Pendidikan
Hilmi An Naufal

Mendikdasmen: Keteladanan Guru Jadi Kunci Membangun Sekolah Aman dan Nyaman

Mendikdasmen: Keteladanan Guru Jadi Kunci Membangun Sekolah Aman dan Nyaman

06 Oktober 2026 | 09:19

KebonCinta.com — Guru dinilai mempunyai peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan pelajaran di ruang kelas.

Keteladanan guru juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, saling menghargai dan mampu menerima keberagaman.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti dalam webinar internasional yang digelar Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen bersama Institut Leimena.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Guru Sedunia sekaligus Hari Guru Nasional.

“Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu'ti.

Menurutnya, guru merupakan agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban.

Artinya, perilaku seorang pendidik dapat menjadi contoh langsung bagi murid dalam membangun cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain.

Sekolah juga harus menjadi tempat murid belajar menghadapi perbedaan.

Perbedaan agama, budaya, latar belakang maupun pandangan tidak semestinya berubah menjadi alasan untuk saling menjauh.

“Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah,” kata Abdul Mu'ti.

Ia kemudian menjelaskan bahwa keberagaman justru dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar bekerja sama.

Konsep sekolah aman dan nyaman juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi gedung.

Kemendikdasmen melihat keamanan sekolah dari dimensi fisik, sosial, spiritual hingga digital.

Ruang digital menjadi perhatian karena kehidupan siswa kini tidak berhenti ketika jam sekolah berakhir.

Interaksi melalui media sosial, grup percakapan maupun platform digital dapat ikut memengaruhi kondisi psikologis dan hubungan antarsiswa.

Karena itu, keluarga dan masyarakat juga perlu terlibat.

Kemendikdasmen telah memperkuat kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Pendekatannya menekankan pencegahan serta keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan.

Murid bahkan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima program.

Mereka didorong ikut menjaga lingkungan sekolah dan membantu teman yang membutuhkan dukungan.

Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, siswa diperkenalkan pada prinsip melihat, mendengarkan dan menghubungkan teman kepada bantuan yang tepat.

Kepala Puspeka Rusprita Putri Utami mengatakan budaya positif tidak akan terbentuk hanya karena adanya aturan tertulis.

“Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari,” ujarnya.

Perkembangan kecerdasan buatan juga menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan.

AI dapat membantu guru merancang pembelajaran, tetapi hubungan manusia antara guru dan murid tetap tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh teknologi.

Guru mampu mengenali perubahan perilaku murid, memahami kesulitan yang belum disampaikan dan memberikan pendampingan secara langsung.

Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan tetap membutuhkan pendidik yang memiliki kemampuan akademik sekaligus keteladanan.

Sekolah yang aman pada akhirnya tidak cukup dibangun menggunakan pagar, kamera maupun peraturan.

Lingkungan belajar yang sehat juga tumbuh ketika guru, siswa, orang tua dan masyarakat membangun kebiasaan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Tags:
Guru Mendikdasmen Abdul Mu'ti Sekolah Aman pendidikan Siswa kemendikdasmen Karakter

Komentar Pengguna