keboncinta.com- Menyusun modul ajar berbasis Pembelajaran Mendalam menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan guru untuk menghadirkan kegiatan belajar yang lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya diminta mengingat materi, tetapi juga memahami konsep, menggunakan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, serta merefleksikan pengalaman belajarnya.
Namun, sebagian guru masih bertanya bagaimana menerjemahkan pendekatan tersebut ke dalam modul ajar yang dapat digunakan di kelas.
Apakah harus menggunakan format baru? Bagaimana menuliskan tahap memahami, mengaplikasi, dan merefleksi? Bagaimana pula menentukan asesmennya?
Berikut panduan penyusunan modul ajar Pembelajaran Mendalam beserta contoh penerapan untuk siswa sekolah dasar yang dapat dikembangkan pada jenjang lainnya.
Modul ajar merupakan dokumen perencanaan yang digunakan guru sebagai panduan melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam, modul dirancang agar siswa memperoleh pengalaman belajar melalui tiga proses penting, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025, pembelajaran perlu mempertimbangkan kesiapan peserta didik, karakteristik materi, tujuan pembelajaran, pengalaman belajar, serta asesmen.
Dengan demikian, modul ajar bukan sekadar dokumen administrasi, melainkan panduan untuk menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Tidak ada keharusan menggunakan satu format modul ajar yang seragam untuk seluruh sekolah.
Merujuk pada Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses, dokumen perencanaan pembelajaran setidaknya memuat tiga komponen:
Guru dapat menambahkan informasi seperti identitas sekolah, karakteristik peserta didik, media pembelajaran, dan kegiatan tindak lanjut.
Yang paling penting adalah kesesuaian antara tujuan, kegiatan, dan cara menilai hasil belajar.
Pada tahap memahami, siswa memperoleh kesempatan membangun pengetahuan melalui pengamatan, pertanyaan, bacaan, diskusi, atau kegiatan lainnya.
Guru perlu memastikan siswa mengetahui tujuan pembelajaran dan memahami konsep yang dipelajari.
Misalnya, ketika membahas penghematan listrik, guru mengajak siswa mengamati penggunaan lampu dan kipas angin di kelas.
Tahap mengaplikasi memberikan kesempatan kepada siswa menggunakan konsep untuk menghadapi situasi nyata.
Contohnya, siswa menyusun rekomendasi penghematan listrik berdasarkan hasil pengamatan di sekolah.
Dengan kegiatan tersebut, pengetahuan tidak berhenti pada penjelasan, tetapi digunakan untuk menyelesaikan persoalan.
Pada tahap merefleksi, siswa meninjau kembali apa yang dipahami, kesulitan yang dialami, serta cara memperbaiki hasilnya.
Refleksi dapat dilakukan melalui tulisan singkat, diskusi, atau pertanyaan lisan.
Ketiga pengalaman tersebut tidak harus berlangsung secara kaku atau selesai dalam satu pertemuan.
Baca Juga: Bukan Kurikulum Baru, Ini Arah Pembelajaran Mendalam 2026 yang Wajib Dipahami Guru
Perhatikan pengetahuan awal, kemampuan, dan pengalaman peserta didik.
Guru dapat menggunakan pertanyaan sederhana atau asesmen awal untuk mengetahui kesiapan mereka.
Susun tujuan berdasarkan capaian pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang digunakan sekolah.
Tujuan harus menjelaskan kemampuan yang dapat ditunjukkan siswa setelah kegiatan.
Tentukan kegiatan untuk membangun pemahaman, menerapkan konsep, dan melakukan refleksi.
Pilih media yang tersedia serta masalah yang dekat dengan kehidupan siswa.
Tentukan cara memeriksa pemahaman sebelum, selama, dan setelah pembelajaran.
Asesmen dapat berupa pertanyaan, observasi, hasil kerja, atau tugas praktik.
Berikut contoh sederhana yang dapat digunakan sebagai referensi penyusunan.
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Jenjang | Sekolah Dasar |
| Kelas/Fase | V / C |
| Mata Pelajaran | IPAS |
| Topik | Penghematan Energi Listrik |
| Alokasi Waktu | 2 × 35 menit |
| Pendekatan | Pembelajaran Mendalam |
| Media | Gambar, lembar observasi, alat tulis |
Contoh ini merupakan rancangan editorial yang perlu disesuaikan dengan capaian pembelajaran dan perangkat ajar sekolah.
Setelah mengikuti kegiatan, peserta didik diharapkan mampu menjelaskan pentingnya penghematan listrik, mengidentifikasi penggunaan listrik yang kurang efisien, serta menyusun rekomendasi penghematan berdasarkan pengamatan.
Dimensi profil lulusan yang dapat dikembangkan antara lain penalaran kritis, kolaborasi, dan kemandirian.
Pendahuluan — 10 menit
Guru memperlihatkan gambar ruangan dengan lampu menyala pada siang hari.
Siswa diminta menjawab pertanyaan:
"Mengapa kita perlu menghemat listrik meskipun listrik masih tersedia?"
Guru mengaitkan jawaban dengan tujuan pembelajaran.
Memahami — 15 menit
Siswa mempelajari contoh penggunaan energi listrik dalam kehidupan sehari-hari.
Guru menjelaskan manfaat listrik dan alasan pentingnya menghindari pemborosan.
Kemudian siswa mengelompokkan contoh perilaku hemat dan boros listrik.
Mengaplikasi — 25 menit
Siswa dibagi menjadi kelompok kecil untuk mengamati penggunaan listrik di kelas.
Mereka mencatat perangkat yang digunakan dan mengidentifikasi peluang penghematan.
Setiap kelompok menyusun tiga rekomendasi berdasarkan pengamatannya.
Contohnya, mematikan lampu ketika pencahayaan alami mencukupi.
Kegiatan dilakukan tanpa menyentuh kabel, stopkontak, atau instalasi listrik.
Merefleksi — 15 menit
Kelompok menyampaikan hasil pengamatan dan alasannya.
Setiap siswa kemudian menjawab:
"Apa pengetahuan baru yang saya peroleh?"
"Apa kesulitan yang saya hadapi?"
"Kebiasaan apa yang akan saya ubah setelah belajar?"
Penutup — 5 menit
Guru memberikan penguatan konsep dan mengajak siswa menyimpulkan manfaat penghematan energi.
| Tahap | Bentuk Asesmen |
|---|---|
| Awal | Pertanyaan tentang penggunaan listrik |
| Proses | Observasi dan diskusi kelompok |
| Akhir | Rekomendasi penghematan dan refleksi individu |
Guru dapat menilai ketepatan konsep, alasan yang diberikan siswa, serta kesesuaian rekomendasi dengan hasil pengamatan.
Jika siswa belum mampu menjelaskan alasan penghematan, guru dapat memberikan contoh tambahan.
Siswa yang sudah memahami konsep dapat diberi tantangan menyusun kampanye hemat energi untuk kelas.
Baca Juga: Peran Asesmen Formatif dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Kesalahan pertama adalah menuliskan tiga tahap Pembelajaran Mendalam tanpa menjelaskan aktivitas nyata siswa.
Kedua, memilih kegiatan menarik tetapi tidak berhubungan dengan tujuan pembelajaran.
Ketiga, menganggap refleksi cukup dilakukan dengan menanyakan apakah siswa senang mengikuti pelajaran.
Keempat, menggunakan hasil kerja kelompok sebagai satu-satunya bukti pemahaman semua peserta.
Guru juga sebaiknya tidak memaksakan penggunaan perangkat digital apabila pembelajaran dapat dilaksanakan dengan media sederhana.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir