Bayangkan seseorang yang berkata, “Aku mencintai diriku.” Jika cinta itu tulus, ia tentu ingin dirinya sehat, cerdas, dan bahagia. Ia tidak akan membiarkan dirinya terus-menerus terjebak dalam pola yang merusak. Cinta yang sejati selalu ingin yang terbaik bagi yang dicintai, termasuk ketika yang dicintai adalah diri sendiri.
Menariknya, mencintai versi terbaik diri juga membuat kita lebih realistis. Kita sadar bahwa ada kekurangan yang perlu diperbaiki, tetapi tanpa kebencian. Kita ingin maju, tetapi tidak dengan membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Fokusnya bukan pada menjadi seperti orang lain, melainkan memaksimalkan potensi diri sendiri.
Karena cinta yang matang bukan hanya berkata, “Aku menerima diriku.” Ia juga berani berkata, “Aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku.”
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir