KebonCinta.com — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG dengan konsep berbeda mulai diuji coba di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
MTs Muhammadiyah Tanjungsari menjadi salah satu lokasi uji coba MBG menggunakan sistem prasmanan.
Sistem tersebut telah dijalankan sekitar satu pekan dan mendapatkan respons positif dari sejumlah siswa.
Berbeda dengan sistem makanan yang langsung dibagikan dalam satu wadah, nasi, lauk, sayur dan buah ditempatkan secara terpisah.
Siswa kemudian mengambil makanan dengan sistem antre seperti prasmanan.
Salah seorang siswa kelas IX, Tuti, mengaku lebih menyukai mekanisme baru tersebut.
“Kalau prasmanan kita bisa menyesuaikan porsinya, terus lebih segar dan hangat,” katanya.
Siswa lainnya, Faris, menilai konsep prasmanan mempunyai kelebihan karena makanan dapat ditambah apabila porsi sebelumnya belum mencukupi.
Sistem tersebut juga diharapkan mengurangi makanan yang tersisa.
Pengelola SPPG Gunung Manik Adila Naily Huda mengatakan prasmanan merupakan inovasi yang sedang diuji untuk menyempurnakan pelayanan MBG.
Konsep ini antara lain diarahkan agar kualitas makanan tetap terjaga sejak selesai dimasak sampai dikonsumsi siswa.
Karena nasi, lauk, sayur dan buah ditempatkan secara terpisah, aroma masing-masing makanan juga tidak mudah tercampur.
Makanan dapat disajikan dalam kondisi yang lebih segar.
Baca Juga: 528 ASN Jatim Terima Satyalancana Karya Satya, Khofifah Ingatkan Integritas dan Pelayanan Ramah
Meski siswa mengambil sendiri, takaran gizi tidak sepenuhnya dibiarkan bebas.
Petugas tetap menggunakan sendok takar dengan gramasi tertentu sehingga komposisi dasar porsi dapat dikendalikan.
Siswa kemudian memiliki keleluasaan menyesuaikan makanan berdasarkan kebutuhan.
Konsep tersebut juga memberikan pengalaman yang berbeda di sekolah.
Siswa ikut mengantre serta bergantian membantu penyajian makanan.
Namun pelaksanaannya masih berstatus uji coba.
Setiap hari, pengelola membuat laporan mengenai kelebihan, kekurangan dan berbagai kendala yang ditemukan.
Laporan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi Badan Gizi Nasional.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyambut positif inovasi tersebut.
“Program bisa dievaluasi secara matang, secara komprehensif,” ujar Dony.
Ia menjelaskan tanggapan positif siswa menjadi masukan awal, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan untuk memperluas metode prasmanan.
Berbagai faktor seperti higienitas, waktu pelayanan, kecukupan porsi, pengawasan serta kesiapan sekolah tetap harus dievaluasi.
Apabila hasil evaluasinya baik, metode tersebut berpeluang diperluas ke sekolah lainnya.
Sebaliknya, kekurangan yang ditemukan perlu diperbaiki sebelum penerapan dilakukan secara lebih luas.
Uji coba di Sumedang menjadi salah satu perkembangan menarik dalam pelaksanaan MBG.
Program tersebut kini tidak hanya mengejar tersedianya makanan bergizi, tetapi juga mencoba mencari mekanisme penyajian yang efisien dan nyaman bagi siswa.
Hasil evaluasi di MTs Muhammadiyah Tanjungsari nantinya akan menjadi salah satu bahan untuk melihat apakah konsep prasmanan layak dikembangkan lebih luas.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir