keboncinta.com- Mengajak seluruh siswa aktif berdiskusi merupakan salah satu tantangan yang sering dihadapi guru. Ketika pertanyaan diajukan, biasanya hanya beberapa siswa yang berani mengangkat tangan, sementara sebagian lainnya memilih diam.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti siswa tidak memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu untuk berpikir, merasa ragu terhadap jawabannya, atau belum percaya diri berbicara di depan kelas.
Salah satu strategi yang dapat digunakan guru adalah metode Think Pair Share (TPS), yaitu pembelajaran yang memberi kesempatan siswa berpikir sendiri, berdiskusi berpasangan, kemudian membagikan hasil pemikirannya.
Metode ini dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran tanpa membutuhkan alat khusus.
Berikut pengertian, tiga langkah penerapan Think Pair Share, contoh kegiatan untuk siswa SD dan SMP, serta cara menilainya.
Think Pair Share adalah strategi pembelajaran kooperatif yang melibatkan peserta didik dalam tiga tahapan utama: Think (berpikir), Pair (berpasangan), dan Share (berbagi).
Melalui metode ini, siswa tidak langsung diminta menjawab pertanyaan di hadapan seluruh kelas.
Guru terlebih dahulu memberikan waktu untuk menyusun jawaban secara mandiri.
Setelah itu, siswa mendiskusikan jawabannya bersama seorang teman sebelum berbagi dengan kelompok yang lebih besar.
Menurut Harvard University melalui Derek Bok Center for Teaching and Learning, strategi ini memberikan kesempatan kepada lebih banyak peserta didik untuk terlibat aktif, bukan hanya siswa yang biasanya bersedia menjawab secara sukarela.
Dengan demikian, Think Pair Share dapat digunakan untuk mengembangkan partisipasi, kemampuan bernalar, dan keterampilan komunikasi siswa.
Guru memberikan pertanyaan atau persoalan yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.
Setiap siswa memperoleh kesempatan memikirkan jawaban secara individual.
Contohnya, guru bertanya:
"Mengapa sekolah perlu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai?"
Siswa diberi waktu sekitar satu sampai dua menit untuk menuliskan jawabannya.
Selama tahap ini, guru sebaiknya tidak langsung meminta siswa saling berdiskusi.
Tujuannya agar setiap peserta mempunyai gagasan awal sebelum mendengar pendapat teman.
Setelah tahap berpikir mandiri selesai, siswa diminta berpasangan.
Setiap peserta menyampaikan gagasannya secara bergiliran.
Misalnya, siswa pertama menjelaskan bahwa sampah plastik sulit terurai. Pasangannya menambahkan bahwa penggunaan wadah minum sendiri dapat mengurangi sampah.
Kedua siswa kemudian menyusun jawaban yang lebih lengkap.
Menurut University of California Berkeley, tahap diskusi berpasangan dapat berlangsung sekitar dua sampai tiga menit, bergantung pada kompleksitas pertanyaan.
Guru perlu memastikan kedua siswa memperoleh kesempatan berbicara, bukan hanya salah satu pihak.
Pada tahap terakhir, pasangan menyampaikan hasil pembicaraan kepada kelas.
Guru dapat memilih beberapa pasangan secara bergiliran atau menggunakan cara berbagi yang memungkinkan lebih banyak siswa terlibat.
Pasangan lain dipersilakan menambahkan informasi, memberikan alasan berbeda, atau mengajukan pertanyaan.
Setelah itu, guru menyimpulkan pembahasan dan meluruskan pemahaman yang kurang tepat.
Tahap Share tidak harus selalu berupa presentasi panjang. Jawaban singkat, papan tulis, atau catatan hasil diskusi juga dapat digunakan.
Baca Juga: Kelemahan Belajar Kelompok dan Cara Mengatasinya
Mata pelajaran: IPAS
Kelas: V SD
Materi: Menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Tujuan pembelajaran: Siswa mampu mengidentifikasi penyebab sampah plastik dan mengusulkan tindakan sederhana untuk menguranginya.
Guru mengawali kegiatan dengan menampilkan gambar halaman sekolah yang dipenuhi sampah.
Kemudian, guru mengajukan pertanyaan:
"Apa dua cara yang paling mungkin dilakukan siswa untuk mengurangi sampah plastik di sekolah?"
Pada tahap Think, setiap siswa menuliskan dua gagasan beserta alasannya.
Pada tahap Pair, siswa membandingkan jawaban dengan pasangan dan memilih dua tindakan yang paling realistis.
Pada tahap Share, beberapa pasangan menyampaikan hasilnya.
Guru bersama siswa kemudian membahas kelebihan dan kendala dari setiap usulan.
Di akhir kegiatan, siswa menuliskan satu kebiasaan yang bersedia mereka praktikkan untuk mengurangi sampah plastik.
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Kelas: VII SMP
Materi: Membedakan kalimat fakta dan opini.
Tujuan pembelajaran: Siswa mampu mengidentifikasi fakta dan opini serta menjelaskan alasannya.
Guru menampilkan dua kalimat:
Kalimat A: "Perpustakaan sekolah dibuka setiap pukul 08.00."
Kalimat B: "Perpustakaan sekolah adalah tempat belajar yang paling menyenangkan."
Pada tahap Think, siswa menentukan jenis kedua kalimat dan menuliskan alasannya.
Pada tahap Pair, siswa saling memeriksa jawaban serta membahas apakah informasi tersebut dapat diverifikasi.
Pada tahap Share, pasangan mempresentasikan kesimpulan.
Guru memberikan penguatan bahwa kalimat A merupakan klaim yang dapat diperiksa kebenarannya berdasarkan jadwal perpustakaan, sedangkan kalimat B mengandung penilaian subjektif.
Kegiatan dapat dilanjutkan dengan meminta siswa menyusun contoh kalimat fakta dan opini dari lingkungan sekolah.
Berikut rancangan sederhana untuk satu aktivitas selama 15 menit.
| Tahapan | Kegiatan | Waktu |
|---|---|---|
| Pembukaan | Guru menyampaikan pertanyaan | 2 menit |
| Think | Siswa berpikir mandiri | 2 menit |
| Pair | Diskusi berpasangan | 4 menit |
| Share | Berbagi hasil diskusi | 5 menit |
| Penutup | Penguatan dan refleksi | 2 menit |
| Total | 15 menit |
Durasi tersebut dapat disesuaikan dengan usia siswa, kesulitan materi, dan jumlah peserta.
Salah satu keunggulan TPS adalah memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menyiapkan jawaban sebelum berbicara.
Siswa yang kurang percaya diri dapat berlatih menyampaikan pendapat kepada satu teman terlebih dahulu.
Metode ini juga membantu guru memperhatikan keterlibatan individual dalam pembelajaran kelompok.
Selain itu, diskusi berpasangan dapat digunakan untuk melatih kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, serta memperbaiki pemahaman berdasarkan masukan teman.
Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Guru tetap harus merancang pertanyaan yang sesuai dan mengelola diskusi dengan baik.
Kesalahan pertama adalah melewati tahap Think sehingga siswa langsung berdiskusi tanpa mempunyai jawaban awal.
Kedua, membiarkan satu siswa mendominasi pembicaraan.
Ketiga, menggunakan pertanyaan yang terlalu sederhana sehingga tidak membutuhkan diskusi.
Keempat, memilih pasangan yang sama untuk selalu berbicara di depan kelas.
Kelima, mengakhiri kegiatan tanpa memberikan penguatan atau memeriksa pemahaman siswa.
Untuk menghindarinya, guru dapat menggunakan lembar jawaban individual dan mengatur giliran berbicara.
Baca Juga: Bukan Karena Sudah Paham! Ini Penyebab Siswa Jarang Bertanya Saat Pelajaran Berlangsung
Guru dapat menggunakan asesmen formatif sederhana.
Beberapa aspek yang dapat diperhatikan meliputi ketepatan jawaban awal, kemampuan menjelaskan alasan, kesediaan mendengarkan pasangan, dan pemahaman setelah diskusi.
Sebagai contoh, guru meminta setiap siswa mengumpulkan jawaban awal dan kesimpulan akhir.
Perbandingan keduanya dapat menunjukkan perubahan pemahaman setelah berdiskusi.
Penilaian tidak harus selalu berupa angka. Catatan observasi serta umpan balik singkat juga dapat digunakan untuk membantu perkembangan siswa.
Think Pair Share cukup fleksibel untuk digunakan dalam berbagai mata pelajaran.
Namun, metode ini paling bermanfaat ketika pertanyaan memberikan ruang untuk menjelaskan alasan, membandingkan gagasan, atau memecahkan masalah.
Untuk keterampilan yang membutuhkan demonstrasi langsung, percobaan, atau latihan praktik panjang, TPS dapat digunakan sebagai kegiatan pendahuluan maupun refleksi.
Guru perlu memilih strategi berdasarkan tujuan pembelajaran, bukan semata-mata agar siswa terlihat aktif.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir