keboncinta.com- Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL) merupakan dua model pembelajaran yang sering digunakan guru untuk meningkatkan keaktifan peserta didik.
Keduanya sama-sama melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang menuntut kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, mencari informasi, dan menyampaikan hasil.
Namun, karena mempunyai singkatan yang hampir sama, sebagian guru masih kesulitan membedakan kapan sebaiknya menggunakan PBL dan kapan memilih PjBL.
Tidak jarang kegiatan diskusi pemecahan masalah disebut sebagai pembelajaran berbasis proyek, atau tugas membuat poster dianggap otomatis memenuhi seluruh karakteristik PjBL.
Padahal, masing-masing model mempunyai penekanan serta tahapan pembelajaran yang perlu dipahami agar penerapannya sesuai tujuan.
Berikut penjelasan mengenai perbedaan PBL dan PjBL, contoh kegiatan, serta panduan memilih model yang tepat untuk siswa SD dan SMP.
Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik awal untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan siswa.
Dalam PBL, peserta didik diajak memahami masalah, mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan, melakukan penyelidikan, dan menyusun alternatif penyelesaian.
Contohnya, guru mengajukan pertanyaan:
"Mengapa halaman sekolah sering tergenang air setelah hujan?"
Siswa kemudian mengamati kondisi lingkungan, mencari kemungkinan penyebab, dan mengusulkan solusi.
Hasil akhirnya dapat berupa penjelasan, laporan analisis, atau rekomendasi penyelesaian masalah.
Fokus utamanya adalah proses memahami dan memecahkan persoalan menggunakan pengetahuan yang dipelajari.
Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang menjadikan pengerjaan proyek sebagai inti kegiatan belajar.
Dalam PjBL, siswa terlibat dalam proses merencanakan, mengembangkan, menguji, dan mengevaluasi hasil proyek.
Misalnya, siswa membuat model sistem drainase sederhana untuk mempelajari aliran air dan penanganan genangan.
Mereka harus mempelajari konsep yang relevan, menentukan bahan, membuat rancangan, melakukan pengujian, dan memperbaiki model berdasarkan hasil percobaan.
Menurut PBLWorks, pembelajaran berbasis proyek menggunakan pertanyaan atau tantangan autentik untuk membantu siswa memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang berlangsung selama periode tertentu.
Dengan demikian, PjBL bukan sekadar membuat produk, tetapi melibatkan proses penyelidikan yang menjadi bagian utama pembelajaran.
Berikut perbandingan untuk membantu guru membedakan kedua model.
| Aspek | PBL | PjBL |
|---|---|---|
| Fokus utama | Penyelidikan dan pemecahan masalah | Proses pengembangan proyek |
| Titik awal | Masalah atau fenomena yang perlu dianalisis | Pertanyaan atau tantangan yang dikembangkan menjadi proyek |
| Aktivitas dominan | Analisis, diskusi, pengumpulan informasi, penyusunan solusi | Perencanaan, pengerjaan, pengujian, revisi, dan presentasi proyek |
| Hasil pembelajaran | Solusi, rekomendasi, analisis, atau bentuk hasil lainnya | Produk, karya, model, sistem, atau hasil proyek |
| Alokasi waktu | Bergantung pada kompleksitas masalah | Bergantung pada cakupan dan durasi proyek |
| Fokus penilaian | Kualitas penyelidikan, penalaran, dan solusi | Proses proyek, pemahaman konsep, serta kualitas hasil |
Perbedaan tersebut merupakan kecenderungan umum, bukan batas yang sepenuhnya kaku.
PBL dapat menghasilkan produk, sedangkan PjBL juga dapat berawal dari persoalan yang perlu dipecahkan.
Penjelasan mengenai irisan keduanya juga disampaikan dalam kajian PBLWorks tentang Project Based Learning dan Problem Based Learning.
Dalam salah satu sintaks yang umum digunakan, PBL mencakup:
Tahapan tersebut membantu siswa memahami persoalan secara sistematis sebelum menentukan penyelesaian.
Sementara PjBL umumnya dilaksanakan melalui enam tahap:
Pembagian enam tahap ini juga digunakan dalam panduan pembelajaran yang diterbitkan Kemendikdasmen.
Perlu diperhatikan bahwa variasi sintaks dapat ditemukan dalam literatur pendidikan. Guru sebaiknya menggunakan kerangka yang sesuai dengan tujuan dan dokumen pembelajaran sekolah.
Agar perbedaannya lebih mudah dipahami, kedua model dapat diterapkan pada topik yang sama, yaitu masalah sampah di sekolah.
Guru mengajukan pertanyaan:
"Mengapa sampah plastik terus menumpuk di lingkungan sekolah?"
Siswa kemudian melakukan pengamatan terhadap jenis sampah yang ditemukan.
Setiap kelompok mencari informasi tentang penyebab penumpukan, kebiasaan penggunaan plastik, dan fasilitas pembuangan sampah.
Setelah itu, mereka mendiskusikan solusi yang paling memungkinkan untuk diterapkan.
Hasil akhirnya dapat berupa laporan sederhana dan rekomendasi pengurangan sampah plastik.
Guru menilai ketepatan pengamatan, kualitas alasan, serta kelayakan solusi.
Dengan topik yang sama, guru dapat mengajukan tantangan:
"Bagaimana membuat sarana pemilahan sampah sederhana yang dapat digunakan siswa di sekolah?"
Setiap kelompok kemudian merancang tempat sampah terpilah menggunakan bahan yang aman.
Siswa menentukan kategori sampah, membuat label, menguji pemahaman pengguna, dan memperbaiki rancangan berdasarkan hasil pengamatan.
Produk akhirnya berupa sarana pemilahan sampah yang dapat digunakan atau diuji di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan ini, proses pembuatan dan pengujian proyek menjadi bagian utama pembelajaran.
PBL cocok digunakan ketika tujuan pembelajaran lebih menekankan kemampuan menganalisis masalah, menemukan penyebab, membandingkan informasi, atau menyusun solusi.
Contohnya:
Model ini juga dapat dipilih ketika guru ingin mengembangkan kemampuan penalaran melalui masalah yang belum mempunyai satu jawaban sederhana.
Namun, guru tetap harus mempertimbangkan kompleksitas masalah serta kesiapan siswa.
PjBL dapat dipilih ketika tujuan pembelajaran melibatkan proses menghasilkan dan menguji sebuah karya.
Contohnya:
Guru perlu menyiapkan waktu untuk perencanaan, pengerjaan, pengujian, dan refleksi.
Proyek yang terlalu rumit tidak selalu lebih baik. Proyek sederhana yang mempunyai tujuan pembelajaran jelas justru dapat lebih efektif.
Baca Juga: Belajar dengan Aksi: Praktik Melalui Proyek Nyata
Tidak harus.
PBL dapat menggunakan bacaan, gambar, pengamatan langsung, atau diskusi kelompok tanpa perangkat digital.
Begitu pula PjBL dapat dilaksanakan menggunakan bahan sederhana seperti kardus, botol bekas, kertas, dan alat tulis.
Teknologi dapat membantu mencari informasi dan mendokumentasikan hasil, tetapi bukan syarat utama kedua model.
Yang perlu diprioritaskan adalah hubungan antara aktivitas siswa dan tujuan pembelajaran.
Guru sebaiknya menentukan kriteria penilaian sebelum kegiatan dimulai.
Dalam PBL, penilaian dapat difokuskan pada ketepatan identifikasi masalah, penggunaan bukti, penalaran, dan kualitas solusi.
Sementara dalam PjBL, penilaian juga perlu memperhatikan perencanaan, proses pengerjaan, pengujian hasil, serta kemampuan memperbaiki proyek.
Pada kedua model, penilaian sebaiknya tidak hanya diberikan kepada kelompok secara keseluruhan.
Guru dapat menggunakan observasi, refleksi individu, serta pertanyaan singkat untuk mengetahui pemahaman masing-masing siswa.
Baca Juga: Peran Asesmen Formatif dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Kesalahan pertama adalah memilih model hanya karena sedang populer, bukan berdasarkan tujuan pembelajaran.
Kedua, menggunakan PjBL tetapi seluruh rancangan dan keputusan ditentukan guru.
Ketiga, menerapkan PBL tanpa memberikan kesempatan siswa melakukan penyelidikan.
Keempat, menilai hasil kelompok tanpa mengetahui kontribusi masing-masing siswa.
Kelima, menggunakan masalah atau proyek yang terlalu sulit sehingga siswa tidak mampu menyelesaikannya tanpa bantuan berlebihan.
Untuk menghindarinya, guru perlu mempertimbangkan materi, kemampuan siswa, fasilitas, dan waktu yang tersedia.
Tidak ada satu model yang selalu lebih baik untuk seluruh situasi.
PBL lebih tepat ketika guru ingin memusatkan pembelajaran pada proses menyelidiki dan menyelesaikan masalah.
PjBL lebih sesuai ketika pengerjaan sebuah proyek menjadi sarana utama untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
Bahkan, keduanya dapat saling melengkapi apabila guru merancang proses pembelajaran yang terarah.
Dengan memahami perbedaan PBL dan PjBL, guru dapat memilih strategi secara lebih tepat tanpa hanya mengikuti istilah atau tren pembelajaran.
Yang terpenting adalah memastikan kegiatan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir, melakukan penyelidikan, menerima umpan balik, dan menggunakan pengetahuan secara bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir