KebonCinta.com — Keterampilan jurnalistik dan literasi media dinilai semakin penting untuk dikenalkan kepada siswa sejak berada di bangku sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mendorong penguatan pendidikan jurnalistik agar siswa memiliki kemampuan menulis, berpikir kritis dan memahami informasi secara lebih baik.
Gagasan tersebut disampaikan ketika Abdul Mu'ti mengunjungi Kantor Persatuan Wartawan Indonesia Pusat di Gedung Dewan Pers, Jakarta.
“Jurnalistik tidak sekadar mengabarkan, tetapi juga mencerahkan, mendidik, serta menjadi ruang belajar menulis bagi siswa,” ujar Abdul Mu'ti.
Ia menilai siswa perlu mendapatkan pilihan profesi dan pengalaman belajar yang semakin beragam. Jurnalistik dapat menjadi salah satu kegiatan yang memperkuat kemampuan komunikasi.
Menulis berita membuat siswa belajar mengumpulkan fakta sebelum menyampaikan sebuah informasi. Mereka juga harus membedakan antara fakta, pendapat dan informasi yang belum terverifikasi.
Kemampuan tersebut semakin relevan di tengah penggunaan media sosial yang sangat tinggi di kalangan remaja. Informasi kini dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa selalu melalui proses pemeriksaan.
Literasi media membantu siswa mempertanyakan asal sebuah informasi. Mereka dapat belajar memeriksa sumber, memahami konteks dan tidak langsung menyebarkan kabar yang belum jelas.
Abdul Mu'ti juga membagikan pengalamannya menulis sejak masih sekolah. Aktivitas tersebut kemudian berlanjut ketika dirinya aktif di pers mahasiswa.
Baca Juga: Cari Bakso Enak di Ciwaringin? HUBASO Hadir dengan Bakso Daging Sapi Grade A
Menurutnya, kebiasaan menulis membantu mengasah kemampuan berpikir secara terstruktur. Seseorang juga belajar menyampaikan gagasan menggunakan bahasa yang lebih jelas.
PWI menyambut positif gagasan penguatan jurnalistik di sekolah. Organisasi wartawan tersebut melihat peluang untuk kembali mengembangkan pelatihan literasi media bagi siswa.
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir berharap kolaborasi tersebut dapat membuka jalan agar wartawan ikut membantu kegiatan literasi di sekolah.
Pendidikan jurnalistik tidak harus berarti setiap siswa diarahkan menjadi wartawan. Keterampilan dasarnya tetap dapat digunakan dalam berbagai profesi.
Kemampuan bertanya, melakukan wawancara, menulis dan memeriksa fakta dibutuhkan dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan.
Kegiatan jurnalistik sekolah juga dapat dikembangkan melalui majalah siswa, website sekolah, podcast, video berita maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Guru dapat menjadi pendamping agar siswa memahami prinsip akurasi, etika dan tanggung jawab ketika mempublikasikan informasi.
Penguatan literasi media diharapkan membantu generasi muda menghadapi disinformasi dan konten manipulatif. Tantangan tersebut semakin besar dengan berkembangnya kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan teks, suara maupun gambar secara cepat.
Sekolah karena itu tidak hanya perlu mengajarkan cara menggunakan teknologi. Siswa juga perlu dibekali kemampuan menilai apakah sebuah informasi layak dipercaya atau harus diperiksa kembali.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir