keboncinta.com- Manaqiban merupakan tradisi membaca atau menyimak riwayat hidup dan keteladanan tokoh saleh yang masih dijalankan di sejumlah lingkungan Nahdliyin. Salah satu yang paling dikenal adalah pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani, ulama yang memiliki tempat penting dalam sejarah tasawuf.
Bagi sebagian masyarakat, kegiatan manaqiban menjadi kesempatan berkumpul, berdoa, mempererat silaturahmi, dan mengambil pelajaran dari kisah ulama. Meski demikian, cara penyelenggaraannya tidak selalu sama antara satu daerah, pesantren, dan kelompok pengajian.
Kata manaqib mengacu pada kisah keutamaan, perjalanan hidup, atau karakter terpuji seseorang. Sementara istilah manaqiban dalam penggunaan masyarakat Indonesia biasanya menunjuk kegiatan pembacaan kisah tersebut secara bersama atau dipimpin seorang pembaca.
Tradisi ini bukan sekadar menyebut nama tokoh. Isi manaqib dapat mengisahkan keilmuan, sikap, pengabdian, kesabaran, dan teladan akhlak.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani dikenal sebagai tokoh keilmuan dan tasawuf yang kisah hidupnya banyak dipelajari. Dalam tradisi tertentu, manaqib beliau dibacakan untuk mengingat perjuangan spiritual serta keteladanan dalam beribadah dan berakhlak.
Pembacaan manaqib tidak boleh dipahami sebagai pemindahan hak ketuhanan kepada seorang wali. Doa dan permohonan tetap ditujukan kepada Allah. Sikap menghormati ulama dan mengambil pelajaran dari sejarahnya perlu ditempatkan dalam batas-batas akidah yang diajarkan.
Susunan acara tidak tunggal dan tidak berlaku wajib bagi semua kelompok. Sebagai gambaran, satu majelis dapat memulai kegiatan dengan salam atau pembukaan, membaca ayat Al-Qur'an, melantunkan selawat, mengirim doa, kemudian membaca bagian manaqib secara bergiliran atau dipimpin seorang ustaz.
Setelah pembacaan, pengasuh dapat memberikan penjelasan singkat mengenai teladan yang perlu dipraktikkan. Acara lalu diakhiri dengan doa bersama dan silaturahmi. Di beberapa tempat, pembacaan dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan tradisi lokal, tetapi hal itu tidak boleh dipahami sebagai jadwal ibadah wajib bagi seluruh Muslim.
Baca Juga: Pesantren dan Perannya dalam Perjalanan Sejarah Indonesia
Kitab yang dipakai dapat berbeda menurut tradisi pengajian. Contohnya penggunaan manaqib An-Nur al-Burhani dan Jawahir al-Ma'ani.
Karena terdapat variasi, pembaca sebaiknya menggunakan naskah yang diketahui asalnya dan dibimbing oleh pengajar yang memahami kandungannya. Kisah luar biasa atau karamah dalam literatur manaqib juga perlu dipahami sesuai konteks tradisi penulisannya, tidak diperlakukan sebagai informasi sejarah modern yang semuanya telah diverifikasi dengan cara yang sama.
Pertama, niatkan kehadiran untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah. Kedua, hormati pembaca dan peserta lain dengan menjaga ketertiban. Ketiga, hindari menjadikan acara sebagai ajang persaingan sosial melalui konsumsi atau biaya yang memberatkan tuan rumah.
Keempat, dengarkan pelajaran dari riwayat ulama, bukan hanya mengejar selesainya bacaan. Kelima, jangan memaksakan tradisi ini kepada orang yang tidak mengikutinya. Perbedaan praktik keagamaan sebaiknya dibicarakan dengan ilmu dan adab.
Pembacaan riwayat orang saleh dipandang dapat menjadi sarana mengambil teladan yang baik. Namun, perbedaan pendapat tentang bentuk-bentuk amalan masyarakat harus tetap diakui.
Artinya, pembaca tidak perlu menempatkan manaqiban sebagai pengganti ibadah wajib, dan tidak perlu menyebut siapa pun yang tidak mengikuti tradisi tersebut sebagai kurang beragama.
Baca Juga: Pedoman Hari Santri 2026 PBNU, Ada Aksi Solidaritas untuk Palestina
Pesantren atau majelis taklim dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk mengajarkan sejarah tokoh, adab kepada guru, kepedulian sosial, serta disiplin belajar. Ustaz bisa memilih satu kisah yang memiliki pesan jelas, lalu mengajak peserta menjawab apa yang dapat diterapkan di rumah atau lingkungan sekitar.
Dengan demikian, pembacaan manaqib memperoleh ruang sebagai tradisi literasi keislaman dan pembelajaran karakter, bukan sekadar rutinitas yang diikuti tanpa memahami bacaan maupun pesannya. Pengelola kegiatan juga dapat menyediakan terjemahan singkat atau sesi tanya jawab bagi peserta yang belum memahami bahasa Arab dalam naskah.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir