Kesehatan
Hilmi An Naufal

Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla, 62.400 Dialami Balita

Kemenkes Catat 277 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla, 62.400 Dialami Balita

14 Oktober 2026 | 14:39

KebonCinta.com — Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap setelah ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA tercatat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Data per 12 Oktober 2026 mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla.

Anak berusia nol hingga lima tahun menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian.

Sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dari jumlah tersebut tercatat pada kelompok usia balita.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan untuk memperkuat respons kesehatan.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA,” ujar Aji.

Paparan asap juga dapat menyebabkan batuk, sesak napas serta memperburuk kondisi penderita asma.

Kelompok yang lebih rentan antara lain bayi, balita, ibu hamil, lansia dan masyarakat dengan penyakit paru kronis.

Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat kesiapan pelayanan kesehatan.

Sebanyak 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung daerah terdampak.

Pemerintah juga mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker melalui berbagai jalur pemerintah pusat dan daerah.

Fasilitas pelayanan kesehatan disiapkan untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan akibat paparan asap.

Kemenkes mengingatkan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Baca Juga: 6 Manfaat Membiasakan Anak Membaca Sejak Dini, Bantu Kembangkan Bahasa hingga Kreativitas 

Apabila harus berada di luar ruangan, perlindungan pernapasan yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Namun perlindungan untuk bayi dan balita lebih diarahkan dengan mengurangi paparan asap daripada mengandalkan penggunaan masker.

Orang tua juga diminta memperhatikan kondisi anak.

Apabila anak mengalami sesak napas, bernapas lebih cepat dari biasanya atau mengalami kesulitan minum dan menyusu, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.

Penggunaan nebulizer juga tidak disarankan dilakukan sembarangan tanpa arahan tenaga medis.

Kabut asap yang berlangsung lama dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat.

Sekolah, pekerjaan dan kegiatan sehari-hari dapat terganggu ketika kualitas udara berada dalam kondisi buruk.

Karena itu, pemerintah daerah diminta menyesuaikan langkah perlindungan dengan kondisi kualitas udara masing-masing wilayah.

Beberapa wilayah juga menyiapkan ruang dengan udara yang lebih bersih maupun fasilitas oksigen untuk masyarakat yang membutuhkan.

Masyarakat sebaiknya terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara serta kebijakan pemerintah daerah.

Data kasus ISPA yang mencapai ratusan ribu menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan.

Kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, menjadi aspek yang perlu mendapatkan perlindungan selama kabut asap masih terjadi.

Tags:
ISPA Karhutla Kemenkes Kabut Asap Balita PM2.5 Kesehatan Anak Polusi Udara

Komentar Pengguna