KebonCinta.com - Memilih skincare tidak cukup hanya dengan mengikuti rekomendasi yang sedang populer. Karakteristik kulit, kondisi yang dialami, serta kebiasaan perawatan menjadi faktor penting dalam menentukan produk maupun prosedur estetika yang sesuai.
Dokter estetika MyClinic, dr. Clarissa Nathasia, menjelaskan bahwa kulit pria dan perempuan memiliki sejumlah perbedaan. Karena itu, pendekatan perawatan untuk kedua kelompok tersebut tidak selalu dapat disamakan.
Pernyataan itu disampaikan Clarissa saat Grand Launching MyClinic di Jakarta, Sabtu (10/10). Menurutnya, karakteristik kulit menjadi salah satu pertimbangan sebelum dokter merekomendasikan jenis treatment kepada pasien.
Baca Juga: Sering Beli Es Kopi Susu dan Minuman Manis? Ini yang Perlu Diwaspadai Menurut Menkes!
Clarissa menjelaskan bahwa morfologi kulit pria umumnya memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kulit perempuan. Perbedaan tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan pendekatan perawatan yang sesuai.
Meski demikian, jenis kelamin bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebutuhan skincare. Kondisi kulit setiap orang tetap dapat berbeda, mulai dari masalah yang dialami hingga kebiasaan sehari-hari dan respons terhadap produk perawatan.
Oleh sebab itu, tidak tepat jika seluruh pria dianggap membutuhkan produk yang sama atau semua perempuan harus menjalani rangkaian perawatan seragam.
Penilaian individual tetap diperlukan agar produk maupun prosedur yang dipilih sesuai dengan kebutuhan pasien.
Baca Juga: Bukan Cuma Perempuan! Pria Kini Mulai Lirik Klinik Kecantikan, Ini yang Perlu Diperhatikan
Menurut Clarissa, penyesuaian perawatan dapat mencakup pemilihan jenis treatment, serum yang digunakan, hingga jumlah sesi yang diperlukan.
Rekomendasi untuk satu pasien belum tentu sesuai bagi pasien lain. Seseorang yang ingin menangani masalah kulit tertentu mungkin membutuhkan pendekatan berbeda dari orang dengan keluhan lainnya.
Pemilihan serum, misalnya, sebaiknya mempertimbangkan kandungan produk dan kondisi kulit, bukan semata-mata label pemasaran untuk pria atau perempuan.
Hal serupa berlaku pada prosedur estetika. Jenis tindakan dan jumlah sesi perlu ditentukan berdasarkan penilaian profesional, bukan hanya mengikuti pengalaman orang lain atau tren di media sosial.
Dengan memahami kebutuhan kulit, pasien dapat menghindari pembelian produk atau pemilihan prosedur yang sebenarnya tidak diperlukan.
Selain karakteristik kulit, Clarissa menyoroti perbedaan kebiasaan perawatan. Menurutnya, pria sebelumnya cenderung lebih jarang menggunakan skincare, meskipun minat terhadap perawatan kulit kini mulai berkembang.
Kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu hal yang perlu dipahami dokter sebelum memberikan rekomendasi. Produk yang digunakan, aktivitas, serta keluhan pasien dapat membantu memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kondisi kulit.
Karena itu, komunikasi antara dokter dan pasien menjadi penting. Pasien perlu menjelaskan masalah yang dirasakan serta rutinitas perawatan yang selama ini dilakukan agar rekomendasi tidak hanya didasarkan pada perkiraan.
Banyaknya pilihan skincare membuat konsumen mudah tergoda mencoba produk atau treatment yang ramai dibicarakan. Namun, popularitas tidak menjamin suatu produk cocok untuk semua orang.
Produk yang memberikan hasil baik pada seseorang belum tentu memberikan respons serupa pada orang lain. Begitu pula prosedur estetika yang sedang populer tidak otomatis menjadi kebutuhan setiap pasien.
Langkah yang lebih bijak adalah mengenali kondisi kulit, memeriksa informasi produk, serta berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten apabila ingin menjalani tindakan estetika.
Konsultasi juga memberikan kesempatan bagi pasien untuk memahami manfaat, risiko, dan perawatan lanjutan yang mungkin diperlukan sebelum memutuskan menjalani prosedur tertentu.
Perbedaan karakteristik kulit pria dan perempuan menjadi salah satu pertimbangan dalam dunia estetika. Namun, kebutuhan setiap individu tetap perlu dinilai secara khusus.
Penjelasan dr. Clarissa Nathasia menegaskan bahwa pemilihan skincare, serum, dan treatment sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan seragam.
Dengan memahami kondisi kulit dan memperoleh rekomendasi yang sesuai, pasien dapat mengambil keputusan perawatan secara lebih terarah. Pada akhirnya, perawatan kulit bukan sekadar mengikuti tren, melainkan memilih langkah yang sesuai dengan kebutuhan dan kesehatan kulit masing-masing.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir