KebonCinta.com - Kehadiran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dikembangkan Kementerian Agama menimbulkan pertanyaan mengenai kedudukannya dalam sistem pendidikan madrasah.
Sebagian masyarakat mungkin menganggap KBC sebagai kurikulum baru yang menggantikan seluruh sistem pembelajaran sebelumnya.
Padahal, pendekatan tersebut lebih menekankan penguatan nilai karakter dalam proses pendidikan.
Lantas, apa perbedaan Kurikulum Berbasis Cinta dengan kurikulum yang telah digunakan di madrasah?
Baca Juga: Kemenag Siapkan Kurikulum Pemberdayaan untuk Madrasah Aliyah dan Pesantren, Seperti Apa?
Kemenag menjelaskan bahwa KBC tidak dimaksudkan sebagai pengganti Kurikulum Merdeka.
Dalam sosialisasi yang dilaksanakan di MTsN 10 Sleman, tim pengembang kurikulum menjelaskan bahwa KBC memperkaya pembelajaran melalui pengintegrasian nilai akhlak dan kemanusiaan.
Pendekatan ini diarahkan untuk menjadi bagian dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.
Artinya, guru tetap perlu memperhatikan capaian pembelajaran dan ketentuan kurikulum yang berlaku.
Baca Juga: Mengenal Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag, Ini 6 Nilai Utama yang Ditanamkan kepada Siswa
Perbedaan yang ditekankan KBC terletak pada cara nilai cinta diintegrasikan ke dalam kegiatan pendidikan.
Misalnya, dalam pembelajaran IPA, siswa tidak hanya mempelajari pencemaran lingkungan, tetapi juga diajak memahami tanggung jawab menjaga alam.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kegiatan diskusi dapat digunakan untuk membiasakan siswa menghargai pendapat orang lain.
Sementara itu, pembelajaran agama dapat memperkuat pemahaman tentang kasih sayang dan kepedulian sosial.
Contoh tersebut merupakan ilustrasi penerapan KBC, bukan daftar kegiatan wajib untuk seluruh madrasah.
Baca Juga: Bahasa Inggris Bakal Wajib di MI Mulai 2027, Begini Persiapan Kemenag Menghadapi Perubahan Kurikulum
KMA Nomor 1503 Tahun 2025 merupakan perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang pedoman implementasi kurikulum madrasah.
Kebijakan tersebut menekankan pendekatan pembelajaran mendalam dan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta.
Dengan demikian, KBC lebih tepat dipahami sebagai pendekatan yang memperkuat orientasi pendidikan, bukan penggantian seluruh mata pelajaran.
Guru diharapkan mampu menghubungkan materi akademik dengan pembentukan karakter sehingga kegiatan belajar menjadi lebih bermakna.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir