Parenting
Hilmi An Naufal

Cegah Remaja Kecanduan Gim dan Rokok, UI Ajarkan Orang Tua Teknik Say-No dan I-Language

Cegah Remaja Kecanduan Gim dan Rokok, UI Ajarkan Orang Tua Teknik Say-No dan I-Language

08 Oktober 2026 | 18:11

KebonCinta.com — Hubungan komunikasi antara orang tua dan anak dinilai mempunyai peran penting dalam mencegah remaja terjebak berbagai perilaku adiktif.

Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia memberikan pelatihan komunikasi asertif kepada orang tua dan remaja di Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi.

Program tersebut difokuskan pada pencegahan kecanduan gim serta kebiasaan merokok pada usia remaja.

Tim FIK UI menilai edukasi mengenai bahaya adiksi saja belum selalu cukup.

Lingkungan keluarga juga perlu menjadi tempat di mana remaja merasa aman untuk menceritakan masalah maupun tekanan yang sedang dihadapi.

“Kami ingin keluarga jadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara tentang masalahnya,” ujar Ketua Tim FIK UI Prof. Herni Susanti.

Menurutnya, orang tua tidak hanya perlu mengetahui risiko kecanduan.

Mereka juga membutuhkan keterampilan untuk berbicara dengan anak tanpa membuat percakapan berubah menjadi konflik.

Program melibatkan sebanyak 40 peserta.

Jumlah tersebut terdiri atas 20 pasangan orang tua dan remaja yang mengikuti dua tahap kegiatan.

Pada tahap pertama, peserta memperoleh penjelasan mengenai mekanisme munculnya kecanduan gim, gawai dan nikotin.

Mereka juga mendiskusikan berbagai persoalan yang sering dihadapi remaja, termasuk tekanan dari teman sebaya.

Salah satu materi utama adalah komunikasi asertif.

Peserta dikenalkan dengan teknik Say-No yang membantu seseorang menyampaikan penolakan secara tegas.

Kemampuan tersebut dapat berguna ketika remaja mendapatkan tekanan dari teman untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Baca Juga: ISFO 2026 Diikuti 11.952 Peserta, OJK Perkuat Literasi Keuangan Syariah 

Teknik lain yang diajarkan adalah I-Language.

Pendekatan tersebut membantu seseorang menyampaikan perasaan maupun kebutuhan tanpa langsung menyalahkan lawan bicara.

Dalam keluarga, cara komunikasi seperti ini dapat membuat diskusi menjadi lebih terbuka.

Orang tua tetap dapat menetapkan batas dan aturan, tetapi anak juga memperoleh ruang menjelaskan apa yang mereka rasakan.

Tahap kedua program digunakan untuk mengevaluasi penerapan komunikasi tersebut di rumah.

Orang tua dan remaja kemudian menyusun strategi pengawasan yang tidak terlalu mengekang.

Mereka juga membuat aturan bersama yang disepakati seluruh anggota keluarga.

Pendiri Komunitas Saung Belajar Citra Amelia mengatakan sebagian orang tua sebenarnya memahami bahaya perilaku adiktif.

Namun mereka sering kali tidak mengetahui bagaimana memulai percakapan dengan anak.

“Banyak orang tua di sini sebenarnya bingung harus mulai dari mana,” ujar Citra.

Karena itu, hubungan yang terbuka menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan.

Larangan tanpa komunikasi dapat membuat anak memilih menyembunyikan masalah atau mencari tempat bercerita di luar keluarga.

Sebaliknya, komunikasi yang terlalu bebas tanpa batas juga bukan berarti menjadi solusi.

Orang tua tetap perlu melakukan pengawasan sesuai usia dan kondisi anak.

Tujuannya adalah menemukan keseimbangan antara perlindungan, aturan dan rasa percaya.

Pencegahan kecanduan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang berapa jam anak bermain gim atau apakah anak pernah mencoba rokok.

Hubungan sehari-hari di rumah turut membentuk kemampuan remaja menghadapi tekanan, mengambil keputusan serta mencari pertolongan ketika mempunyai masalah.

UI berharap model komunikasi dan edukasi berbasis keluarga tersebut dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rumah diharapkan menjadi tempat pertama yang nyaman bagi remaja untuk bercerita sebelum sebuah persoalan berkembang menjadi lebih berat.

Tags:
Parenting Remaja Kecanduan Gim Rokok Universitas Indonesia Komunikasi Orang Tua Kesehatan Mental

Komentar Pengguna