Baca Juga: Guru Sertifikasi 2025 Wajib Cek EMIS GTK, Rekening dan NPWP Jangan Sampai Kosong
Melatih kontrol diri tidak harus dilakukan melalui nasihat panjang. Permainan dapat menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan tersebut.
Puzzle, permainan papan, permainan yang mengharuskan anak menunggu giliran, hingga berbagai aktivitas olahraga dapat melatih fokus, kesabaran, kemampuan mengikuti aturan, dan pengendalian diri.
Pilih permainan yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Jangan menjadikan kemenangan sebagai tujuan utama.
Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami proses menunggu, mengikuti aturan, menghadapi kekalahan, dan mencoba kembali.
Ketika anak berhasil menahan diri, menunggu giliran, atau berpikir sebelum bertindak, berikan apresiasi.
Tidak perlu selalu memberikan hadiah. Pujian sederhana yang spesifik justru dapat membantu anak memahami perilaku positif yang sudah dilakukan.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Tadi kamu mau menunggu giliran. Itu bagus.”
Pujian seperti ini menunjukkan kepada anak bahwa usaha mereka diperhatikan. Fokuskan apresiasi pada proses dan kemajuan, bukan hanya pada hasil akhir.
Anak yang tidak sabar atau sering bertindak spontan tidak otomatis berarti memiliki masalah tertentu.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Perilaku mereka juga dapat dipengaruhi usia, lingkungan, pengalaman, kondisi emosional, serta situasi yang sedang dihadapi.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label seperti “nakal”, “bandel”, atau “tidak bisa diatur”.
Lebih baik melihat perilaku tersebut sebagai keterampilan yang masih membutuhkan latihan.
Baca Juga: Guru Sertifikasi 2025 Wajib Cek EMIS GTK, Rekening dan NPWP Jangan Sampai Kosong
Apabila kesulitan mengendalikan impuls terjadi sangat sering, menetap, mengganggu proses belajar dan hubungan sosial, atau sampai menimbulkan risiko keselamatan, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Kemampuan menunggu dan mengendalikan diri tidak akan terbentuk hanya dalam satu atau dua kali latihan.
Hari ini anak mungkin berhasil menunggu dengan tenang, tetapi pada kesempatan berikutnya kembali tidak sabar. Hal tersebut dapat terjadi karena kontrol diri memang membutuhkan proses yang berulang.
Orang tua dapat memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari, menetapkan aturan yang konsisten, memberi kesempatan anak berlatih, serta menghargai kemajuan sekecil apa pun.
Pada akhirnya, melatih kontrol diri bukan berarti membuat anak selalu diam atau menurut. Tujuannya adalah membantu anak belajar berhenti sejenak, mengenali emosinya, mempertimbangkan pilihan, dan memahami konsekuensi sebelum bertindak.
Dengan latihan yang konsisten dan pendampingan yang tepat, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi anak dalam belajar, bersosialisasi, serta menghadapi berbagai situasi ketika mereka semakin besar.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir