Solusinya sebenarnya sederhana, meski sering diabaikan. Kuncinya ada pada cairan dan serat. Saat sahur dan berbuka, pastikan tubuh mendapat cukup air. Banyak ahli menyarankan pola minum bertahap dari berbuka hingga sebelum tidur agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi. Buah seperti pepaya, pisang, dan pir bisa membantu melancarkan pencernaan. Sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian juga penting untuk menjaga tekstur feses tetap lunak.
Mengawali berbuka dengan makanan ringan yang mudah dicerna, lalu memberi jeda sebelum makan besar, dapat membantu sistem pencernaan beradaptasi dengan lebih baik. Hindari terlalu banyak gorengan dan makanan tinggi lemak karena bisa memperlambat kerja usus.
Aktivitas fisik ringan setelah berbuka, seperti berjalan santai atau melakukan peregangan, juga efektif membantu pergerakan usus. Bahkan kebiasaan sederhana seperti meluangkan waktu rutin ke toilet di jam yang sama bisa melatih tubuh membentuk pola baru selama puasa.
Puasa adalah ibadah yang melatih pengendalian diri, termasuk dalam pola makan. Ketika pola makan lebih teratur dan seimbang, sistem pencernaan pun akan lebih stabil. Jadi, jika kamu merasa BAB menjadi seret saat puasa, jangan langsung panik. Tubuhmu sedang beradaptasi dengan ritme baru.
Dengan sedikit perhatian pada asupan cairan, serat, dan aktivitas, urusan pencernaan bisa kembali lancar tanpa harus mengganggu kekhusyukan ibadah. Kadang yang dibutuhkan bukan obat, melainkan keseimbangan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir