KebonCinta.com-- Anggapan bahwa menusukkan jarum ke ujung jari dapat menolong seseorang yang mengalami stroke masih dipercaya sebagian masyarakat. Namun, cara tersebut tidak terbukti secara medis dan berpotensi membuat pasien terlambat mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.
Dokter spesialis saraf dari Siloam Hospital Lippo Village, Dr. dr. Pricilla Yani Gunawan, SpN, Subsp ENK(K), menegaskan bahwa metode menusuk jari bukanlah pertolongan pertama yang dianjurkan bagi pasien stroke.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak memiliki landasan bukti ilmiah dalam dunia kedokteran. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah yang benar ketika menghadapi seseorang dengan gejala stroke agar tidak kehilangan waktu berharga untuk menyelamatkan fungsi otak.
Baca Juga: Apa Itu Project-Based Learning? Simak Pengertian, Tahapan, dan Contoh Penerapannya
Stroke merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Gangguan ini dapat terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau ketika pembuluh darah di otak mengalami pecah sehingga terjadi perdarahan.
Gejala stroke bisa muncul secara tiba-tiba. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain wajah terlihat tidak simetris, salah satu lengan mendadak melemah, serta kesulitan berbicara atau ucapan terdengar tidak jelas.
Apabila tanda-tanda tersebut muncul, masyarakat sebaiknya tidak mencoba berbagai metode pengobatan rumahan. Segera hubungi layanan kegawatdaruratan atau bawa pasien ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit yang mampu menangani stroke.
Waktu kemunculan gejala juga perlu dicatat karena informasi tersebut dapat membantu dokter menentukan pilihan pengobatan yang sesuai.
Selain menusukkan jarum ke ujung jari, sejumlah tindakan lain masih kerap dianggap dapat membantu pasien stroke. Di antaranya memijat bagian tubuh yang melemah, menarik tangan atau kaki yang sulit digerakkan, hingga mengoleskan bahan tradisional pada wajah.
Padahal, tindakan tersebut bukan pengganti penanganan medis dan tidak terbukti dapat mengatasi penyebab stroke. Upaya semacam ini justru berisiko menghabiskan waktu yang sangat penting bagi keselamatan pasien.
Langkah terbaik adalah memastikan pasien segera memperoleh pemeriksaan tenaga medis. Jangan menunggu gejala mereda dengan sendirinya dan jangan menunda keberangkatan ke rumah sakit hanya untuk mencoba pengobatan alternatif.
Selama menunggu bantuan, pastikan pasien berada di tempat yang aman. Jangan memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut tanpa arahan tenaga medis karena stroke dapat mengganggu kemampuan menelan.
Baca Juga: Mengenal Problem-Based Learning, Metode Pembelajaran yang Melatih Siswa Berpikir Kritis dan Kreatif
Dalam kasus stroke, kecepatan penanganan berpengaruh besar terhadap peluang pasien memperoleh pemulihan yang lebih baik. Semakin lama gangguan aliran darah berlangsung, semakin besar risiko kerusakan jaringan otak.
Dokter Pricilla menjelaskan bahwa pasien stroke memiliki periode penting untuk mendapatkan terapi tertentu. Pada stroke akibat sumbatan pembuluh darah, obat penghancur bekuan darah atau trombolitik dapat diberikan kepada pasien yang memenuhi persyaratan medis, umumnya dalam jendela waktu hingga 4,5 jam sejak gejala mulai muncul.
Namun, batas waktu tersebut bukan berarti pasien boleh menunggu hingga mendekati 4,5 jam. Pertolongan harus dicari sesegera mungkin karena tidak semua pasien memenuhi syarat untuk mendapatkan terapi trombolitik. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan prosedur lain berdasarkan hasil pemeriksaan.
Setibanya di rumah sakit, pasien biasanya menjalani pemeriksaan pencitraan otak, seperti CT scan atau MRI, sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini membantu dokter membedakan stroke akibat sumbatan pembuluh darah dengan stroke akibat perdarahan sehingga penanganan dapat ditentukan secara tepat.
Masyarakat perlu meninggalkan kebiasaan mengandalkan mitos ketika menghadapi kondisi darurat seperti stroke. Menusuk jari, memijat anggota tubuh yang melemah, atau mengoleskan bahan tradisional tidak boleh menggantikan pertolongan medis.
Jika wajah seseorang mendadak mencong, bicara menjadi pelo, atau salah satu tangan tiba-tiba kehilangan kekuatan, segera cari bantuan medis. Catat waktu pertama kali gejala diketahui dan jangan menunggu kondisi pasien memburuk.
Baca Juga: Magang Nasional Batch 3 Tahun 2026 Dibuka 27 Oktober, Cek Jadwal dan Perkiraan Kuotanya
Mengenali gejala serta mengambil tindakan dengan cepat merupakan langkah penting untuk meningkatkan peluang pasien mendapatkan terapi yang sesuai.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir