Gaya Hidup
Al Fina

Ingin Hidup Lebih Tenang? Orang Jepang Punya 3 Prinsip untuk Menghadapi Kekhawatiran

Ingin Hidup Lebih Tenang? Orang Jepang Punya 3 Prinsip untuk Menghadapi Kekhawatiran

20 Oktober 2026 | 20:11

Terkadang, kita perlu menjalani prosesnya secara bertahap sambil tetap melakukan hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Misalnya, ketika menghadapi kegagalan dalam pekerjaan, seseorang dapat memberi ruang bagi dirinya untuk merasa kecewa tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak mampu. Setelah itu, ia bisa mengevaluasi penyebab kegagalan dan menentukan langkah perbaikan.

Namun, kesabaran tidak sama dengan memendam seluruh emosi atau memaksakan diri bertahan dalam keadaan yang merugikan. Mengakui rasa lelah, berbicara dengan orang tepercaya, mengambil jeda, dan mencari bantuan juga merupakan bagian dari cara menghadapi kesulitan secara sehat.

Dengan demikian, Gaman dapat dipahami sebagai ketangguhan yang disertai kesadaran terhadap batas kemampuan diri.

Mengapa Penerimaan dan Ketangguhan Penting saat Menghadapi Overthinking?

Ketiga prinsip tersebut memiliki penekanan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi ketika seseorang menghadapi kekhawatiran.

Shouganai membantu membedakan hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Zazen mengajak seseorang kembali memperhatikan pengalaman saat ini, sedangkan Gaman menekankan kesabaran dalam menjalani proses yang tidak selalu mudah.

Dalam praktiknya, seseorang bisa memulai dengan tiga pertanyaan sederhana ketika pikiran terasa penuh.

  • Apa yang sebenarnya sedang aku khawatirkan?
  • Apakah ada tindakan nyata yang bisa aku lakukan sekarang?
  • Jika belum ada solusi, bagaimana aku bisa menjalani hari ini tanpa terus mengulang kekhawatiran yang sama?

Pertanyaan tersebut bukan jaminan bahwa pikiran akan langsung tenang. Namun, kebiasaan mengenali persoalan dan menentukan respons dapat membantu seseorang menghadapi kekhawatiran dengan lebih terarah.

Penting pula untuk tidak menjadikan filosofi kehidupan sebagai tuntutan baru untuk selalu tenang atau kuat. Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda.

Jika overthinking terus mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai kecemasan yang sulit dikendalikan, bantuan psikolog atau tenaga kesehatan mental profesional patut dipertimbangkan.

Pada akhirnya, berdamai dengan hidup bukan berarti menyukai semua hal yang terjadi. Kita tetap boleh kecewa, takut, dan merasa tidak yakin. Yang bisa dipelajari adalah bagaimana menerima kenyataan tanpa kehilangan kesempatan untuk bertindak, serta menghadapi kesulitan tanpa mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
mengelola stres Kesehatan Mental Jepang overthingking

Komentar Pengguna