Pendidikan
Hilmi An Naufal

Membanggakan! Yayasan Guru Belajar Raih UNESCO-Hamdan Prize, Programnya Sudah Jangkau 61.717 Guru

Membanggakan! Yayasan Guru Belajar Raih UNESCO-Hamdan Prize, Programnya Sudah Jangkau 61.717 Guru

09 Oktober 2026 | 09:46

KebonCinta.com — Program pengembangan guru dari Indonesia mendapatkan pengakuan internasional setelah Yayasan Guru Belajar meraih UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2025–2026.

Penghargaan diberikan melalui program Collective Teacher Leadership Development Programme.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis dalam rangkaian Hari Guru Sedunia.

Yayasan Guru Belajar menjadi satu dari tiga penerima penghargaan dunia tersebut.

Dua penerima lainnya berasal dari Türkiye dan Ethiopia.

“Selamat kepada Yayasan Guru Belajar dan terutama kepada para guru serta komunitas yang menjadi jantung gerakan ini,” ujar Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO I.G.A.K. Satrya Wibawa.

Ia menilai pencapaian tersebut menunjukkan praktik pengembangan pendidikan dari Indonesia mampu memberikan kontribusi di tingkat global.

Program yang mendapat penghargaan mulai dikembangkan sejak 2021.

Pendekatannya menempatkan guru bukan sekadar sebagai pelaksana instruksi dari atas.

Guru didorong menjadi pengambil keputusan dan pemimpin dalam proses perubahan pendidikan.

Program juga mengembangkan kerja sama antara guru, murid dan komunitas pendidikan.

Sampai saat ini, program tersebut disebut telah menjangkau 61.717 guru di 91 kabupaten dan kota.

Jumlah tersebut menunjukkan pengembangan profesi guru dapat dilakukan melalui jejaring dan kolaborasi antarpengajar.

Program menggunakan berbagai pendekatan.

Di antaranya pembelajaran digital, pendampingan antarguru, refleksi dan kolaborasi lintas sektor.

Guru diberi ruang untuk saling membagikan praktik pembelajaran yang telah dilakukan di sekolah masing-masing.

Pengalaman dari satu daerah kemudian dapat menjadi bahan belajar bagi pendidik di daerah lain.

Program Development Specialist Yayasan Guru Belajar Muhammad Luqman Hakim mengatakan perubahan cara pandang terhadap posisi guru menjadi salah satu tantangan.

Baca Juga: Ramai Isu Gaji PNS Dibayar Lewat Koperasi, Kemenkop Tegaskan Belum Ada Keputusan Resmi 

“Ketika guru diajak menjadi pengambil keputusan, itu butuh waktu dan rasa aman untuk mencoba,” ujarnya.

Menurutnya, guru selama ini sering ditempatkan hanya sebagai pelaksana kebijakan.

Padahal pendidik berhadapan langsung dengan kebutuhan murid setiap hari.

UNESCO-Hamdan Prize menyediakan total hibah 300 ribu dolar AS untuk tiga penerima.

Masing-masing penerima memperoleh 100 ribu dolar AS untuk membantu pengembangan program berikutnya.

Yayasan Guru Belajar berencana menggunakan dukungan tersebut untuk memperkuat komunitas guru terutama di daerah terpencil.

Pemanfaatan teknologi juga akan diperluas.

Selain itu, program akan meningkatkan pengukuran dampak perubahan terhadap kualitas pembelajaran murid.

Penghargaan tersebut hadir dalam momentum khusus karena 2026 menandai 60 tahun Rekomendasi ILO/UNESCO tentang Status Guru tahun 1966.

Pengakuan internasional ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal.

Kolaborasi, keberanian guru mencoba pendekatan baru dan kemauan belajar bersama juga dapat menghasilkan perubahan besar.

Dari puluhan ribu guru yang telah terlibat, dampaknya diharapkan terus mengalir kepada lebih banyak siswa dan sekolah di berbagai daerah Indonesia.

Tags:
Guru Indonesia UNESCO Yayasan Guru Belajar pendidikan Guru UNESCO-Hamdan Prize Inspirasi

Komentar Pengguna