KebonCinta.com-- Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh nilai yang diperoleh siswa pada akhir semester. Proses memahami materi, mengenali kesulitan, dan memperbaiki kesalahan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan belajar.
Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen formatif hadir sebagai salah satu pendekatan untuk membantu guru memantau perkembangan peserta didik sekaligus menentukan langkah pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Melalui asesmen yang dilakukan selama proses belajar, guru dapat memperoleh gambaran mengenai pemahaman siswa, sedangkan peserta didik memiliki kesempatan untuk mengetahui hal yang sudah dikuasai dan bagian yang masih perlu diperbaiki.
Baca Juga: Berikut Cakupan Materi TKA SMA Mata Pelajaran Kimia, Yuk Disimak!
Asesmen formatif merupakan proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi mengenai perkembangan belajar peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Informasi tersebut digunakan untuk memberikan umpan balik, memperbaiki strategi mengajar, dan membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Berbeda dari penilaian yang terutama digunakan untuk mengetahui capaian pada akhir suatu periode, asesmen formatif menitikberatkan pada proses perbaikan belajar. Hasilnya tidak semata-mata dipandang sebagai angka, tetapi sebagai informasi yang dapat membantu guru dan siswa menentukan langkah berikutnya.
Dalam penerapan Kurikulum Merdeka, pendekatan ini mendukung pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta didik. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga perlu memahami sejauh mana siswa telah menguasai konsep dan hambatan yang mereka hadapi.
Dengan demikian, asesmen formatif dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran agar lebih efektif dan relevan.
Salah satu hal penting dalam asesmen formatif adalah perubahan cara pandang terhadap penilaian. Penilaian tidak selalu harus berakhir dengan pemberian skor atau peringkat. Dalam proses formatif, informasi mengenai kesalahan dan kesulitan siswa justru dapat menjadi petunjuk untuk memperbaiki pembelajaran.
Sebagai contoh, ketika guru menemukan bahwa sebagian besar siswa belum memahami konsep pecahan, guru dapat mengulang penjelasan menggunakan benda konkret, gambar, atau contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, apabila siswa telah menunjukkan pemahaman yang baik, guru dapat memberikan soal dengan tingkat tantangan lebih tinggi agar kemampuan mereka berkembang.
Pendekatan ini membantu guru mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di kelas, bukan hanya mengikuti rencana pembelajaran tanpa mempertimbangkan respons peserta didik.
Baca Juga: 5 Jenis Makanan dan Minuman yang Bisa Memengaruhi Suasana Hati, Apa Saja?
Asesmen formatif tidak harus dilakukan melalui ujian tertulis. Guru dapat memilih berbagai metode sesuai tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, serta kondisi kelas.
Guru dapat mengajukan pertanyaan singkat untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Jawaban peserta didik membantu guru mengidentifikasi konsep yang telah dikuasai maupun hal yang masih membingungkan.
Metode ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat dan menjelaskan cara berpikir mereka.
Kuis dapat digunakan pada awal, tengah, atau akhir kegiatan pembelajaran untuk memeriksa pemahaman terhadap konsep tertentu. Hasilnya membantu guru menentukan apakah materi dapat dilanjutkan atau perlu dijelaskan kembali.
Kuis formatif sebaiknya tidak selalu menjadi sarana pemberian nilai. Fokus utamanya adalah memperoleh informasi yang berguna untuk memperbaiki proses belajar.
Selama diskusi kelompok, praktikum, atau pengerjaan tugas, guru dapat mengamati partisipasi, strategi penyelesaian masalah, dan kemampuan siswa menerapkan konsep.
Pengamatan tersebut dapat memberikan gambaran yang tidak selalu terlihat melalui tes tertulis, terutama ketika pembelajaran melibatkan keterampilan praktik dan kolaborasi.
Siswa dapat diajak menilai pemahaman mereka sendiri menggunakan pertanyaan reflektif, seperti materi apa yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih sulit.
Penilaian antarteman juga dapat diterapkan melalui kegiatan saling memberikan masukan berdasarkan kriteria yang jelas. Dengan pendampingan guru, kegiatan ini membantu peserta didik mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Tugas singkat dapat digunakan untuk melihat kemampuan siswa menerapkan materi. Guru kemudian memberikan masukan yang spesifik mengenai bagian yang sudah tepat dan hal yang perlu diperbaiki.
Umpan balik yang baik tidak berhenti pada keterangan benar atau salah. Guru juga perlu membantu siswa memahami alasan di balik kesalahan dan cara memperbaikinya.
Penerapan asesmen formatif memberikan manfaat bagi kedua pihak yang terlibat dalam pembelajaran.
Bagi guru, asesmen ini membantu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, mengevaluasi efektivitas metode pengajaran, serta menentukan materi yang memerlukan penguatan. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk merancang kegiatan belajar yang lebih beragam sesuai tingkat pemahaman peserta didik.
Bagi siswa, asesmen formatif memberikan gambaran tentang kemajuan belajar mereka.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir