KebonCinta.com — Penguatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum dan fasilitas sekolah, tetapi juga pada kemampuan guru menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka program beasiswa nongelar bagi guru SD dan SMP di bidang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM).
Program bertajuk Microcredential Program on Innovative STEM Education for Sustainable Learning ini merupakan hasil kolaborasi Kemendikdasmen, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Hiroshima University, Jepang.
Pendaftaran dibuka secara daring hingga 25 Oktober 2026. Program ini menyediakan kuota bagi 30 pendidik, dengan rincian 15 guru SD dan 15 guru SMP.
Melalui pelatihan tersebut, guru diharapkan dapat mengembangkan pendekatan pembelajaran STEM yang lebih inovatif sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengembangkan pemikiran kritis, bekerja sama, dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan.
Baca Juga: Guru SD-SMP Wajib Tahu! Beasiswa STEM Kemendikdasmen Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
STEM merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa atau engineering, dan matematika.
Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghubungkan konsep yang dipelajari di kelas dengan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, pembelajaran tentang lingkungan dapat dikembangkan melalui kegiatan mengamati penggunaan air, menghitung kebutuhan air, merancang solusi sederhana untuk menghematnya, dan memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan hasil pengamatan.
Dengan pendekatan seperti ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep secara terpisah, tetapi juga berlatih menghubungkan pengetahuan dan menerapkannya untuk menyelesaikan masalah.
Baca Juga: Bahasa Inggris Wajib di MI Mulai 2027! Siswa Kelas 3 hingga 6 Bakal Hadapi Perubahan Besar Ini
Pembelajaran STEM juga dapat mendorong kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan mengevaluasi informasi. Keterampilan tersebut relevan untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan pada masa mendatang.
Namun, penerapan STEM tidak selalu membutuhkan peralatan berteknologi tinggi. Guru dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi sekolah, memanfaatkan bahan sederhana, dan mengembangkan proyek sesuai tingkat perkembangan siswa.
Program Microcredential Program on Innovative STEM Education for Sustainable Learning menjadi salah satu upaya untuk mendukung pengembangan profesional guru.
Melalui pelatihan teknis ini, pendidik diharapkan memperoleh wawasan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam merancang pembelajaran inovatif.
Keterampilan guru menjadi faktor penting karena pendekatan STEM memerlukan perencanaan kegiatan belajar yang mendorong siswa aktif bertanya, melakukan pengamatan, menguji gagasan, dan menyampaikan hasil pemikiran.
Guru juga perlu mampu menghubungkan berbagai disiplin ilmu tanpa menghilangkan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran.
Dengan dukungan pengembangan kompetensi, guru berpeluang memperkaya metode mengajar dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.
Meski demikian, manfaat program dalam jangka panjang akan bergantung pada bagaimana pengetahuan yang diperoleh diterapkan dan dibagikan kembali di lingkungan sekolah.
Kerja sama antara Kemendikdasmen, LPDP, dan Hiroshima University menunjukkan adanya kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Kemendikdasmen berperan dalam penyelenggaraan program di bidang pendidikan dasar dan menengah, sementara LPDP merupakan lembaga pengelola dana pendidikan yang mendukung berbagai program pengembangan sumber daya manusia. Hiroshima University menjadi mitra perguruan tinggi dalam program pelatihan tersebut.
Kolaborasi ini membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan kapasitas profesional melalui program pembelajaran yang dirancang secara khusus.
Namun, calon peserta tetap perlu memeriksa pengumuman resmi mengenai kurikulum pelatihan, mekanisme pelaksanaan, fasilitas yang ditanggung, dan ketentuan lainnya. Informasi tersebut penting untuk memastikan pemahaman yang tepat mengenai manfaat serta kewajiban penerima program.
Program ini menyasar 30 pendidik, terdiri atas 15 guru SD dan 15 guru SMP.
Jumlah kuota tersebut membuat calon peserta perlu mempersiapkan aplikasi secara cermat. Selain persyaratan administratif, pelamar juga perlu memenuhi ketentuan akademik dan kemampuan bahasa Inggris.
Persyaratan yang tercantum dalam referensi antara lain berstatus WNI, berusia paling tinggi 55 tahun per 31 Desember pada tahun pendaftaran, memiliki NUPTK, dan sehat jasmani serta rohani.
Pelamar juga harus berstatus pendidik ASN atau pendidik tetap yayasan, memiliki pengalaman mengajar minimal dua tahun berturut-turut di satuan pendidikan formal, serta mempunyai ijazah S-1/D-IV dengan IPK minimal 3,00 pada skala 4,00 atau setara.
Kemampuan bahasa Inggris perlu dibuktikan dengan sertifikat yang memenuhi skor minimal yang ditentukan, kecuali bagi kandidat yang memenuhi ketentuan pengecualian untuk lulusan perguruan tinggi luar negeri.
Persyaratan lengkap perlu dibaca melalui laman resmi program agar tidak terjadi kesalahan saat mengajukan aplikasi.
Meskipun memiliki potensi untuk memperkaya pengalaman belajar, penerapan STEM menghadapi sejumlah tantangan.
Pertama, guru perlu memahami cara mengintegrasikan beberapa bidang ilmu dalam kegiatan pembelajaran tanpa membuat materi menjadi terlalu rumit bagi siswa.
Kedua, sekolah memiliki kondisi fasilitas dan sumber daya yang berbeda. Karena itu, kegiatan STEM perlu dirancang secara fleksibel dan tidak hanya bergantung pada perangkat mahal.
Ketiga, penilaian pembelajaran perlu memperhatikan proses berpikir siswa, kemampuan bekerja sama, dan cara mereka mengembangkan solusi, selain hasil akhir tugas.
Pengembangan kompetensi guru menjadi salah satu langkah untuk menjawab tantangan tersebut. Namun, dukungan sekolah dan kesempatan menerapkan hasil pelatihan juga diperlukan agar perubahan metode pembelajaran dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Guru SD dan SMP yang ingin mengikuti program dapat mulai dengan memeriksa kesesuaian profil dan persyaratan.
Langkah berikutnya adalah menyiapkan dokumen, termasuk surat rekomendasi atasan, surat keterangan aktif bertugas, ijazah, transkrip nilai, sertifikat bahasa Inggris, dan personal statement berbahasa Inggris minimal 500 kata.
Pelamar dapat mengakses laman resmi pendaftaran pelatihan teknis Kemendikdasmen, kemudian memilih program Microcredential Program on Innovative STEM Education for Sustainable Learning dan mengikuti instruksi yang tersedia.
Pendaftaran dalam referensi dijadwalkan berakhir pada 25 Oktober 2026. Karena tenggat tersebut sudah dekat, calon peserta sebaiknya segera memeriksa persyaratan dan memastikan seluruh dokumen siap.
Beasiswa nongelar pembelajaran STEM bukan sekadar kesempatan mengikuti pelatihan, melainkan peluang untuk memperkuat kemampuan guru dalam merancang pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan inovatif.
Jika didukung penerapan di sekolah, keterampilan yang diperoleh guru dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Meski demikian, keberhasilan pendidikan STEM tidak cukup ditentukan oleh pelatihan sejumlah pendidik. Keberlanjutan pengembangan kompetensi, dukungan sekolah, dan kesesuaian metode dengan kebutuhan siswa tetap menjadi bagian penting.
Dengan memanfaatkan program secara optimal, guru dapat mengambil peran dalam mendorong pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menghadapi tantangan nyata.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir