KebonCinta.com - Seorang murid bisa mengingat jawaban dari buku pelajaran, tetapi belum tentu mampu menjelaskan alasan di baliknya. Ketika pertanyaan diubah atau persoalan disajikan dalam situasi berbeda, ia perlu memahami hubungan antarinformasi untuk menemukan jawaban.
Di sinilah penalaran kritis perlu mendapat ruang dalam pembelajaran. Murid diajak memeriksa informasi, mempertimbangkan bukti, dan menjelaskan dasar pemikirannya sebelum menarik kesimpulan.
Penalaran kritis termasuk dalam delapan dimensi profil lulusan yang ditetapkan melalui Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Dengan demikian, kemampuan ini menjadi bagian dari arah kompetensi yang perlu dikembangkan selama pendidikan.
Menghafal dapat membantu murid mengingat istilah, rumus, atau fakta. Namun, pembelajaran juga perlu memberi kesempatan untuk memahami kapan pengetahuan tersebut digunakan dan mengapa suatu jawaban masuk akal.
Baca Juga: Apa Itu Asesmen Diagnostik? Pengertian, Tujuan, dan Contoh Penerapannya di Sekolah
Misalnya, setelah murid menjawab sebuah pertanyaan, guru dapat melanjutkan dengan, “Informasi apa yang mendukung jawabanmu?” atau “Bagaimana kamu sampai pada kesimpulan itu?”
Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi murid untuk menunjukkan proses berpikirnya. Guru pun dapat melihat bagian yang sudah dipahami dan bagian yang masih membutuhkan penjelasan.
Informasi yang diterima murid dapat berasal dari buku, percakapan, maupun media digital. Dalam kegiatan belajar, mereka dapat diajak memeriksa sumber dan dasar sebuah pernyataan.
Sebagai contoh, guru memberikan dua bacaan pendek tentang persoalan yang sama. Murid kemudian diminta mencari persamaan, perbedaan, serta bukti yang digunakan masing-masing bacaan.
Fokus kegiatan ini adalah menelaah isi informasi. Jika menemukan perbedaan, murid perlu menjelaskan letak perbedaannya sebelum menentukan kesimpulan.
Baca Juga: Cara Membuat Surat Izin Tidak Masuk Sekolah yang Benar, Lengkap dengan Contohnya
Pertanyaan terbuka memberi murid kesempatan menyusun jawaban disertai alasan. Guru dapat menggunakan persoalan yang dekat dengan kehidupan sekolah agar pembahasannya mudah diikuti.
Misalnya, “Bagaimana cara mengurangi sampah di kelas?” Murid dapat mengusulkan beberapa langkah, lalu mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, dan kesulitan pelaksanaannya.
Guru dapat membantu memperdalam pembahasan dengan bertanya, “Apakah cara itu bisa dilakukan setiap hari?” atau “Apa yang perlu disiapkan?”
Contoh tersebut merupakan pilihan kegiatan pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan usia, materi, dan kemampuan murid.
Latihan penalaran kritis juga dapat dilakukan dengan mengajak murid memeriksa kembali jawabannya setelah memperoleh informasi tambahan.
Baca Juga: Siap Menghadapi Perubahan Zaman, Kompetensi Apa yang Perlu Dimiliki Lulusan Sekolah?
Murid mungkin menemukan bukti yang memperkuat pendapat awal atau justru membuatnya perlu mengubah kesimpulan. Guru dapat meminta mereka menjelaskan informasi apa yang memengaruhi perubahan tersebut.
Dalam proses ini, pendapat murid perlu ditanggapi dengan pertanyaan dan masukan yang jelas. Perhatian diberikan pada alasan yang disampaikan, sehingga diskusi tetap terarah pada persoalan yang dibahas.
Penalaran kritis perlu dilatih melalui kesempatan berpikir yang hadir secara rutin dalam pembelajaran. Dengan bertanya, memeriksa bukti, dan menjelaskan alasan, murid belajar menggunakan pengetahuannya untuk memahami persoalan secara lebih cermat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir