KebonCinta.com - Seorang anak laki-laki menangis setelah mengalami kegagalan, lalu diminta berhenti karena dianggap harus kuat. Pesan sederhana seperti ini dapat ikut membentuk pemahamannya tentang perilaku yang pantas ditunjukkan laki-laki.
Ketika harapan tersebut terus diulang, standar maskulinitas bisa terasa seperti sesuatu yang sudah melekat sejak lahir. Padahal, gambaran mengenai laki-laki ideal juga dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya.
Dosen Filsafat Universitas Gadjah Mada, Rachmad Hidayat, membahas hal tersebut dalam webinar Masculinity, Democracy and Peace: Membangun Kepemimpinan Inklusif. Menurutnya, maskulinitas terbentuk melalui norma, nilai, praktik, dan perilaku.
Baca Juga: Di Balik Tuntutan “Harus Kuat”: Laki-Laki dan Tekanan Maskulinitas
Pandangan tentang maskulinitas berkembang melalui interaksi sehari-hari. Keluarga, pergaulan, dan lingkungan masyarakat menghadirkan contoh tentang bagaimana laki-laki diharapkan berbicara, bersikap, serta menghadapi persoalan.
Sebagai ilustrasi, keberanian menyampaikan pendapat dapat dianggap sebagai tanda ketegasan. Dalam lingkungan berbeda, kemampuan menahan diri justru lebih dihargai.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ukuran maskulinitas tidak selalu seragam. Rachmad menjelaskan bahwa maskulinitas bersifat dinamis, mengikuti ruang, waktu, keadaan, dan relasi sosial.
Harapan terhadap laki-laki juga tidak selalu selaras. Mereka dapat dituntut tegas, tetapi sekaligus diminta memahami kebutuhan orang lain.
“Maskulinitas tidak pernah koheren, pasti ada paradoks dan beberapa aspek yang tumpang tindih, bahkan irasional,” ujar Rachmad dalam bahan pemberitaan.
Ketegasan dan kepedulian sebenarnya dapat berjalan bersama. Namun, ketika ketegasan hanya dimaknai sebagai sikap keras, menunjukkan kelembutan bisa dianggap tidak sesuai dengan gambaran laki-laki ideal.
Keadaan ini memperlihatkan bagaimana pemaknaan sosial dapat mempersempit pilihan seseorang dalam mengekspresikan dirinya.
Menurut Rachmad, gambaran maskulinitas turut terakumulasi melalui film, sastra, dan kebudayaan populer.
Tokoh laki-laki yang berulang kali ditampilkan sebagai sosok kuat dan selalu mengatasi masalah sendirian dapat membuat gambaran tersebut semakin akrab.
Sebaliknya, cerita yang memberi ruang bagi tokoh laki-laki untuk ragu, peduli, atau meminta bantuan menghadirkan gambaran yang lebih beragam.
Menelusuri pengaruh budaya membantu kita mempertanyakan standar yang selama ini dianggap alami. Dari mana harapan itu berasal, dan apakah masih sesuai dengan kehidupan sekarang?
Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi laki-laki untuk mengenali dirinya secara lebih luas. Mereka dapat mengembangkan keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab tanpa harus mengikuti satu gambaran ideal yang sempit dalam menjalani hubungan serta kehidupan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir