keboncinta.com- Kehadiran Tes Kemampuan Akademik (TKA) menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan guru, kepala sekolah, peserta didik, dan orang tua. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah nilai TKA akan memengaruhi hasil Rapor Pendidikan sekolah. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa apabila nilai TKA peserta didik rendah, nilai Rapor Pendidikan sekolah juga akan otomatis mengalami penurunan.
Anggapan tersebut perlu diluruskan karena TKA, Asesmen Nasional (AN), dan Rapor Pendidikan memiliki fungsi yang berbeda dalam sistem evaluasi pendidikan Indonesia.
TKA digunakan untuk mengukur capaian akademik individu murid pada mata pelajaran tertentu melalui asesmen terstandar. Sementara itu, Asesmen Nasional merupakan evaluasi sistem pendidikan, sedangkan Rapor Pendidikan menyajikan informasi mengenai kondisi mutu layanan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan dan wilayah.
Ketiganya dapat saling melengkapi dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, hubungan tersebut tidak berarti nilai TKA seorang peserta didik secara otomatis menjadi nilai Rapor Pendidikan sekolah.
Tes Kemampuan Akademik atau TKA merupakan asesmen terstandar yang diselenggarakan untuk mengukur capaian kemampuan akademik peserta didik pada mata pelajaran tertentu.
Menurut penjelasan Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, TKA dikembangkan untuk menyediakan informasi capaian akademik individu yang lebih terstandar dan dapat digunakan dalam konteks tertentu, termasuk kebutuhan seleksi akademik.
Salah satu latar belakang penyelenggaraan TKA adalah adanya perbedaan praktik penilaian antarsatuan pendidikan. Nilai rapor sekolah tetap penting, tetapi standar dan karakteristik penilaiannya dapat bervariasi.
Dalam situasi yang memerlukan perbandingan capaian akademik antarpeserta didik dari sekolah berbeda, hasil asesmen terstandar dapat menjadi informasi tambahan.
TKA tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh proses penilaian yang dilakukan guru. Penilaian harian, tugas, proyek, asesmen formatif, dan asesmen sumatif di sekolah tetap memiliki peran penting dalam pembelajaran.
TKA juga tidak sama dengan Ujian Nasional yang pernah diterapkan sebelumnya.
Nilai TKA tidak boleh dianggap otomatis menaikkan atau menurunkan indikator Rapor Pendidikan sekolah.
Alasannya, Rapor Pendidikan memiliki sistem indikator dan sumber data tersendiri. Dalam kerangka evaluasi mutu pendidikan, Asesmen Nasional merupakan salah satu sumber penting untuk menggambarkan kondisi satuan pendidikan.
Sementara itu, TKA menghasilkan informasi capaian akademik murid pada mata pelajaran yang diujikan.
Kemendikdasmen menjelaskan bahwa TKA tidak menggantikan Asesmen Nasional. Keduanya memiliki tujuan, peserta, dan bentuk pelaporan yang berbeda.
Namun, perlu diperhatikan bahwa pemanfaatan data asesmen dalam sistem evaluasi pendidikan dapat berkembang mengikuti kebijakan pemerintah.
Pusat Asesmen Pendidikan juga menjelaskan bahwa hasil TKA berpotensi melengkapi informasi Asesmen Nasional untuk pemetaan mutu hasil belajar pada akhir jenjang pendidikan.
Oleh sebab itu, terdapat dua hal yang harus dibedakan:
Sekolah sebaiknya merujuk pada definisi indikator dan sumber data yang ditampilkan dalam Rapor Pendidikan pada periode yang sedang digunakan untuk memastikan apakah terdapat pembaruan kebijakan mengenai pemanfaatan hasil TKA.
Ketiga istilah ini sering disebut secara bersamaan, tetapi sebenarnya tidak memiliki fungsi yang identik.
| Aspek | TKA | Asesmen Nasional | Rapor Pendidikan |
|---|---|---|---|
| Bentuk | Asesmen terstandar | Evaluasi sistem pendidikan | Platform pelaporan dan evaluasi mutu |
| Fokus utama | Capaian akademik individu pada mata pelajaran tertentu | Mutu hasil belajar dan lingkungan belajar pada tingkat sistem | Gambaran berbagai indikator mutu pendidikan |
| Pelaporan | Hasil peserta TKA | Hasil agregat untuk evaluasi sistem | Indikator satuan pendidikan dan wilayah sesuai kewenangan akses |
| Kegunaan | Informasi akademik individu, kebutuhan seleksi tertentu, dan pemetaan | Evaluasi mutu sistem pendidikan | Identifikasi masalah dan perencanaan perbaikan |
| Penentu kelulusan | Tidak | Tidak | Tidak |
| Hubungan dengan perbaikan sekolah | Menjadi informasi tambahan mengenai capaian akademik | Memberikan gambaran mutu pada tingkat sistem | Membantu menentukan prioritas pembenahan |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa TKA tidak tepat diperlakukan sebagai pengganti Asesmen Nasional ataupun Rapor Pendidikan.
TKA merupakan instrumen asesmen, sedangkan Rapor Pendidikan merupakan sarana untuk memahami kondisi mutu pendidikan berdasarkan indikator dan data yang tersedia.
Perbedaan paling mendasar terletak pada tujuan pengukuran dan tingkat pelaporan hasilnya.
TKA dirancang untuk memberikan informasi mengenai capaian akademik peserta didik pada mata pelajaran tertentu.
Peserta yang mengikuti TKA memperoleh hasil yang dapat digunakan sesuai ketentuan pemanfaatannya.
Hasil tersebut dapat menjadi salah satu bahan refleksi mengenai penguasaan kompetensi akademik, baik bagi peserta didik maupun satuan pendidikan.
Asesmen Nasional tidak dirancang sebagai ujian kelulusan individu.
AN digunakan untuk mengevaluasi mutu pendidikan melalui instrumen yang mencakup Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
AKM berfokus pada kompetensi literasi membaca dan numerasi yang mendasar bagi proses belajar.
Survei Karakter berkaitan dengan aspek karakter peserta didik, sedangkan Survei Lingkungan Belajar membantu memberikan gambaran mengenai kondisi yang mendukung proses pendidikan.
Hasil AN digunakan pada tingkat satuan pendidikan dan wilayah untuk mendukung evaluasi sistem, bukan untuk menerbitkan nilai ujian kelulusan bagi setiap murid.
Baca Juga: Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi TKA
Tidak. Kemendikdasmen telah menjelaskan bahwa penyelenggaraan TKA tidak menggantikan Asesmen Nasional.
Keduanya hadir untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda.
Asesmen Nasional memberikan gambaran mutu sistem pendidikan, sementara TKA menyediakan informasi capaian akademik individu pada mata pelajaran tertentu.
Sekolah karena itu tidak seharusnya menghentikan perhatian terhadap indikator Rapor Pendidikan hanya karena telah mengikuti TKA.
Sebaliknya, hasil kedua asesmen dapat dipelajari sesuai tujuan masing-masing untuk memperkaya pemahaman mengenai kebutuhan pembelajaran.
Berdasarkan penjelasan resmi Pusat Asesmen Pendidikan, cakupan mata pelajaran TKA berbeda menurut jenjang.
Untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs atau sederajat, mata pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia dan Matematika.
Untuk jenjang SMA/MA/SMK/MAK atau sederajat, TKA mencakup Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan dua mata pelajaran pilihan.
Pilihan mata pelajaran pada jenjang pendidikan menengah atas mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Cakupan tersebut menunjukkan bahwa TKA mengukur capaian akademik berdasarkan mata pelajaran, bukan sekadar mengulang pengukuran literasi dan numerasi umum dalam Asesmen Nasional.
Walaupun demikian, soal TKA dapat menekankan kemampuan bernalar, memahami konsep, dan menyelesaikan masalah.
Karena ketentuan teknis dapat diperbarui, sekolah dan peserta didik perlu memeriksa informasi terbaru melalui portal resmi TKA sebelum melakukan pendaftaran atau persiapan.
Tidak. TKA bukan penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.
Kemendikdasmen menegaskan bahwa kelulusan ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil penilaian sesuai ketentuan yang berlaku.
Artinya, peserta didik tidak otomatis dinyatakan tidak lulus hanya karena memperoleh hasil TKA rendah.
Sekolah tetap bertanggung jawab melaksanakan proses penilaian dan menetapkan kelulusan sesuai peraturan.
Orang tua dan peserta didik juga perlu membedakan fungsi TKA sebagai asesmen akademik dengan ketentuan seleksi pendidikan lanjutan yang mungkin menggunakan hasil TKA sebagai salah satu komponen.
Penggunaan hasil TKA dalam suatu jalur seleksi harus mengikuti aturan resmi jalur tersebut dan tidak dapat disamakan dengan syarat kelulusan sekolah.
Perbedaan hasil antara TKA dan indikator yang ditampilkan dalam Rapor Pendidikan tidak selalu menunjukkan adanya kesalahan.
Ada beberapa alasan yang perlu diperhatikan.
TKA mengukur capaian akademik dalam mata pelajaran tertentu.
Sementara itu, indikator literasi dan numerasi yang bersumber dari Asesmen Nasional memiliki kerangka pengukuran tersendiri.
Seorang peserta didik dapat menunjukkan kemampuan yang berbeda ketika menghadapi jenis kompetensi, konteks soal, atau tuntutan penalaran yang berbeda.
TKA menghasilkan informasi capaian individu peserta.
Rapor Pendidikan menampilkan indikator pada tingkat satuan pendidikan berdasarkan sumber data yang digunakan.
Karena itu, nilai seorang siswa tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan capaian agregat sekolah seolah-olah keduanya menggunakan satuan pengukuran yang identik.
Asesmen Nasional menggunakan mekanisme peserta yang ditentukan untuk evaluasi sistem pendidikan.
TKA ditujukan bagi peserta pada akhir jenjang pendidikan sesuai ketentuan penyelenggaraannya.
Perbedaan kelompok peserta dapat menyebabkan gambaran hasil yang tidak sepenuhnya sama.
Hasil asesmen dipengaruhi oleh periode pelaksanaan dan kompetensi yang diukur.
Sekolah perlu memastikan tahun data, kelompok peserta, dan definisi indikator sebelum membandingkan hasil.
Angka yang dihasilkan dari dua instrumen asesmen tidak selalu berada pada skala yang sama.
Karena itu, sekolah tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa nilai TKA tertentu setara dengan nilai AKM atau indikator Rapor Pendidikan tertentu tanpa dasar metodologis resmi.
Walaupun tidak boleh dianggap otomatis menentukan capaian Rapor Pendidikan, hasil TKA tetap dapat menjadi informasi tambahan yang bermanfaat.
Sekolah dapat memanfaatkannya melalui beberapa langkah.
Sekolah perlu memahami bentuk laporan TKA, mata pelajaran yang diukur, serta batasan interpretasinya.
Hindari membuat kesimpulan yang lebih luas daripada informasi yang diberikan oleh laporan.
Hasil TKA dapat dipelajari bersama hasil asesmen kelas dan nilai rapor.
Namun, perbandingan harus mempertimbangkan perbedaan tujuan, materi, serta metode penilaian.
Apabila ditemukan perbedaan yang cukup besar, sekolah dapat meninjau kesesuaian instrumen penilaian internal dengan kompetensi yang seharusnya dikuasai peserta didik.
Jika laporan yang tersedia menunjukkan kelemahan pada kompetensi tertentu, guru dapat menggunakannya sebagai bahan refleksi.
Sebagai contoh, peserta didik mungkin membutuhkan penguatan dalam memahami bacaan akademik atau menyelesaikan persoalan matematika yang memerlukan beberapa tahap penalaran.
Temuan tersebut perlu diperiksa kembali melalui asesmen pembelajaran yang lebih rinci.
Guru dapat memperbaiki strategi pembelajaran melalui latihan penalaran, diskusi pemecahan masalah, asesmen formatif, dan pemberian umpan balik.
Tujuannya bukan hanya meningkatkan hasil tes berikutnya, tetapi memperkuat pemahaman konsep peserta didik.
Setelah program dilaksanakan, sekolah perlu memantau perkembangan kemampuan siswa melalui instrumen penilaian yang relevan.
Evaluasi tidak harus menunggu pelaksanaan TKA berikutnya.
Asesmen kelas dapat membantu guru mengetahui apakah perubahan pembelajaran telah memberikan hasil.
Misalnya, sebuah SMA memperoleh gambaran bahwa indikator literasi dalam Rapor Pendidikan relatif baik, tetapi sebagian peserta TKA menunjukkan kesulitan pada soal Bahasa Indonesia yang membutuhkan analisis mendalam.
Apakah kondisi tersebut berarti data Rapor Pendidikan salah?
Belum tentu.
Sekolah perlu memeriksa terlebih dahulu apakah kompetensi, kelompok peserta, dan periode pengukurannya sama.
Kemudian, guru dapat menganalisis pekerjaan siswa untuk mengetahui apakah kesulitan tersebut berkaitan dengan penarikan kesimpulan, evaluasi argumen, atau pemahaman teks yang kompleks.
Hasil analisis dapat digunakan untuk memperkuat strategi pembelajaran membaca kritis.
Sebaliknya, apabila indikator literasi Rapor Pendidikan memerlukan perbaikan tetapi hasil TKA sebagian siswa tergolong baik, sekolah tidak boleh langsung mengabaikan indikator Rapor Pendidikan.
Perbedaan itu justru menjadi alasan untuk memeriksa data dan kondisi pembelajaran lebih mendalam.
Contoh ini bersifat ilustratif, bukan hasil penelitian atau data sekolah tertentu.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir