Khazanah
Hilmi An Naufal

Kemenag Kembangkan Kurikulum Cinta, Siswa Diajarkan Menyayangi Sesama hingga Menjaga Alam

Kemenag Kembangkan Kurikulum Cinta, Siswa Diajarkan Menyayangi Sesama hingga Menjaga Alam

12 Oktober 2026 | 21:44

KebonCinta.com — Kementerian Agama mengembangkan pendekatan pendidikan bernama Kurikulum Cinta untuk menanamkan kepedulian terhadap manusia, hewan dan lingkungan sejak usia sekolah.

Kurikulum tersebut menggunakan pendekatan ekoteologi yang menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga alam.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan pengembangan telah dilakukan dalam satu tahun terakhir.

“​​Kini muncul kesadaran baru di kalangan pelajar,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan evaluasi yang melibatkan pengawas madrasah dan pondok pesantren menunjukkan adanya perubahan dalam cara sebagian peserta didik memperlakukan makhluk hidup.

Kurikulum Cinta dirancang untuk membangun hubungan yang lebih baik antara Tuhan, manusia dan alam.

Pendekatan tersebut berusaha menanamkan pemahaman bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada kepentingan manusia.

Alam juga memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan.

Karena itu, lingkungan tidak semestinya hanya dipandang sebagai sumber daya yang dapat terus-menerus dieksploitasi.

Siswa didorong memahami bahwa menjaga tumbuhan, hewan, air dan lingkungan sekitar merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Kemenag memberikan sejumlah contoh perubahan sederhana pada siswa.

Baca Juga: Latihan TKA Bahasa Indonesia SMA, Kenali Konflik dan Karakter Tokoh dalam Cerpen 

Ada anak yang mulai menunjukkan rasa sayang lebih besar kepada hewan di lingkungan sekitarnya.

Anak-anak juga mulai terdorong merawat makhluk hidup yang membutuhkan perhatian.

Menurut Menag, kesadaran semacam itu menunjukkan munculnya empati yang tidak berhenti pada hubungan antarmanusia.

Nilai kasih sayang diperluas kepada tumbuhan dan hewan.

Dalam pendidikan agama, persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan nilai tanggung jawab dan rasa syukur.

Siswa tidak hanya mempelajari konsep tersebut melalui teori.

Perilaku sehari-hari menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan menjaga kebersihan merupakan contoh paling sederhana.

Sekolah juga dapat mengajak siswa menanam pohon maupun merawat tanaman.

Kegiatan kecil tersebut membantu anak memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan tindakan langsung.

Kurikulum Cinta juga dikaitkan dengan upaya membangun sekolah yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Kemenag mendukung gagasan Kementerian Lingkungan Hidup dalam pengembangan kesadaran ekologis pada lembaga pendidikan.

Dalam kegiatan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata di Taman Mini Indonesia Indah, sekitar 650 siswa SD, SMP dan SMA sederajat dari berbagai wilayah ikut hadir.

Pendekatan ekoteologi menjadi menarik karena persoalan lingkungan sering kali dianggap hanya sebagai pembahasan ilmu pengetahuan.

Padahal nilai agama dan budaya juga dapat digunakan untuk membangun kepedulian terhadap alam.

Ketika seseorang melihat menjaga lingkungan sebagai bagian dari nilai moral, kebiasaan tersebut dapat menjadi lebih kuat.

Perkembangan sains dan teknologi juga tidak harus bertentangan dengan pendekatan tersebut.

Data ilmiah dapat menjelaskan dampak kerusakan lingkungan, sedangkan pendidikan karakter dapat membantu membangun kemauan untuk melakukan perubahan.

Bagi siswa, pesan utamanya sederhana.

Kecerdasan tidak hanya diukur dari kemampuan mendapatkan nilai tinggi.

Cara memperlakukan manusia lain, hewan dan lingkungan juga menjadi bagian dari karakter seseorang.

Melalui Kurikulum Cinta, Kemenag berharap kesadaran menjaga bumi dapat dibangun sejak bangku sekolah sehingga menjadi kebiasaan hingga anak tumbuh dewasa.

Tags:
kemenag Kurikulum Cinta Nasaruddin Umar madrasah pesantren Lingkungan Ekoteologi Siswa

Komentar Pengguna