Inspirasi
Hilmi An Naufal

Inspiratif! Dulu Jadi Loper Koran dan Jaga Toko Buku, Guru MI Ini Kini Raih Gelar Doktor dengan Nilai 3,98

Inspiratif! Dulu Jadi Loper Koran dan Jaga Toko Buku, Guru MI Ini Kini Raih Gelar Doktor dengan Nilai 3,98

06 Oktober 2026 | 14:17

KebonCinta.com — Perjalanan pendidikan Moh. Miftahul Arief menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah cita-cita.

Guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan, Semarang tersebut kini resmi menyandang gelar Doktor Studi Islam dari UIN Walisongo Semarang.

Arief berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S3 Studi Islam.

Ia memperoleh nilai disertasi 3,98.

Rektor UIN Walisongo Prof. Musahadi menyatakan Arief menjadi doktor ke-456 yang telah diluluskan kampus tersebut.

Namun perjalanan menuju pencapaian itu tidak berlangsung mudah.

Arief mengaku dahulu bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan menempuh pendidikan hingga jenjang doktor.

“Saya tak pernah bermimpi jadi doktor,” kata Arief.

Kondisi ekonomi membuatnya harus menjalani berbagai pekerjaan sambil terus mempertahankan pendidikan.

Semasa kuliah, Arief pernah menjadi loper koran.

Ia menjual koran di sekitar lampu merah Kalibanteng, Semarang untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan.

Ketika mulai menjadi guru pada 2005, tantangan ekonomi belum selesai.

Pagi hingga siang ia mengajar di madrasah.

Setelah itu, Arief bekerja menjaga outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran hingga malam.

Ia juga pernah menjalankan usaha pengetikan komputer bersama istrinya.

Bahkan hingga kemudian menempuh perjalanan karier lebih jauh, Arief tetap menjalani berbagai pekerjaan sampingan.

Salah satunya menjadi pengemudi taksi daring.

Menurut Arief, pekerjaan yang halal tetap memiliki nilai selama dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Perjalanan di dunia pendidikan juga terus berkembang.

Setelah lima tahun mengajar, Arief dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah pada 2010 hingga 2022.

Pada 2020 ia mendapatkan penghargaan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi dari Kementerian Agama Kota Semarang.

Arief juga mengembangkan lembaga bimbingan belajar dan aktif dalam dunia jurnalistik.

Di tengah kesibukan tersebut, ia tetap melanjutkan pendidikan doktor.

 Baca Juga: Cara Mengatasi SEB AKGTK 2026 Tidak Bisa Dibuka, Cek Monitor dan Security PC 

Salah satu bagian paling emosional terjadi ketika Arief harus menyelesaikan disertasi sambil mendampingi ibunya yang dirawat di rumah sakit.

Laptop dibawanya ke ruang perawatan.

Di sela menjaga sang ibu, ia terus menulis bagian-bagian penelitian.

Arief sebenarnya berharap ibunya dapat hadir ketika dirinya menjalani promosi doktor.

Namun sang ibu meninggal dunia sekitar satu tahun sebelum momen tersebut tiba.

Bagi Arief, gelar doktor akhirnya tidak hanya menjadi pencapaian akademik pribadi.

Ada perjalanan panjang keluarga, pekerjaan dan pengorbanan yang berada di belakangnya.

Disertasinya membahas strategi pemasaran Madrasah Ibtidaiyah di masyarakat perkotaan.

Penelitian melihat bagaimana orang tua modern memilih sekolah bukan semata karena lokasi dan aspek keagamaan.

Mutu pendidikan, pelayanan, keamanan, komunikasi dan reputasi juga menjadi pertimbangan.

Arief kemudian mengembangkan model yang mencoba mempertemukan strategi pengelolaan pendidikan modern dengan nilai spiritual madrasah.

Perjalanannya menjadi contoh bahwa pendidikan dapat ditempuh melalui jalan yang sangat panjang.

Dari menjual koran, menjadi guru, menjaga toko buku hingga menulis disertasi di rumah sakit, Arief akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan tertinggi yang dahulu bahkan tidak berani ia bayangkan.

Tags:
Guru UIN Walisongo Doktor Inspirasi madrasah Guru MI pendidikan Semarang

Komentar Pengguna