KebonCinta.com - Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia dirancang untuk mengukur keterampilan membaca sebagai salah satu kemampuan dasar dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya, TKA Bahasa Indonesia tidak hanya menguji kemampuan peserta dalam memahami isi bacaan. Peserta juga perlu mampu mengidentifikasi informasi, menarik kesimpulan, menilai ketepatan gagasan, hingga memberikan tanggapan terhadap isi dan penggunaan bahasa dalam teks.
Oleh karena itu, memahami karakteristik soal dan kompetensi yang diujikan menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan diri menghadapi TKA Bahasa Indonesia.
Baca Juga: AI Mulai Geser Pekerjaan Kantoran, Gen Z Kini Incar Profesi Zaman Dulu dengan Gaji Fantastis
Materi membaca dalam TKA Bahasa Indonesia mencakup dua kelompok utama, yakni teks informasi dan teks fiksi. Keduanya memiliki karakteristik serta tuntutan pemahaman yang berbeda.
Teks informasi dapat disajikan dalam bentuk teks tunggal maupun teks jamak. Isinya mencakup fakta, konsep, prosedur, hingga metakognisi yang berasal dari berbagai bidang dan topik.
Teks tersebut dapat menggunakan beragam genre dan konteks, mulai dari lingkup lokal, nasional, hingga global.
Dalam menghadapi teks informasi, peserta perlu memahami fakta yang disampaikan, mengenali hubungan antargagasan, serta mengidentifikasi informasi penting yang mendukung pembahasan utama.
Kemampuan mengevaluasi informasi juga diperlukan agar peserta dapat menilai keakuratan, relevansi, dan kecukupan informasi yang disajikan dalam bacaan.
Selain teks informasi, TKA Bahasa Indonesia juga menggunakan teks fiksi yang dapat berbentuk realisme maupun absurd.
Cerita dapat memiliki latar konkret atau abstrak, tokoh dengan karakter kompleks, serta konflik tunggal maupun jamak. Penyelesaian cerita tidak selalu bersifat tertutup karena dapat memberikan ruang bagi pembaca untuk menafsirkan akhir cerita.
Alur cerita juga dapat disusun secara campuran dengan penggunaan sudut pandang yang bervariasi.
Untuk memahami teks fiksi, peserta perlu memperhatikan karakter tokoh, latar, konflik, perkembangan peristiwa, serta nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita.
Peserta juga dituntut mampu memahami makna tersirat dan menghubungkan unsur cerita dengan pengalaman atau kehidupan sehari-hari.
Teks yang digunakan dalam asesmen memiliki karakteristik khusus pada aspek kosakata, kalimat, dan wacana. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat membantu peserta menghadapi bacaan dengan tingkat kompleksitas yang beragam.
Kosakata dalam teks TKA Bahasa Indonesia dapat meliputi kata umum dan kata khusus, kata berimbuhan kompleks, kata abstrak, serta istilah teknis dari berbagai bidang.
Peserta juga perlu memahami makna denotatif dan konotatif berdasarkan konteks penggunaannya.
Artinya, pemahaman kata tidak cukup hanya mengandalkan arti yang tercantum dalam kamus. Peserta perlu memperhatikan hubungan kata dengan kalimat dan keseluruhan isi bacaan agar dapat menentukan makna yang tepat.
Kalimat dalam teks memiliki panjang rata-rata sekitar 8–12 kata per kalimat, dengan variasi struktur yang mencakup kalimat kompleks dan kalimat inversi.
Kalimat kompleks memuat hubungan antarklausa yang dapat menunjukkan sebab-akibat, pertentangan, atau hubungan logis lainnya. Sementara itu, kalimat inversi memiliki susunan unsur yang berbeda dari pola kalimat umum.
Kemampuan memahami struktur kalimat membantu peserta mengenali hubungan gagasan serta menghindari kesalahan dalam menafsirkan informasi.
Pada tingkat wacana, teks dapat menggunakan konjungsi antarkalimat atau antarparagraf yang menunjukkan hubungan pertentangan dan sebab-akibat.
Selain itu, tanda baca juga berperan dalam mendukung ungkapan, penekanan, serta makna yang ingin disampaikan penulis.
Panjang teks yang digunakan umumnya berkisar antara 250–300 kata, kecuali untuk teks puisi.
Dengan karakteristik tersebut, peserta perlu membiasakan diri membaca teks secara menyeluruh, bukan hanya mencari kata kunci atau mencocokkan informasi secara langsung.
TKA Bahasa Indonesia mengukur sejumlah kemampuan membaca yang berkaitan dengan pemahaman informasi, penalaran, dan penilaian terhadap bacaan.
Berikut lima aspek keterampilan membaca yang perlu dipahami.
Kelima kompetensi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca yang diukur tidak terbatas pada menemukan jawaban dalam teks. Peserta juga perlu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memahami pesan yang disampaikan penulis.
Selain aspek keterampilan membaca, terdapat tiga kompetensi utama yang menjadi dasar penilaian, yaitu pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.
Pemahaman tekstual merupakan kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam bacaan.
Kompetensi ini mencakup kegiatan mengidentifikasi informasi, mengelompokkan fakta, menyusun ulang isi teks, dan menyajikan kembali informasi secara sistematis.
Contoh kemampuan yang diukur adalah menemukan gagasan yang disebutkan langsung dalam paragraf, mengenali penggunaan istilah, serta menyusun kerangka berdasarkan bagian penting dalam bacaan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir