keboncinta.com- Sebagian orang pernah merasakan gerakan atau tekanan di perut ketika sedang melaksanakan sholat. Sensasi tersebut terkadang membuat seseorang khawatir telah mengeluarkan kentut sehingga wudhunya dianggap batal.
Kebingungan semakin besar apabila tidak terdengar suara ataupun tercium bau. Akibatnya, sebagian orang memilih mengulangi wudhu dan sholat meskipun belum yakin bahwa kentut benar-benar keluar.
Dalam Islam, terdapat ketentuan mengenai keraguan terhadap keluarnya hadas yang dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.
Dalam fikih Islam, keluarnya angin dari dubur merupakan salah satu hal yang membatalkan wudhu.
Namun, sekadar merasakan gerakan dalam perut atau mengira ada angin keluar tidak otomatis membatalkan wudhu.
Seseorang yang sebelumnya telah berwudhu tetap dihukumi suci apabila hanya mengalami keraguan mengenai keluarnya hadas.
Hal tersebut sesuai dengan kaidah fikih bahwa keyakinan tidak hilang hanya karena keraguan.
Baca Juga: Doa Sebelum dan Sesudah Wudhu Lengkap Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA:
Arab:
إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
Artinya:
"Apabila salah seorang di antara kalian merasakan sesuatu di perutnya, kemudian ragu apakah ada sesuatu yang keluar atau tidak, maka janganlah ia meninggalkan masjid sampai mendengar suara atau mencium bau."
(HR. Muslim Nomor 362)
Hadis tersebut memberikan tuntunan agar seseorang tidak membatalkan sholat hanya berdasarkan dugaan.
Tidak. Kentut yang benar-benar keluar tetap membatalkan wudhu meskipun tidak mengeluarkan suara ataupun bau.
Penyebutan suara dan bau dalam hadis merupakan contoh tanda yang membantu seseorang memperoleh kepastian.
Karena itu, hadis tersebut tidak berarti bahwa kentut tanpa suara dan bau tidak membatalkan wudhu.
Apabila seseorang yakin angin telah keluar, wudhunya batal meskipun tidak mendengar ataupun mencium apa pun.
Sebaliknya, jika hanya merasakan gerakan di perut tanpa kepastian keluarnya angin, keadaan suci sebelumnya tetap berlaku.
Baca Juga: Perbedaan Mani, Madzi, dan Wadi serta Pengaruhnya terhadap Wudhu dan Mandi Wajib
Misalnya, seseorang sedang melaksanakan sholat Zuhur dan merasakan tekanan di perut.
Ia kemudian bertanya dalam hati apakah telah mengeluarkan angin.
Jika tidak yakin terjadi hadas, ia dapat melanjutkan sholat.
Tidak perlu langsung menghentikan ibadah, keluar dari barisan jamaah, atau mengulang wudhu hanya karena muncul perasaan tersebut.
Namun, apabila benar-benar yakin telah mengeluarkan angin, ia harus berhenti melaksanakan sholat dan kembali bersuci.
Keyakinan berarti seseorang memiliki kepastian mengenai suatu keadaan.
Sementara itu, keraguan terjadi ketika seseorang belum dapat memastikan apakah suatu peristiwa benar-benar terjadi.
Contohnya:
Keadaan pertama: Seseorang yakin sudah berwudhu, lalu ragu apakah kentut keluar.
Hukumnya, wudhu tetap dianggap ada.
Keadaan kedua: Seseorang yakin telah kentut, kemudian ragu apakah sudah berwudhu kembali.
Hukumnya, ia belum dianggap kembali suci sampai ada kepastian telah berwudhu.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa penentuan hukum mengikuti keadaan yang terakhir benar-benar diyakini.
Keraguan mengenai kentut dapat terjadi berulang kali, terutama pada orang yang mudah mengalami waswas saat beribadah.
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
Apabila sensasi perut disertai gangguan pencernaan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan medis juga dapat dilakukan.
Dengan memahami ketentuan tersebut, seorang Muslim dapat menjaga kesucian dan melaksanakan sholat secara lebih tenang tanpa terjebak dalam keraguan yang berulang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir