Pendidikan
Rahman Abdullah

Pelajar Perlu Kenal AI Sejak Dini, Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Berpikir Kritis

Pelajar Perlu Kenal AI Sejak Dini, Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Berpikir Kritis

08 Oktober 2026 | 13:09

KebonCinta.com-- Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Teknologi seperti chatbot, mesin pencari berbasis AI, hingga berbagai aplikasi digital kini dapat membantu proses belajar. Namun, kemampuan menggunakan AI saja dinilai belum cukup. Pelajar juga perlu memahami risiko dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Science Film Festival 2026 di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026. Kegiatan yang digagas Goethe-Institut ini menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengenal perkembangan sains dan teknologi, termasuk AI.

AI Perlu Dipelajari dengan Sikap Kritis

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, mengatakan Science Film Festival sejalan dengan Program STEM Nasional “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta” yang dikembangkan Kemendikdasmen.

Menurutnya, film sains dan eksperimen yang ditampilkan dalam festival dapat memunculkan gagasan baru di kalangan pelajar. Mereka tidak hanya melihat informasi, tetapi juga didorong untuk bertanya, mencoba, dan mengembangkan ide yang diperoleh.

Baca Juga: Kemendikdasmen Dorong Hutan, Sungai hingga Pesisir Jadi Ruang Kelas Hidup untuk Siswa 

Pendekatan tersebut sesuai dengan pembelajaran STEM yang menghubungkan materi sekolah dengan persoalan nyata. Peserta didik didorong untuk menyelidiki suatu masalah, melakukan percobaan, kemudian merancang dan menguji solusi sebelum memperbaikinya.

Pembelajaran STEM di sekolah juga diarahkan melalui prinsip 5M, yakni mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful.

Maila mengajak para pelajar membawa rasa ingin tahu yang muncul selama festival kembali ke lingkungan sekolah. Pertanyaan yang mereka dapatkan dapat dibahas bersama teman maupun guru dan dikembangkan menjadi kegiatan belajar atau eksperimen sederhana.

Teknologi AI Membawa Manfaat dan Risiko

Direktur Goethe-Institut untuk kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, menyampaikan bahwa pengaruh AI kini semakin luas. Teknologi ini telah masuk ke berbagai bidang, mulai dari industri, ekonomi, pendidikan, hingga aktivitas sehari-hari.

Dalam dunia sains, AI juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung penelitian, perlindungan lingkungan, serta berbagai upaya menghadapi persoalan global.

Namun, perkembangan tersebut tidak lepas dari persoalan. Penggunaan data, transparansi sistem, keadilan, hingga kebutuhan energi dalam komputasi berskala besar menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pelajar tidak hanya diajak melihat AI sebagai teknologi yang memudahkan pekerjaan. Mereka juga perlu memikirkan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara etis dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jangan Mudah Percaya Informasi dari AI

Pesan mengenai pentingnya berpikir kritis juga disampaikan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste.

Menurutnya, AI memang dapat membantu manusia dalam belajar, berkomunikasi, bekerja, dan menjalankan berbagai aktivitas. Namun, teknologi tersebut juga memiliki kemungkinan menghasilkan informasi yang keliru atau dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi.

Pelajar karena itu perlu membiasakan diri memeriksa informasi yang diterima. Mereka harus mampu mempertanyakan apakah sebuah informasi benar-benar berasal dari fakta, merupakan hasil rekayasa, atau sengaja dibuat untuk memengaruhi seseorang.

Sikap kritis menjadi semakin penting ketika AI semakin mudah digunakan dan menghasilkan konten dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kemendikdasmen Perkuat Integritas Pendidikan, Budaya Antikorupsi Dimulai dari Sekolah 

Science Film Festival Jangkau 70 Kabupaten/Kota

Science Film Festival 2026 merupakan penyelenggaraan ke-17 di Indonesia. Festival berlangsung secara hybrid mulai 6 Oktober hingga 14 November 2026.

Kegiatan tersebut menyasar pelajar dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di 70 kabupaten/kota. Sebanyak 20 film sains dari tujuh negara turut ditampilkan, dilengkapi eksperimen yang dirancang agar pembelajaran sains terasa lebih menarik.

Salah satu peserta, Tubagus Muhammad Nazril Ardari dari SMA Negeri 3 Pandeglang, mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai AI setelah mengikuti festival. Ia antara lain mengetahui lebih jauh mengenai cara kerja ChatGPT serta manfaat dan potensi risikonya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengenalan AI kepada pelajar tidak cukup berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian mencoba, dan kemampuan menilai informasi.

Dengan bekal tersebut, pelajar diharapkan tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.***

Tags:
AI Pelajar STEM

Komentar Pengguna