Gaya Hidup
Rahman Abdullah

Bukan Kepribadian Ganda, Alter Ego Bisa Jadi Cara Siswa Membangun Semangat Belajar

Bukan Kepribadian Ganda, Alter Ego Bisa Jadi Cara Siswa Membangun Semangat Belajar

08 Oktober 2026 | 12:56

KebonCinta.com-- Istilah alter ego mungkin lebih sering terdengar dalam film ketika seorang tokoh memiliki identitas lain yang berbeda dari dirinya. Namun dalam kehidupan nyata, konsep ini juga dikenal dan pernah digunakan oleh sejumlah figur publik untuk menampilkan sisi diri tertentu yang mereka miliki.

Meski demikian, alter ego sering disalahartikan sebagai kepribadian ganda. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Dalam konteks psikologi populer, alter ego dapat dipahami sebagai karakter atau sisi diri yang sengaja dibentuk seseorang secara sadar untuk menghadapi situasi tertentu.

Menariknya, konsep tersebut juga dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk membantu siswa membangun motivasi ketika belajar.

Baca Juga: Mengenal Penguatan Pendidikan Karakter, Kebiasaan Sederhana yang Membentuk Anak Hebat 

Alter Ego Berbeda dengan Kepribadian Ganda

Alter ego pada dasarnya merupakan karakter alternatif yang sengaja diciptakan atau dikembangkan oleh seseorang. Karakter tersebut biasanya menggambarkan sifat-sifat yang ingin ditonjolkan, misalnya lebih percaya diri, berani, disiplin, atau tegas.

Sejumlah artis dunia pernah dikenal memiliki persona berbeda dalam perjalanan karier mereka. Namun, keberadaan alter ego tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan psikologis.

Hal ini berbeda dengan gangguan identitas disosiatif yang sebelumnya sering disebut sebagai kepribadian ganda. Pada kondisi tersebut, perubahan identitas bukan sekadar karakter yang sengaja dimainkan seseorang sesuai keinginannya.

Karena itu, penggunaan istilah alter ego sebaiknya tidak disamakan dengan gangguan kepribadian.

Bisa Digunakan untuk Membangun Motivasi Belajar

Konsep karakter alternatif ternyata dapat diterapkan dalam konteks pendidikan. Siswa dapat diajak membayangkan sosok yang mereka kagumi dan kemudian mengambil sifat positif dari tokoh tersebut.

Misalnya, seorang siswa mengagumi Ir. Soekarno. Guru atau orang tua dapat mengajak anak membayangkan bagaimana seorang tokoh yang dikenal berani, percaya diri, memiliki kemampuan berbicara, serta mempunyai semangat memperjuangkan bangsa tersebut ketika menghadapi tantangan.

Kemudian, siswa dapat membayangkan dirinya memiliki sebagian karakter positif tersebut ketika sedang belajar.

Tujuannya bukan membuat anak benar-benar merasa sebagai tokoh tersebut. Yang ingin dibangun adalah perubahan cara berpikir. Siswa diarahkan untuk bertanya, “Kalau saya memiliki keberanian dan semangat seperti tokoh yang saya kagumi, bagaimana saya akan menghadapi pelajaran ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu anak mengambil jarak dari rasa malas, takut gagal, atau kurang percaya diri.

Baca Juga: Bukan Sekadar Promosi, Begini Konsep Pendidikan Pesantren Kebon Cinta Cirebon Sejak 2018 

Ada Konsep Batman Effect dalam Psikologi

Gagasan menggunakan karakter sebagai pendorong motivasi pernah menjadi perhatian penelitian psikologi. Ethan Kross, profesor psikologi dari University of Michigan, bersama peneliti lain mengkaji bagaimana anak-anak dapat menggunakan perspektif karakter tertentu untuk membantu mereka bertahan dalam mengerjakan tugas.

Salah satu pendekatan yang dikenal adalah Batman Effect. Anak diminta membayangkan dirinya sebagai karakter yang memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan. Dengan mengambil sudut pandang tersebut, anak dapat terdorong untuk lebih tekun dalam menyelesaikan tugas.

Konsep serupa dapat diterapkan secara sederhana di lingkungan sekolah. Siswa tidak harus menggunakan tokoh superhero. Mereka dapat memilih siapa pun yang menjadi inspirasi, selama sifat yang ditiru bersifat positif dan sesuai dengan tujuan belajar.

Tetap Harus Ada Batasnya

Menggunakan alter ego sebagai strategi motivasi tentu tidak berarti siswa harus terus-menerus hidup sebagai karakter yang dibayangkannya.

Penggunaan konsep ini sebaiknya hanya menjadi alat untuk membantu anak membangun keberanian, disiplin, ketekunan, atau semangat pada situasi tertentu. Setelah tugas selesai, siswa tetap kembali pada dirinya sendiri.

Guru dan orang tua juga perlu memperhatikan respons anak. Jika kegiatan tersebut justru membuat siswa tertekan, merasa harus selalu menjadi sosok ideal, atau tidak nyaman dengan dirinya sendiri, metode tersebut sebaiknya dihentikan.

Pada akhirnya, tujuan utama penggunaan alter ego dalam belajar bukan menciptakan kepribadian baru. Cara ini lebih tepat dipandang sebagai latihan mengambil perspektif lain agar siswa dapat menemukan sisi positif dalam dirinya dan menggunakannya untuk menghadapi tantangan belajar.

Baca Juga: Jangan Panik Saat Rasa Cinta Berubah, Bisa Jadi Hubungan Sedang Naik Level 

Dengan pendekatan yang tepat, sosok yang dikagumi anak bukan hanya menjadi idola, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangun keberanian dan kebiasaan belajar yang lebih baik.***

Tags:
alter ego Siswa belajar

Komentar Pengguna