Ciayumajakuning
Hilmi An Naufal

Harga Gabah Naik, Petani Ciayumajakuning Masih Tertekan Kemarau dan Biaya Produksi

Harga Gabah Naik, Petani Ciayumajakuning Masih Tertekan Kemarau dan Biaya Produksi

19 Oktober 2026 | 20:45

KebonCinta.com — Kenaikan harga gabah belum sepenuhnya memberikan keuntungan bagi petani di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan atau Ciayumajakuning, Jawa Barat.

Kondisi tersebut terjadi karena dampak musim kemarau dan keterbatasan pasokan air masih memengaruhi produktivitas pertanian di sejumlah wilayah.

Sejumlah petani mengaku menghadapi tekanan akibat biaya produksi yang tetap harus dikeluarkan meskipun hasil panen berpotensi menurun.

Persoalan tersebut disampaikan dalam laporan Bisnis.com yang dipublikasikan pada Senin, 19 Oktober 2026.

KEMARAU JADI TANTANGAN PETANI

Petani asal Kabupaten Cirebon, Usman Effendi, menjelaskan bahwa keterbatasan air menjadi persoalan penting dalam kegiatan budi daya tanaman padi.

Ketika pasokan air berkurang, pertumbuhan tanaman dapat terganggu sehingga hasil panen tidak mencapai jumlah yang diharapkan.

Menurut Usman, kenaikan harga gabah tidak selalu mampu menutupi kerugian apabila petani mengalami penurunan produktivitas.

Hal tersebut disebabkan biaya pengolahan lahan, benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja tetap harus dibayarkan selama proses produksi.

Akibatnya, petani yang mengalami gagal panen berisiko menghadapi kesulitan modal untuk memulai musim tanam berikutnya.

HARGA GABAH INDRAMAYU PERNAH DI ATAS RATA-RATA JABAR

Berdasarkan publikasi Statistik Harga Produsen Perdesaan Provinsi Jawa Barat tahun 2025, harga gabah di sejumlah daerah Ciayumajakuning berada pada tingkat yang berbeda.

Data historis tersebut menunjukkan rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di Kabupaten Indramayu mencapai sekitar Rp7.001 per kilogram.

Sementara itu, Kabupaten Cirebon tercatat sekitar Rp6.348 per kilogram dan Kabupaten Majalengka sekitar Rp6.423 per kilogram.

Angka tersebut merupakan rata-rata dalam data statistik tahun 2025, bukan harga pembelian gabah terbaru pada 19 Oktober 2026.

Perbedaan harga antardaerah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi hasil panen dan aktivitas pasar.

Meski harga gabah mengalami peningkatan pada periode tertentu, pendapatan bersih petani tetap dipengaruhi biaya produksi serta jumlah gabah yang berhasil dipanen.

PETANI MINTA PERBAIKAN IRIGASI

Usman berharap pemerintah meningkatkan perhatian terhadap ketersediaan air dan kualitas jaringan irigasi di wilayah pertanian.

Menurutnya, perbaikan pengelolaan air diperlukan untuk membantu mengurangi risiko gagal panen ketika kemarau berlangsung.

Infrastruktur irigasi yang baik dapat membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman, terutama pada wilayah persawahan yang bergantung pada pasokan dari saluran irigasi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat Ciayumajakuning merupakan salah satu kawasan pertanian di Jawa Barat.

PERLINDUNGAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN

Persoalan yang dihadapi petani memperlihatkan bahwa peningkatan pendapatan pertanian tidak hanya bergantung pada harga jual hasil panen.

Produktivitas, ketersediaan air, biaya usaha tani, serta akses terhadap sarana produksi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Ketika hasil panen berkurang, kenaikan harga gabah belum tentu mampu mengimbangi seluruh biaya yang telah dikeluarkan.

Karena itu, penguatan sistem irigasi dan pengelolaan sumber daya air diharapkan dapat membantu petani mempertahankan kegiatan produksi pada musim berikutnya.

Para petani berharap dukungan tersebut mampu mengurangi risiko kerugian sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di kawasan Ciayumajakuning.

Tags:
petani Cirebon petani Indramayu harga gabah 2026 pertanian Ciayumajakuning kemarau Jawa Barat irigasi gagal panen

Komentar Pengguna