KebonCinta.com — Pemerintah Kabupaten Tangerang memperkuat pencarian aktif kasus tuberkulosis atau TBC agar masyarakat yang terinfeksi dapat diketahui dan mendapatkan penanganan lebih cepat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menargetkan menemukan sekitar 8.000 kasus TBC hingga Desember 2026.
Target tersebut bukan berarti pemerintah berharap jumlah warga yang terkena TBC bertambah.
Penemuan kasus justru diperlukan agar orang yang sudah terinfeksi tetapi belum terdiagnosis dapat segera mendapatkan pengobatan dan tidak terus menularkan penyakit kepada orang lain.
“Targetnya kita harus menemukan 8.000 sampai Desember,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi.
Ia menjelaskan hingga saat ini sekitar 6.000 kasus telah ditemukan.
Jumlah tersebut dinilai masih berjalan sesuai target bulanan yang telah ditetapkan.
Pemerintah berharap seluruh target penemuan dapat tercapai sebelum akhir tahun.
Salah satu strategi yang digunakan adalah sistem jemput bola.
Baca Juga: Jangan Keliru, Ini Perbedaan Besaran TPG 2026 untuk Guru ASN dan Non-ASN
Kader kesehatan mendatangi masyarakat untuk membantu proses pemeriksaan.
Pendekatan tersebut dilakukan karena tidak semua orang dengan gejala bersedia datang sendiri ke fasilitas kesehatan.
Sebagian masyarakat masih merasa malu ataupun khawatir ketika harus memeriksakan diri ke puskesmas.
“Kalau tidak, nanti orangnya kadang-kadang ada yang tidak mau, malu ke puskesmas,” kata Hendra.
Ia menjelaskan kader dapat mendatangi rumah dan membantu masyarakat mendapatkan pemeriksaan.
Dinkes juga memperkuat sarana diagnosis melalui Tes Cepat Molekuler atau TCM.
Peralatan tersebut digunakan untuk membantu mendeteksi kuman penyebab TBC.
Belum seluruh puskesmas mempunyai fasilitas pemeriksaan secara mandiri.
Namun pemerintah menerapkan mekanisme rujukan agar pasien tetap dapat memperoleh layanan.
Puskesmas yang belum memiliki perangkat dapat bekerja sama dengan fasilitas terdekat yang telah mempunyai sarana pemeriksaan.
Strategi penemuan aktif penting dalam pengendalian TBC.
Seseorang dapat mengalami gejala dalam waktu lama tetapi belum mengetahui bahwa dirinya terkena penyakit tersebut.
Semakin lambat diagnosis dilakukan, semakin lama pula risiko penularan berlangsung.
TBC merupakan penyakit menular yang terutama menyerang paru-paru, meskipun dapat mengenai organ lain.
Penularannya dapat terjadi melalui udara ketika penderita TBC paru yang aktif batuk, bersin atau berbicara.
Karena itu, pemeriksaan dan pengobatan hingga tuntas menjadi bagian penting dari pengendalian penyakit.
Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan atau gejala yang mengkhawatirkan sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Diagnosis tidak seharusnya dilakukan sendiri hanya berdasarkan gejala.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan langkah penanganan yang tepat.
Target 8.000 penemuan kasus di Tangerang menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung eliminasi TBC nasional pada 2030.
Semakin banyak kasus tersembunyi ditemukan, semakin besar pula peluang pasien memperoleh pengobatan dan rantai penularan dihentikan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir