KebonCinta.com - Rekan kerja yang selalu menyelesaikan tugas dan ikut tertawa saat istirahat mudah dianggap sedang baik-baik saja. Ketika ia kemudian bercerita sedang menghadapi tekanan berat, orang di sekitarnya mungkin terkejut karena tidak melihat perubahan yang mencolok.
Namun, aktivitas yang tetap berjalan bukan gambaran lengkap kondisi mental seseorang. Apa yang terlihat dari luar dapat berbeda dengan pengalaman emosional yang sedang dijalaninya.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie menjelaskan bahwa tekanan psikologis tidak selalu tampak melalui tangisan, kesedihan, atau sikap menarik diri dari lingkungan.
Seseorang bisa tetap menjalani pekerjaan, tersenyum, bahkan terlihat produktif ketika sedang menghadapi beban mental yang berat. Itulah sebabnya, kelancaran menyelesaikan tugas belum cukup untuk menggambarkan kondisi mentalnya secara utuh.
Di balik pekerjaan yang tuntas, mungkin ada usaha besar untuk menjaga konsentrasi atau mengelola perasaan. Hasil kerja yang terlihat dari luar belum menunjukkan bagaimana seseorang menjalani prosesnya dan seberapa berat hari-hari yang ia rasakan.
Baca Juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia, Psikolog Ingatkan Keluarga Tak Harus Selalu Memberi Solusi
Melihat seseorang tertawa juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki persoalan. Ekspresi yang terlihat pada satu kesempatan belum menggambarkan seluruh pengalaman hidupnya.
Namun, ini bukan berarti setiap senyum menyembunyikan kesedihan. Kita tetap perlu menghindari asumsi, baik ketika menganggap seseorang pasti sehat maupun ketika menduga ia sedang mengalami gangguan.
Penampilan dapat menjadi bagian dari pengamatan, tetapi pemahaman membutuhkan informasi yang lebih luas.
Efnie menyarankan agar orang terdekat memperhatikan kemampuan seseorang menjalani kehidupannya secara emosional, kognitif, sosial, dan fisik.
Artinya, perhatian tidak berhenti pada pertanyaan apakah ia masih masuk kerja. Pengalaman menjalani rutinitas dan perubahan dari keadaan biasanya juga perlu dipahami.
Percakapan sederhana dapat membuka ruang tersebut. Pertanyaan seperti “Bagaimana kamu menjalani hari-hari belakangan ini?” memberi kesempatan seseorang menjelaskan keadaan tanpa harus terlebih dahulu menunjukkan kesedihan yang terlihat jelas.
Baca Juga: Jarang Bergerak Bikin Tubuh Lesu, Ini 5 Manfaat Olahraga untuk Fisik dan Mental
Saat seseorang mengungkapkan kesulitan, respons “Kamu masih bisa tertawa, kok” dapat mengalihkan perhatian dari pengalaman yang sedang ia ceritakan.
Lebih baik memberi ruang untuk menjelaskan apa yang dirasakan. Mendengarkan tidak mengharuskan kita langsung memberi diagnosis atau memiliki semua jawaban.
Efnie juga menegaskan bahwa satu atau dua tanda perubahan tidak otomatis menunjukkan gangguan kesehatan mental tertentu. Penilaian perlu mempertimbangkan keseluruhan kondisi, bukan mengambil kesimpulan dari satu perilaku.
Masih bekerja dan tertawa tidak membatalkan tekanan yang dirasakan seseorang. Memahami kondisi mental dimulai dengan memberi ruang untuk bercerita dan memperhatikan kehidupannya secara lebih utuh. ***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir