Gejala alergi bunga sering kali muncul musiman. Di negara dengan empat musim, alergi ini identik dengan musim semi. Di wilayah tropis seperti Indonesia, reaksi bisa muncul kapan saja tergantung jenis tanaman yang sedang berbunga dan kondisi cuaca. Angin kencang dan udara kering biasanya memperparah penyebaran pollen.
Yang sering disalahpahami, alergi bukanlah tanda tubuh lemah. Justru sistem imun bekerja terlalu aktif. Tubuh terlalu “waspada” hingga menyerang sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya. Dalam jangka panjang, peradangan berulang akibat alergi bisa mengganggu kualitas hidup, mengganggu tidur, konsentrasi, bahkan produktivitas.
Penanganannya pun bukan sekadar menghindari taman bunga. Dokter biasanya merekomendasikan antihistamin untuk meredakan gejala, semprotan hidung kortikosteroid untuk mengurangi peradangan, atau dalam kasus tertentu terapi imun (imunoterapi) yang bertujuan melatih sistem imun agar tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap alergen.
Hal sederhana seperti mandi setelah beraktivitas di luar ruangan, mengganti pakaian, dan menjaga kebersihan rumah juga membantu mengurangi paparan serbuk sari. Masker pun bukan hanya pelindung dari polusi, tetapi juga bisa meminimalkan alergen yang terhirup.
Jadi, ketika seseorang terlihat tidak nyaman dengan taman bunga, itu belum tentu karena ia tidak menyukai keindahannya. Bisa jadi tubuhnya sedang bereaksi untuk menangkal terhadap partikel kecil yang tak kasat mata. Di balik bersin yang beruntun dan mata berair itu, ada sistem imun yang sedang bekerja cukup keras, untuk melindungi tubuh kita.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir