Teknologi
Hilmi An Naufal

Komdigi Ingatkan Masyarakat Jangan Langsung Percaya AI: Hasilnya Tidak Selalu Benar, Wajib Dicek Ulang

Komdigi Ingatkan Masyarakat Jangan Langsung Percaya AI: Hasilnya Tidak Selalu Benar, Wajib Dicek Ulang

14 Oktober 2026 | 20:50

KebonCinta.com — Penggunaan kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari membuat tulisan, mencari informasi hingga membantu pekerjaan.

Namun kemudahan tersebut juga membawa risiko apabila hasil AI langsung dipercaya tanpa proses pemeriksaan.

Kementerian Komunikasi dan Digital kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya literasi kecerdasan artifisial dan keamanan digital.

Komdigi membuka peluang kerja sama dengan Jurnalis Hukum Bandung dan Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Barat.

Kolaborasi diarahkan untuk memperluas edukasi mengenai AI, keamanan digital serta berbagai bentuk kejahatan di ruang daring.

“Inisiatif Bandung Digital Safety Forum ini baik sekali,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.

Ia menilai keterlibatan jurnalis dapat membantu masyarakat memahami cara memasuki ruang digital dengan lebih aman.

Kemampuan menggunakan internet tidak cukup hanya dengan mengetahui cara membuka aplikasi.

Pengguna juga perlu memahami risiko penipuan daring, manipulasi informasi hingga penyalahgunaan teknologi AI.

Komdigi telah memiliki program Pandu Digital yang melibatkan tenaga edukator untuk turun langsung memberikan literasi kepada masyarakat.

Selain itu tersedia Digital Talent Scholarship yang menyediakan berbagai materi pembelajaran digital.

Materi tersebut termasuk video singkat mengenai pemanfaatan AI.

Komdigi menilai edukasi ini semakin penting karena kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, suara dan video menjadi semakin baik.

Konten buatan mesin terkadang tampak sangat meyakinkan meski informasinya tidak benar.

“Output dari AI itu tidak selalu benar. Harus double check,” ujar Said Mirza dari Komdigi.

Baca Juga: Telkom University dan AirNav Kembangkan EduNusa, AI untuk Siswa Daerah 3T yang Bisa Dipakai Tanpa Internet 

Peringatan tersebut penting terutama bagi pengguna yang memakai AI untuk mencari informasi.

Sistem AI dapat memberikan jawaban yang terdengar masuk akal, tetapi tidak selalu memiliki fakta, konteks maupun sumber yang benar.

Karena itu, informasi penting sebaiknya dibandingkan dengan sumber resmi.

Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap gambar maupun video yang dimanipulasi menggunakan AI.

Kemampuan membuat konten sintetis berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan, fitnah maupun penyebaran hoaks.

Komdigi saat ini juga tengah menyiapkan tata kelola AI.

Pemerintah telah menyusun buku putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial hingga 2029 yang sedang diproses menuju regulasi lebih lanjut.

Aturan mengenai etika AI juga dipersiapkan.

Tujuannya bukan untuk menghentikan penggunaan teknologi, tetapi memastikan AI dikembangkan serta digunakan secara bertanggung jawab.

Bagi masyarakat, prinsip sederhananya tetap sama.

Gunakan AI sebagai alat bantu, tetapi jangan menyerahkan seluruh keputusan dan kepercayaan kepada mesin.

Kemampuan memeriksa fakta tetap menjadi keterampilan penting di tengah semakin mudahnya konten digital dibuat.

Tags:
AI Artificial Intelligence Komdigi Nezar Patria Keamanan Digital Hoaks Literasi Digital Cyber Security

Komentar Pengguna