keboncinta.com – Membicarakan sejarah sastra Indonesia tidak akan pernah utuh tanpa menempatkan novel Salah Asuhan karya Abdul Muis di posisi yang terhormat. Diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahun 1928, novel ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan fiksi pengisi waktu luang, melainkan sebagai sebuah cermin besar yang memantulkan realitas sosial masyarakat kolonial pada masanya. Abdul Muis dengan sangat berani mengangkat tema perbenturan budaya Timur dan Barat, sebuah isu sensitif yang pada saat itu tengah meresahkan kaum bumiputera yang mulai bersentuhan dengan pendidikan Eropa. Melalui karya ini, kita diajak menyelami bagaimana sebuah karya sastra mampu menjadi alat kritik yang tajam sekaligus bahan perenungan yang abadi mengenai pentingnya menjaga akar identitas kebudayaan di tengah arus modernisasi.
Kritik utama yang dilontarkan Abdul Muis dalam novel ini berpusat pada fenomena alienasi budaya dan kebanggaan semu terhadap bangsa penjajah. Hal ini tergambar dengan sangat tragis melalui tokoh utama, Hanafi. Karena mendapatkan pendidikan Barat dan bergaul erat dengan orang-orang Belanda, Hanafi merasa dirinya lebih superior dibandingkan kaum sebangsanya sendiri. Contoh paling nyata dari kritik ini adalah ketika Hanafi menuntut hak persamaan status hukum dengan orang Eropa (Gelijkgesteld) dan secara arogan merendahkan adat istiadat Minangkabau yang membesarkannya. Ia mencampakkan Rapiah, perempuan berhati mulia pilihan ibunya yang merepresentasikan keluhuran budaya lokal, demi mengejar cinta Corrie du Busse, seorang gadis Indo-Eropa. Namun, pernikahan lintas budaya yang dipaksakan tanpa pijakan kesetaraan dan keikhlasan tersebut pada akhirnya hanya membawa Hanafi pada jurang kehancuran, penolakan dari komunitas Eropa, dan kehilangan jati dirinya secara menyedihkan.
Pesan moral dan kritik sosial dari kehancuran Hanafi ini nyatanya masih sangat relevan untuk terus dihidupkan pada masa kini. Bagi kita yang mendedikasikan diri di dunia literasi dan pendidikan, entah itu saat berdiri mendampingi para siswa dalam kegiatan pembelajarannya atau ketika duduk berdiskusi mengulas naskah fiksi bersama teman sejawat sesama penulis, Salah Asuhan memberikan pengingat yang keras. Novel ini mengajarkan bahwa kemajuan intelektual dan wawasan global tidak seharusnya membuat kita tercerabut dari akar budaya sendiri. Kita bebas menyerap ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dari mana pun, tetapi fondasi moral dan identitas kultural harus tetap dipertahankan sebagai napas utama dalam setiap karya dan langkah kehidupan.
Membaca dan mengenal kembali Salah Asuhan sesungguhnya adalah sebuah perjalanan untuk menemukan kembali makna keindonesiaan kita. Abdul Muis telah mewariskan sebuah inspirasi bahwa tulisan yang hebat adalah tulisan yang berani menyuarakan kegelisahan zamannya tanpa kehilangan kelembutan budi pekerti. Karya ini menantang kita untuk terus melahirkan pemikiran-pemikiran kritis yang membangun, merawat warisan literasi bangsa, dan memastikan bahwa generasi masa depan tidak lagi tersesat dalam asuhan nilai-nilai yang menggerus kebanggaan mereka sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Baca Juga: Merari Siregar dan Awal Perkembangan Novel Modern Indonesia
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir