Pendidikan
M. Panji Maulana

Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Penerapannya

Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Penerapannya

21 Oktober 2026 | 06:10

keboncinta.com- Pembelajaran mendalam atau Deep Learning menjadi salah satu pendekatan penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Melalui pendekatan ini, guru didorong menghadirkan proses belajar yang tidak hanya membuat siswa menghafal materi, tetapi juga memahami konsep, menerapkannya dalam kehidupan, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Meski demikian, masih terdapat kesalahpahaman mengenai penerapannya. Sebagian guru menganggap Deep Learning merupakan kurikulum baru, sementara yang lain mengira pendekatan tersebut mengharuskan penggunaan teknologi kecerdasan buatan.

Padahal, pembelajaran mendalam dapat diterapkan melalui kegiatan sederhana, bahkan tanpa perangkat digital.

Lantas, apa pengertian pembelajaran mendalam, bagaimana prinsip pelaksanaannya, dan seperti apa contoh penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar?

Apa Itu Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning?

Berdasarkan penjelasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan peserta didik dengan menciptakan pengalaman belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, serta olah raga secara holistik.

Artinya, pembelajaran tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pengembangan karakter, sikap, keterampilan, dan kemampuan sosial.

Deep Learning dalam pendidikan berbeda dengan istilah serupa pada bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Dalam konteks sekolah, istilah tersebut berkaitan dengan kedalaman proses belajar, bukan penggunaan sistem AI.

Apakah Deep Learning Menggantikan Kurikulum Merdeka?

Pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka.

Kemendikdasmen telah menegaskan bahwa Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 merupakan penyesuaian kebijakan kurikulum, bukan pergantian kurikulum nasional secara keseluruhan.

Selanjutnya, Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses memperkuat pengaturan pelaksanaan pembelajaran.

Dengan demikian, guru tetap menggunakan kurikulum dan capaian pembelajaran yang berlaku, kemudian merancang pengalaman belajar agar peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.

Baca Juga: Bukan Kurikulum Baru, Ini Arah Pembelajaran Mendalam 2026 yang Wajib Dipahami Guru

Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

Dalam pedoman Kemendikdasmen, pembelajaran mendalam memiliki tiga prinsip utama yang saling berkaitan.

1. Berkesadaran (Mindful Learning)

Pembelajaran berkesadaran mengajak siswa memahami tujuan, proses, dan manfaat kegiatan belajar.

Guru tidak sekadar meminta peserta didik menyelesaikan tugas, tetapi membantu mereka menyadari alasan mempelajari suatu materi.

Contohnya, sebelum mempelajari pengelolaan sampah, guru mengajak siswa mengamati kondisi kebersihan kelas dan mendiskusikan dampak sampah terhadap lingkungan.

2. Bermakna (Meaningful Learning)

Pembelajaran bermakna menghubungkan konsep pelajaran dengan pengalaman serta persoalan kehidupan nyata.

Misalnya, ketika mempelajari persentase dalam Matematika, siswa diminta menghitung diskon barang, perubahan harga, atau pengeluaran sederhana.

Dengan demikian, peserta didik memahami manfaat pengetahuan yang dipelajari.

3. Menggembirakan (Joyful Learning)

Pembelajaran menggembirakan menciptakan suasana aman, nyaman, menantang, dan mendorong keterlibatan siswa.

Menggembirakan tidak berarti setiap kegiatan harus berupa permainan.

Diskusi yang menarik, percobaan sederhana, keberhasilan menyelesaikan masalah, dan kesempatan menyampaikan pendapat juga dapat membuat belajar terasa menyenangkan.

Tiga Pengalaman Belajar: Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi

Pembelajaran mendalam memberikan kesempatan kepada siswa mengalami tiga proses penting.

Memahami: siswa membangun pemahaman terhadap konsep melalui penjelasan, pengamatan, membaca, atau diskusi.

Mengaplikasi: siswa menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan tugas maupun persoalan nyata.

Merefleksi: siswa meninjau kembali proses belajar, mengetahui kekuatan dan kelemahannya, kemudian merencanakan perbaikan.

Ketiganya dapat berlangsung secara berulang, tidak harus selalu menjadi kegiatan terpisah.

Contoh Penerapan Deep Learning di Kelas

Berikut contoh rancangan pembelajaran IPAS atau IPA bertema pengelolaan sampah.

Contoh ini dapat disesuaikan dengan jenjang, capaian pembelajaran, dan kondisi satuan pendidikan.

Materi: Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah

Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu menjelaskan dampak sampah, membedakan jenis sampah, dan mengusulkan solusi pengelolaan yang sesuai.

Alokasi Waktu: Dua jam pelajaran, disesuaikan jenjang.

Tahap 1: Memahami

Guru menunjukkan kondisi tempat sampah di sekolah atau menggunakan gambar sebagai bahan pengamatan.

Siswa kemudian menjawab pertanyaan:

  • Mengapa sampah perlu dipisahkan?
  • Apa dampaknya jika sampah menumpuk?
  • Mengapa plastik dan sisa makanan membutuhkan penanganan berbeda?

Guru membantu siswa membangun konsep melalui diskusi dan bahan bacaan.

Tahap 2: Mengaplikasi

Siswa dibagi menjadi kelompok kecil untuk mengamati jenis sampah di lingkungan kelas.

Setiap kelompok mencatat hasil pengamatan, mengelompokkan sampah, dan menyusun usulan perbaikan.

Contohnya, membuat rancangan pemilahan sampah atau poster panduan kebersihan kelas.

Guru memberikan pendampingan agar solusi yang disusun realistis dan dapat diterapkan.

Tahap 3: Merefleksi

Pada akhir kegiatan, siswa menjawab tiga pertanyaan:

  1. Pengetahuan baru apa yang saya peroleh?
  2. Kesulitan apa yang saya hadapi?
  3. Tindakan apa yang dapat saya lakukan untuk mengurangi sampah?

Guru menggunakan jawaban tersebut untuk mengetahui pemahaman siswa dan merencanakan pembelajaran berikutnya.

Bagaimana Cara Menilai Pembelajaran Mendalam?

Penilaian tidak harus dilakukan melalui ujian tertulis.

Guru dapat menggunakan pengamatan, pertanyaan lisan, hasil kerja kelompok, presentasi, serta refleksi individu.

Dalam contoh pengelolaan sampah, aspek yang dapat dinilai meliputi ketepatan pemahaman konsep, kemampuan memberikan alasan, kelayakan solusi, dan kemampuan mengevaluasi hasil kerja.

Kriteria penilaian sebaiknya disampaikan sejak awal.

Baca Juga: Cara Membuat Rubrik Penilaian Proyek Siswa Lengkap dengan Contoh Indikator

Hubungan Deep Learning dengan 8 Dimensi Profil Lulusan

Pembelajaran mendalam diarahkan untuk mendukung pencapaian delapan dimensi profil lulusan, yaitu:

  1. Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Kewargaan.
  3. Penalaran kritis.
  4. Kreativitas.
  5. Kolaborasi.
  6. Kemandirian.
  7. Kesehatan.
  8. Komunikasi.

Sebagai contoh, kegiatan pengelolaan sampah dapat mengembangkan penalaran kritis ketika siswa mengidentifikasi masalah, kolaborasi saat bekerja dalam kelompok, serta kewargaan melalui tanggung jawab menjaga lingkungan.

Guru tidak harus memaksakan seluruh dimensi muncul secara sama kuat dalam setiap pertemuan. Pilih dimensi yang paling relevan dengan tujuan dan kegiatan pembelajaran.

Tips Menerapkan Pembelajaran Mendalam

Penerapan pembelajaran mendalam tidak harus dimulai dengan proyek besar.

Guru dapat memulai dari pertanyaan pemantik yang menghubungkan materi dengan pengalaman siswa.

Selanjutnya, berikan kesempatan untuk berdiskusi, mencoba, membuat keputusan, dan menjelaskan alasan.

Gunakan sumber belajar yang tersedia, termasuk lingkungan sekolah, buku, benda konkret, maupun teknologi digital jika diperlukan.

Libatkan siswa dalam refleksi sederhana sebelum pembelajaran berakhir.

Yang terpenting, kegiatan harus tetap mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran, bukan hanya menghasilkan produk atau suasana kelas yang ramai.

Pembelajaran mendalam pada akhirnya menempatkan kualitas pemahaman sebagai bagian penting dari keberhasilan belajar.

Melalui prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, guru dapat membantu siswa tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi juga memahami alasan, menggunakan pengetahuan, dan memperbaiki cara belajarnya.

Sumber Rujukan Resmi:

  1. Kemendikdasmen — Pembelajaran Mendalam: https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/pembelajaran-mendalam
  2. Kemendikdasmen — Pedoman Pembelajaran Mendalam: https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/file/1755668120_manage_file.pdf
  3. JDIH Kemendikdasmen — Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses: https://jdih.kemendikdasmen.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/Salinan%20Permendikdasmen%201%202026%20Standar%20Proses%20%28JDIH%29.pdf
  4. Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan — Standar Nasional Pendidikan: https://pskp.kemendikdasmen.go.id/standar-nasional-pendidikan-a/standar-proses
Tags:
pembelajaran mendalam Deep Learning Pendidikan Kurikulum Merdeka Mindful Learning Meaningful Learning Joyful Learning 8 Dimensi Profil Lulusan Strategi Pembelajaran Metode Pembelajaran

Komentar Pengguna