keboncinta.com- Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, tesis, atau artikel ilmiah menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) mungkin sering menemukan istilah PRISMA. Istilah tersebut biasanya muncul bersama diagram berisi kotak dan panah yang menunjukkan jumlah artikel hasil pencarian hingga penelitian yang akhirnya digunakan.
Namun, tidak sedikit mahasiswa yang menganggap PRISMA hanya sebagai diagram untuk memperindah bagian metode penelitian.
Padahal, PRISMA mempunyai fungsi lebih luas, yaitu membantu peneliti melaporkan proses tinjauan sistematis secara transparan dan dapat diperiksa.
Lantas, apa itu PRISMA, bagaimana cara membaca diagramnya, dan bagaimana menghitung jumlah artikel yang lolos seleksi?
PRISMA merupakan singkatan dari Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses.
PRISMA adalah pedoman pelaporan yang membantu peneliti menjelaskan bagaimana suatu tinjauan sistematis dilakukan dan dilaporkan.
Versi yang menjadi rujukan luas saat ini adalah PRISMA 2020, yang memperbarui pedoman sebelumnya.
Menurut situs resmi PRISMA Statement, PRISMA 2020 menyediakan daftar periksa pelaporan, panduan penjelasan, serta templat diagram alir.
PRISMA bukan perangkat lunak yang secara otomatis mencari atau memilih artikel. Pedoman ini juga bukan metode tunggal untuk menentukan kualitas penelitian.
Peneliti tetap perlu menyusun pertanyaan penelitian, strategi pencarian, kriteria seleksi, dan metode analisis yang sesuai.
Diagram PRISMA digunakan untuk memperlihatkan perjalanan hasil pencarian literatur hingga menjadi kumpulan penelitian yang memenuhi kriteria.
Melalui diagram tersebut, pembaca dapat mengetahui berapa banyak artikel ditemukan, berapa yang terdeteksi duplikat, berapa yang dikeluarkan setelah diperiksa, serta berapa yang akhirnya masuk dalam kajian.
Diagram juga membantu memperjelas alasan suatu laporan penelitian tidak dimasukkan pada tahap pemeriksaan teks lengkap.
Dengan demikian, proses pemilihan literatur menjadi lebih mudah ditelusuri.
Tahap pertama adalah mencari penelitian dari sumber yang telah ditetapkan.
Peneliti dapat menggunakan basis data seperti PubMed, Scopus, Web of Science, atau sumber akademik lainnya sesuai topik dan akses yang tersedia.
Contohnya, penelitian mengenai strategi pembelajaran digital menemukan 250 rekaman dari basis data pertama dan 150 dari basis data kedua.
Jumlah awalnya menjadi 400 rekaman.
Peneliti kemudian mengidentifikasi hasil duplikat dan mengeluarkannya sebelum proses penyaringan berikutnya.
Setelah rekaman duplikat dikeluarkan, peneliti membaca judul dan abstrak untuk memeriksa kesesuaiannya dengan kriteria.
Misalnya, suatu penelitian mensyaratkan artikel yang membahas penggunaan media digital dalam pembelajaran siswa SMP.
Artikel tentang pemasaran digital yang tidak berkaitan dengan pembelajaran dapat dikeluarkan pada tahap ini.
Jumlah artikel yang disaring dan dikeluarkan perlu dicatat.
Artikel yang lolos tahap awal kemudian dicari teks lengkapnya.
Peneliti membaca metode, karakteristik peserta, hasil, serta unsur lain berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Pada tahap ini, sebagian artikel mungkin dikeluarkan karena populasinya tidak sesuai, desain penelitiannya tidak memenuhi kriteria, atau luaran yang diteliti berbeda.
Alasan pengecualian perlu dinyatakan secara spesifik.
Tahap terakhir menunjukkan jumlah studi yang dimasukkan dalam tinjauan sistematis.
Penelitian yang lolos selanjutnya dianalisis untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Namun, tidak semua systematic literature review harus dilanjutkan dengan meta-analisis.
Meta-analisis merupakan metode penggabungan hasil secara statistik yang hanya sesuai apabila karakteristik data dan pertanyaan penelitiannya memungkinkan.
Baca Juga: Butuh Referensi Skripsi? Ini 7 Situs Pencari Jurnal yang Bisa Diakses Gratis
Berikut simulasi sederhana untuk memahami hubungan jumlah artikel pada setiap tahap.
| Tahapan | Jumlah |
|---|---|
| Rekaman ditemukan dari dua basis data | 400 |
| Rekaman duplikat dihapus | 80 |
| Rekaman diperiksa berdasarkan judul dan abstrak | 320 |
| Rekaman dikeluarkan saat screening | 230 |
| Laporan yang dicari teks lengkapnya | 90 |
| Laporan tidak berhasil diperoleh | 10 |
| Laporan teks lengkap dinilai kelayakannya | 80 |
| Laporan dikeluarkan setelah pemeriksaan lengkap | 55 |
| Laporan yang disertakan dalam kajian | 25 |
Dalam simulasi tersebut, 55 laporan dikeluarkan karena alasan tertentu, misalnya 25 tidak memenuhi karakteristik peserta, 20 menggunakan desain yang tidak sesuai, dan 10 tidak melaporkan hasil yang dibutuhkan.
Dengan asumsi setiap laporan mewakili satu studi berbeda, jumlah akhir adalah 25 studi.
Angka tersebut hanya ilustrasi pembelajaran, bukan hasil systematic review yang benar-benar dilakukan.
Salah satu hal yang sering terlewat adalah perbedaan tiga istilah berikut.
Records merupakan rekaman hasil pencarian pada basis data, biasanya memuat judul, penulis, abstrak, dan informasi bibliografi.
Reports merupakan dokumen yang memberikan informasi mengenai penelitian, misalnya artikel jurnal, disertasi, atau laporan penelitian.
Studies merupakan penelitian yang dilakukan.
Satu penelitian dapat mempunyai lebih dari satu laporan. Oleh sebab itu, jumlah laporan yang disertakan tidak selalu sama dengan jumlah studi yang ditinjau.
Perbedaan ini dijelaskan dalam pedoman PRISMA 2020 yang diterbitkan BMJ.
Peneliti dapat mengikuti langkah berikut:
Templat dapat diunduh melalui halaman resmi PRISMA 2020 Flow Diagram.
Gunakan templat sesuai jenis tinjauan, baik tinjauan baru maupun pembaruan penelitian sebelumnya.
Kesalahan pertama adalah membuat angka diagram berdasarkan perkiraan, bukan catatan pencarian yang benar-benar dilakukan.
Kedua, menggunakan jumlah hasil Google Scholar secara langsung tanpa mengidentifikasi rekaman yang benar-benar diambil.
Ketiga, tidak mencatat alasan pengecualian pada pemeriksaan teks lengkap.
Keempat, menyamakan jumlah rekaman dengan jumlah studi.
Kelima, menganggap semua artikel yang lolos seleksi otomatis memiliki kualitas metodologis tinggi.
Penilaian kualitas atau risiko bias tetap membutuhkan metode dan instrumen yang sesuai.
Baca Juga: Cara Menentukan Research Gap Skripsi dari Penelitian Terdahulu
Tidak semua skripsi atau tinjauan pustaka wajib menggunakan PRISMA.
Penggunaannya paling relevan untuk systematic review dan jenis kajian yang memerlukan pelaporan proses seleksi literatur secara sistematis.
Jika mahasiswa hanya menyusun tinjauan pustaka naratif, penggunaan diagram PRISMA tidak otomatis diperlukan.
Mahasiswa perlu mengikuti rancangan penelitian dan pedoman akademik kampus.
Dengan memahami PRISMA 2020, peneliti dapat melaporkan proses pemilihan literatur secara lebih jelas dan bertanggung jawab.
Diagram yang baik bukan hanya terlihat rapi, tetapi menunjukkan proses seleksi yang konsisten dengan pencarian dan pemeriksaan artikel yang benar-benar dilakukan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir