Khazanah
M. Panji Maulana

Apa Itu Bahtsul Masail di Pesantren? Pengertian, Proses, dan Manfaatnya bagi Santri

Apa Itu Bahtsul Masail di Pesantren? Pengertian, Proses, dan Manfaatnya bagi Santri

20 Oktober 2026 | 06:18

keboncinta.com- Bahtsul Masail merupakan tradisi pembahasan persoalan keagamaan melalui musyawarah ilmiah yang berkembang di lingkungan pesantren. Dalam forum ini, peserta mempelajari masalah, menelusuri rujukan, dan menguji kesesuaian pendapat sebelum merumuskan jawaban.

Bagi santri, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan pelajaran kitab dengan persoalan kehidupan. Mereka berlatih menjelaskan alasan, mendengarkan sanggahan, serta memperbaiki pemahaman berdasarkan rujukan yang dapat diperiksa.

Namun, Bahtsul Masail bukan sekadar debat bebas. Pembahasannya memerlukan kemampuan membaca sumber, ketelitian memahami kasus, dan bimbingan orang yang memiliki kompetensi keilmuan.

Pengertian Bahtsul Masail

Secara sederhana, istilah bahtsul masail berarti pembahasan berbagai persoalan. Dalam tradisi pesantren, istilah ini lazim digunakan untuk forum musyawarah yang mengkaji persoalan keagamaan, terutama fikih, dengan merujuk literatur yang diakui dalam tradisi keilmuannya.

Bentuk pelaksanaannya tidak selalu sama. Ada musyawarah untuk latihan santri, forum antarpesantren, dan pembahasan pada tingkat lembaga keagamaan. Karena itu, hasil latihan kelas tidak otomatis memiliki kedudukan yang sama dengan keputusan forum ulama.

Kajian Agus Mahfudin dalam Jurnal Hukum Keluarga Islam menjelaskan pentingnya metodologi ketika forum Bahtsul Masail menghadapi persoalan masyarakat yang terus berkembang. Jawaban memerlukan proses penalaran, bukan hanya pendapat spontan peserta.

Siapa yang Terlibat dalam Forum?

Susunan forum dapat berbeda menurut kebiasaan penyelenggara. Umumnya terdapat peserta pembahas, moderator, pihak yang membantu merumuskan jawaban, serta pembimbing atau musahhih yang memeriksa ketepatan pembahasan.

Moderator menjaga arah diskusi dan kesempatan berbicara. Peserta mengemukakan rujukan beserta penjelasannya. Perumus mencatat hasil pembahasan, sedangkan pembimbing membantu mengoreksi pemahaman dan menilai kesesuaiannya dengan persoalan.

Pembagian tugas tersebut membantu forum tetap tertib. Kualitas musyawarah tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara paling keras, melainkan kejelasan masalah dan kekuatan alasan yang disampaikan.

Baca juga: Mengenal Metode Sorogan dan Bandongan dalam Pendidikan Pesantren

Bagaimana Proses Bahtsul Masail Berlangsung?

1. Memahami persoalan secara utuh

Forum terlebih dahulu memperjelas gambaran kasus. Siapa yang terlibat, bagaimana peristiwanya, dan bagian mana yang menjadi pertanyaan harus diterangkan sebelum mencari jawaban.

Kasus yang kurang jelas dapat menghasilkan pembahasan yang melenceng. Untuk masalah yang membutuhkan pengetahuan khusus, keterangan pihak yang memahami bidang tersebut dapat membantu memperjelas fakta.

2. Menelusuri dan menyiapkan rujukan

Peserta mencari keterangan dalam kitab atau sumber yang relevan. Kutipan pendukung, yang dalam sejumlah forum disebut ta’bir atau ibarat, perlu dibaca bersama konteks dan batas penerapannya.

Studi Mohammad Syifa Alfalah dan Sri Ana tentang kegiatan pra-Bahtsul Masail di Pesantren Nurul Qur’an, Ponorogo, menyoroti pentingnya musyawarah dalam menentukan rujukan. Persiapan membantu peserta membangun pemahaman sebelum sidang.

3. Menyampaikan alasan dan menanggapi pendapat

Peserta menjelaskan hubungan antara rujukan dan kasus. Pendapat lain dapat menguji apakah penjelasan itu tepat, apakah ada syarat yang terlewat, atau apakah persoalannya berbeda dari contoh dalam kitab.

4.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Bahtsul Masail Pendidikan Pesantren Musyawarah Santri Pembelajaran Fikih kitab kuning Metode Qauli Metode Ilhaqi Metode Manhaji

Komentar Pengguna