keboncinta.com- “Ibu jangan pergi dulu, temani aku mengerjakan PR.” Permintaan seperti ini mungkin terdengar hampir setiap sore. Begitu orang tua berpindah tempat, anak berhenti menulis atau kembali memanggil.
Orang tua kemudian menghadapi dilema: terus mendampingi sampai tugas selesai atau meminta anak mengerjakannya sendiri?
Kebutuhan pendampingan tidak selalu berarti anak malas atau terlalu bergantung. Anak mungkin belum memahami instruksi, kesulitan memulai, takut salah, atau membutuhkan bantuan untuk mengatur pekerjaan.
Kemandirian dapat dilatih dengan memberi anak kesempatan mengambil alih bagian tugas yang sudah mampu dikerjakan, sementara bantuan tetap tersedia saat diperlukan. Besarnya dukungan disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan kebutuhan anak.
Sebelum mengurangi pendampingan, amati kapan anak paling sering meminta bantuan.
Apakah ia kesulitan membaca perintah, memahami materi, memilih tugas pertama, atau melanjutkan setelah menemukan soal sulit?
Tanyakan secara konkret:
“Bagian mana yang membuat kamu belum bisa mulai?”
Pertanyaan tersebut lebih membantu daripada langsung mengatakan, “Kamu sebenarnya bisa, cuma tidak mau.”
Jika masalahnya memahami materi, anak membutuhkan penjelasan. Jika ia memahami soal tetapi menunggu orang tua memberi aba-aba pada setiap langkah, latihan dapat difokuskan pada memulai dan melanjutkan pekerjaan.
Catat pola yang terlihat tanpa buru-buru memberi label pada anak.
Sediakan waktu belajar yang mempertimbangkan kondisi anak dan kegiatan keluarga. Setelah pulang sekolah, anak mungkin membutuhkan makan, istirahat, atau aktivitas fisik terlebih dahulu.
Siapkan tempat dengan pencahayaan memadai dan perlengkapan yang mudah dijangkau. Kurangi gangguan yang tidak berkaitan dengan tugas.
Panduan UNICEF tentang dukungan belajar menekankan rutinitas sederhana, tempat yang tenang, serta bimbingan sesuai usia.
Libatkan anak dalam keputusan kecil, misalnya:
“Kamu mau mulai dari membaca atau matematika?”
Pilihan tetap dibatasi pada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Anak mendapat ruang menentukan urutan sambil belajar memahami tanggung jawabnya.
Perubahan tidak harus dilakukan dengan langsung meninggalkan anak sendirian. Gunakan tahapan yang dapat disesuaikan:
| Tahap | Peran orang tua | Tanggung jawab anak |
|---|---|---|
| Memulai bersama | Membantu memahami instruksi | Menyiapkan alat dan memilih tugas pertama |
| Mencoba dengan bantuan tersedia | Berada di dekat anak tanpa mengarahkan setiap jawaban | Mengerjakan bagian yang sudah dipahami |
| Memeriksa pada waktu yang disepakati | Mengecek kemajuan dan membantu bagian sulit | Melanjutkan tugas serta menandai pertanyaan |
Tahapan ini merupakan contoh penerapan, bukan jadwal perkembangan yang wajib diikuti.
Anak yang lebih muda atau memiliki kebutuhan belajar tertentu mungkin memerlukan pendampingan lebih dekat. Pada materi baru, bantuan juga dapat ditambah sementara.
Baca juga: Ini Cara Melatih Kemandirian Anak Sejak Dini, Orang Tua Wajib Tahu!
Daripada meminta anak langsung menyelesaikan seluruh PR, sepakati satu bagian yang realistis.
Contohnya:
“Coba kerjakan dua soal yang kamu pahami. Ayah ada di meja sebelah. Setelah itu kita lihat bersama.”
Jumlah soal disesuaikan dengan kemampuan dan tingkat kesulitan. Untuk tugas membaca, target dapat berupa satu paragraf. Untuk proyek, target awal mungkin hanya menyiapkan bahan.
Jika anak kembali memanggil, periksa kebutuhan bantuannya. Jangan menjadikan kesepakatan sebagai alasan mengabaikan kebingungan yang nyata.
Ketika target terasa terlalu berat, perkecil langkahnya. Kemajuan dapat berupa keberanian memulai, bukan hanya banyaknya jawaban yang selesai.
Saat anak kesulitan, ajukan pertanyaan penuntun:
Jika perlu, tunjukkan satu contoh yang sejenis, kemudian biarkan anak mencoba soal berikutnya.
Panduan Departemen Pendidikan Amerika Serikat tentang PR menekankan pentingnya membantu tanpa mengambil alih pekerjaan anak, serta menyesuaikan pengawasan dengan kebutuhannya.
Jika orang tua belum memahami metode yang diajarkan, catat pertanyaannya untuk guru. Tidak perlu memaksakan cara lain hanya agar tugas segera tampak selesai.
Anak mandiri tetap boleh bertanya. Salah satu keterampilan yang dapat dilatih adalah menjelaskan letak kesulitannya.
Bantu anak mengubah “Aku tidak bisa semuanya” menjadi:
“Aku sudah membaca perintahnya, tetapi belum mengerti cara menghitung bagian ini.”
Bila ada soal yang belum dipahami, anak dapat menandainya dan melanjutkan bagian lain yang memungkinkan.
Penelitian tentang keterlibatan orang tua dalam PR menunjukkan bahwa dukungan terhadap otonomi berkaitan dengan hasil motivasional dan akademik yang lebih baik. Temuan tersebut tidak berarti semua anak harus belajar tanpa pendamping; bentuk dukungannya tetap perlu diperhatikan.
Sebutkan tindakan yang terlihat, misalnya:
“Kamu tadi mencoba membaca ulang sebelum meminta bantuan.”
Atau:
“Kamu sudah menyiapkan buku dan mulai tanpa diingatkan lagi.”
Apresiasi seperti ini membantu memperjelas kebiasaan yang sedang dilatih. Beri ruang untuk memperbaiki kesalahan tanpa mempermalukan anak.
Jika suasana mulai tegang, berhenti sejenak dan kembali setelah lebih tenang. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman yang dianggap lebih mandiri.
Hubungi guru jika anak terus kesulitan memahami materi, PR berulang kali menimbulkan tekanan berat, atau tugas hampir selalu membutuhkan bantuan penuh.
Sampaikan contoh pengamatan, seperti jenis soal yang sulit, waktu yang diperlukan, dan bantuan yang sudah dicoba.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir