Psikolog klinis Sophie Lazarus menjelaskan bahwa waktu sendiri dapat memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mereda dari berbagai rangsangan.
Ketika seseorang tidak harus terus merespons lingkungan, ia bisa lebih leluasa memperhatikan kondisi dirinya dan melakukan aktivitas yang menenangkan.
Contohnya, mengambil napas perlahan, membaca buku, menikmati suasana alam, atau beristirahat tanpa melihat layar ponsel.
Namun, menyendiri bukan solusi tunggal untuk semua masalah stres. Jika tekanan berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Kebiasaan menikmati waktu sendiri terkadang dikaitkan dengan kecerdasan tinggi. Namun, tidak tepat jika seseorang langsung dianggap memiliki IQ tinggi hanya karena lebih senang menyendiri.
Preferensi sosial dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kepribadian, pengalaman, kondisi lingkungan, dan kebutuhan untuk beristirahat.
Orang yang gemar bersosialisasi juga bisa memiliki kemampuan berpikir dan mengelola emosi yang baik. Sebaliknya, seseorang yang lebih suka menyendiri belum tentu selalu nyaman dengan kondisi tersebut.
Hal terpenting adalah memahami apakah waktu sendiri membantu seseorang merasa lebih baik atau justru membuatnya semakin terisolasi.
Jika kesendirian dilakukan secara seimbang dan tetap diiringi hubungan sosial yang sehat, kebiasaan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk merawat diri.
Jadi, menikmati waktu sendiri bukan sesuatu yang perlu dipandang negatif. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk memulihkan energi dan menjaga keseimbangan emosionalnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir