keboncinta.com- Ketika bermain bersama teman, anak terkadang mengalami konflik karena berebut mainan, tidak mendapatkan giliran, atau merasa keinginannya diabaikan. Sebagian anak dapat menyampaikan kekecewaan melalui kata-kata, tetapi ada pula yang langsung mendorong atau memukul temannya.
Situasi tersebut sering membuat orang tua khawatir, terutama jika kejadian yang sama terus berulang di rumah maupun sekolah.
Namun, memukul ketika marah tidak selalu berarti seorang anak memiliki gangguan perilaku. Pada usia dini, kemampuan mengendalikan dorongan dan mengungkapkan perasaan masih berkembang.
Meski demikian, perilaku menyakiti orang lain tetap harus dihentikan dan tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan.
Lantas, bagaimana cara menghadapi anak yang sering memukul teman, memberikan batasan yang tegas, serta mengajarkan keterampilan mengelola emosi?
Perilaku memukul dapat muncul karena berbagai alasan.
Anak mungkin merasa frustrasi ketika mainannya direbut, kesulitan menunggu giliran, merasa terancam, atau belum mampu menyampaikan keinginannya.
Kelelahan, lapar, dan situasi yang terlalu ramai juga dapat memengaruhi kemampuan anak mengendalikan perilaku.
Menurut American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org, anak usia balita dan prasekolah masih mengembangkan pengendalian diri sehingga dapat merespons kemarahan melalui tindakan fisik.
Karena itu, anak membutuhkan contoh dan latihan untuk mengganti pukulan dengan cara berkomunikasi yang lebih aman.
Ketika anak mulai memukul temannya, orang dewasa harus segera menghentikan tindakan tersebut.
Dekati anak, pisahkan keduanya secara aman jika diperlukan, dan gunakan kalimat singkat.
Misalnya:
"Berhenti. Kita tidak boleh memukul. Memukul membuat teman sakit."
Hindari memberikan ceramah panjang ketika anak masih sangat marah.
Pastikan anak yang terkena pukulan memperoleh perhatian dan bantuan yang dibutuhkan terlebih dahulu.
Jika terdapat cedera, lakukan penanganan sesuai tingkat keparahannya.
Tujuan tindakan ini adalah menjaga keselamatan, bukan mempermalukan anak yang memukul.
Anak perlu memahami bahwa perasaan marah tidak dilarang, tetapi cara mengekspresikannya memiliki batas.
Orang tua dapat mengatakan:
"Ibu tahu kamu marah karena mainanmu diambil. Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa orang tua memahami perasaan anak tanpa membenarkan tindakan yang menyakitkan.
Menurut panduan disiplin positif American Academy of Pediatrics, orang tua perlu memberikan batasan yang konsisten sambil mengajarkan perilaku pengganti yang sesuai.
Dengan pendekatan tersebut, anak belajar membedakan emosi dan tindakan.
Sebagian anak memukul karena belum terbiasa menyampaikan perasaan menggunakan kata-kata.
Orang tua dapat memperkenalkan kalimat pendek yang mudah diingat.
Contohnya:
Latih kalimat tersebut ketika anak sedang tenang.
Orang tua dapat menggunakan boneka atau bermain peran untuk mencontohkan situasi berebut mainan.
Semakin sering anak mempraktikkan cara berkomunikasi yang aman, semakin banyak pilihan respons yang dapat digunakannya ketika menghadapi konflik.
Sebelum memukul, sebagian anak menunjukkan tanda-tanda tertentu.
Misalnya, wajah menegang, suara meninggi, tangan mengepal, atau mulai merebut barang.
Orang tua dapat membantu anak mengenali tanda tersebut.
Ketika anak sudah tenang, tanyakan apa yang dirasakannya sebelum kejadian.
Kemudian, ajarkan kegiatan sederhana seperti berhenti bermain sejenak, mengambil napas perlahan, atau meminta bantuan guru.
Tidak semua cara menenangkan diri cocok untuk setiap anak. Pilih strategi berdasarkan usia, kemampuan bahasa, dan kondisi perkembangan mereka.
Sebagian orang dewasa mungkin tergoda memukul balik agar anak memahami bahwa pukulan terasa sakit.
Namun, tindakan tersebut justru memberikan contoh penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan konflik.
Hukuman fisik, ancaman, dan bentakan sebaiknya dihindari.
Orang tua tetap dapat memberikan konsekuensi yang aman dan berkaitan dengan perilaku.
Misalnya, menghentikan permainan sementara ketika anak belum mampu bermain tanpa menyakiti teman.
Setelah tenang, anak dibimbing kembali untuk mengikuti aturan bermain.
Konsekuensi sebaiknya bertujuan mengajarkan tanggung jawab, bukan membuat anak ketakutan.
Setelah situasi aman dan kedua anak tenang, bantu anak memahami dampak tindakannya.
Orang tua dapat bertanya:
"Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu ketika dipukul?"
Ajak anak memikirkan cara memperbaiki keadaan.
Bentuknya dapat berupa meminta maaf, membantu mengambilkan barang, atau memberikan ruang kepada teman yang masih merasa tidak nyaman.
Namun, jangan memaksa anak mengucapkan permintaan maaf ketika ia masih kehilangan kendali atas emosinya.
Permintaan maaf sebaiknya menjadi bagian dari pembelajaran empati, bukan sekadar kalimat yang diucapkan karena takut dihukum.
Anak perlu mengetahui perilaku seperti apa yang diharapkan orang tua.
Ketika anak berhasil menunggu giliran, meminta bantuan, atau menyampaikan kemarahan tanpa memukul, berikan apresiasi yang spesifik.
Misalnya:
"Tadi kamu marah, tetapi kamu memilih berbicara. Itu cara yang baik."
Apresiasi semacam ini membantu anak memahami tindakan yang perlu diulangi.
American Academy of Pediatrics juga menganjurkan orang tua memperhatikan dan memberikan penguatan terhadap perilaku positif anak.
Jika perilaku memukul terjadi di sekolah, orang tua sebaiknya berdiskusi dengan guru.
Tanyakan kapan kejadian biasanya muncul, kegiatan apa yang menjadi pemicu, dan bagaimana respons anak setelahnya.
Hindari langsung menyalahkan anak lain atau menganggap guru tidak mampu menangani situasi.
Orang tua dan guru dapat menyepakati aturan sederhana yang sama, misalnya tidak memukul, meminta bantuan orang dewasa, dan menggunakan kata-kata ketika kesal.
Penerapan aturan secara konsisten membantu anak memahami batasan dalam berbagai lingkungan.
Baca Juga: Anak Sering Marah dan Menangis? Kenali 3 Zona Emosi dan Cara Menghadapinya
Perilaku agresif perlu mendapat perhatian lebih apabila terjadi sangat sering, semakin berat, atau menyebabkan cedera pada anak lain.
Orang tua juga sebaiknya mencari bantuan ketika anak terus mengalami kesulitan mengendalikan perilaku meskipun sudah mendapat pendampingan yang konsisten.
Konsultasi dapat dilakukan dengan dokter anak atau psikolog anak untuk memahami kemungkinan faktor perkembangan, komunikasi, lingkungan, maupun kebutuhan emosional yang mendasarinya.
Penilaian profesional diperlukan sebelum menyimpulkan bahwa anak mempunyai gangguan tertentu.
Mengajarkan batasan bukan berarti melarang anak mengalami kemarahan.
Anak tetap boleh merasa kecewa, sedih, kesal, atau tidak setuju dengan orang lain.
Yang perlu dibimbing adalah bagaimana perasaan tersebut disampaikan tanpa merugikan diri sendiri maupun teman.
Proses ini membutuhkan latihan berulang. Perubahan perilaku tidak selalu terjadi hanya setelah satu kali nasihat.
Dengan menghentikan kekerasan secara aman, memberikan contoh komunikasi, menetapkan aturan yang konsisten, dan mendukung perkembangan emosi, orang tua dapat membantu anak membangun keterampilan sosial yang lebih baik.
Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak berhenti memukul, melainkan membantunya memahami perasaan, menghargai batasan orang lain, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih sehat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir