Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memerintahkan kita untuk menjaga dan menyambung tali silaturahmi, serta melarang kita dari memutus hubungan persaudaraan. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya. Amma ba’du.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, marilah kita panjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul dalam suasana penuh kehangatan melalui acara halal bihalal di bulan Syawal.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sosok teladan yang telah mengajarkan arti penting persaudaraan, kasih sayang, dan persatuan di antara sesama umat Islam.
Jamaah sekalian, bulan Syawal di tengah masyarakat kita identik dengan tradisi halal bihalal. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan sarat dengan nilai-nilai Islam yang luhur. Halal bihalal menjadi sarana untuk saling memaafkan, membersihkan hati, dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.
Setelah selama bulan Ramadhan kita berfokus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah puasa, shalat, dan dzikir, maka di bulan Syawal ini kita menyempurnakannya dengan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan. Para ulama, seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan bahwa makna “dipanjangkan umur” bisa berupa keberkahan dalam hidup maupun tambahan usia secara nyata atas izin Allah SWT.
Dari sini kita memahami bahwa silaturahmi bukan sekadar rutinitas tahunan atau kegiatan formal. Lebih dari itu, ia adalah ibadah yang memiliki dampak besar dalam membuka pintu rezeki, memperluas kebaikan, dan mendatangkan ketenangan dalam hidup.
Sebaliknya, memutus hubungan persaudaraan merupakan perbuatan yang sangat dilarang dalam Islam. Perbuatan ini dapat menghalangi turunnya rahmat Allah dan menjauhkan seseorang dari keberkahan hidup.
Para ulama bahkan menggolongkan memutus silaturahmi sebagai dosa besar. Hal ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak membiarkan ego, gengsi, atau perasaan pribadi merusak hubungan dengan sesama.
Hadirin yang berbahagia, mari kita jadikan momentum Syawal ini sebagai waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan. Buang segala dendam, lepaskan kebencian, dan bukalah pintu maaf dengan hati yang tulus.
Tidak perlu menunggu orang lain memulai. Jadilah kita yang terlebih dahulu mengulurkan tangan untuk meminta maaf dan memaafkan.
Semoga dengan itu, hati kita menjadi bersih, hubungan kita menjadi harmonis, dan hidup kita dipenuhi keberkahan.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, serta dosa saudara-saudara kami. Satukanlah hati kami dalam kebaikan, jauhkan kami dari perpecahan, dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang saling mencintai karena-Mu.
Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir