan antara pola tidur yang tidak teratur dengan berbagai persoalan perilaku. Anak yang terbiasa tidur terlalu larut, misalnya, dapat mengalami kesulitan mengatur emosi, mempertahankan konsentrasi, atau menjalani rutinitas secara konsisten.
Penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi SLEEP 2025 turut menyoroti hubungan antara kebiasaan menunda tidur pada anak dan remaja dengan karakteristik psikologis tertentu. Temuan semacam ini menjadi pengingat bahwa orang tua perlu memperhatikan pola tidur anak, bukan hanya memastikan mereka tidur dalam waktu yang cukup.
Meski demikian, kebiasaan tidur tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kepribadian anak. Faktor lingkungan, pola asuh, kondisi kesehatan, dan pengalaman sehari-hari juga berperan dalam perkembangan emosi serta perilaku mereka.
Baca Juga: Cara Mendidik Anak agar Baik Hati Tanpa Harus Selalu Menuruti Keinginan Orang Lain
Tidur memiliki peran penting dalam proses perkembangan otak. Saat beristirahat, tubuh memulihkan energi, sementara otak menjalankan berbagai proses yang mendukung daya ingat, pembelajaran, dan pengaturan emosi.
Anak yang memperoleh tidur cukup dan berkualitas umumnya memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk mengikuti kegiatan sehari-hari. Mereka dapat lebih siap menerima arahan, berkonsentrasi ketika belajar, dan menghadapi situasi yang memicu rasa kesal atau kecewa.
Sebaliknya, waktu tidur yang kurang atau jadwal istirahat yang berubah-ubah dapat membuat anak lebih mudah lelah. Dampaknya bisa terlihat melalui perilaku yang lebih rewel, sulit fokus, cepat frustrasi, atau kesulitan mengendalikan dorongan sesaat.
Namun, anak yang sesekali tidur larut tidak otomatis mengalami masalah perilaku. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan kebiasaan tersebut secara berulang, durasi tidur, serta pengaruhnya terhadap aktivitas anak pada siang hari.
Sebagian anak kerap mencari alasan untuk tidak segera tidur. Mereka mungkin meminta tambahan waktu bermain, ingin menonton satu video lagi, atau terus mengajak orang tua berbicara ketika waktunya beristirahat.
Kebiasaan ini bisa muncul karena berbagai alasan. Anak mungkin masih memiliki banyak energi, belum terbiasa mengikuti jadwal, merasa khawatir ketika harus tidur sendiri, atau kesulitan menghentikan aktivitas yang menyenangkan.
Pada anak dan remaja, kebiasaan menunda tidur juga dapat berkaitan dengan pola aktivitas yang padat dan penggunaan perangkat digital pada malam hari. Jika berlangsung terus-menerus, waktu tidur dapat berkurang dan memengaruhi kesiapan mereka menjalani kegiatan esok hari.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label bahwa anak malas, tidak disiplin, atau memiliki kepribadian buruk. Cobalah mencari tahu alasan di balik kebiasaan tersebut sebelum menentukan cara mengatasinya.
Baca Juga: Mengenal Pendidikan Karakter pada Anak, dari Pengertian hingga Cara Menerapkannya
Kondisi emosional dan pola tidur saling berkaitan. Anak yang mengalami tekanan atau kecemasan mungkin lebih sulit terlelap, sedangkan kurang tidur dapat membuat mereka semakin sensitif terhadap situasi yang menimbulkan stres.
Hubungan tersebut dapat membentuk lingkaran yang perlu diperhatikan. Ketika anak tidur terlalu sedikit, ia mungkin lebih mudah marah atau menangis. Perasaan tidak nyaman yang muncul sepanjang hari kemudian dapat membuatnya semakin sulit menenangkan diri saat malam tiba.
Keteraturan tidur membantu menyediakan kondisi yang lebih baik bagi anak untuk beristirahat dan memulihkan diri. Meski begitu, tidur yang teratur bukan jaminan bahwa anak selalu tenang atau terhindar dari persoalan emosional.
Jika anak terus mengalami kecemasan, perubahan suasana hati yang mengganggu, atau kesulitan tidur dalam waktu lama, orang tua sebaiknya mencari tahu penyebabnya. Apabila diperlukan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan dukungan yang sesuai.
Rutinitas tidur yang konsisten dapat menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan positif sejak dini. Anak belajar mengenali urutan kegiatan, memahami batas waktu, dan menyesuaikan aktivitas dengan kebutuhan tubuhnya.
Sebagai contoh, anak yang terbiasa merapikan mainan, menyikat gigi, membaca buku, lalu tidur pada jam yang relatif sama akan memiliki pola kegiatan yang lebih mudah diprediksi. Rutinitas tersebut dapat membantu transisi dari waktu bermain menuju waktu istirahat.
Di sisi lain, jadwal tidur yang terus berubah bisa membuat anak kesulitan mengenali kapan waktunya berhenti beraktivitas.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir