KebonCinta.com — Tangisan keras, berteriak hingga melempar barang saat anak tantrum sering membuat orang tua ikut kehilangan kesabaran.
Namun respons orang tua justru menjadi salah satu contoh utama bagi anak dalam belajar mengendalikan emosi.
Psikolog Klinis Senior Ratih Ibrahim mengingatkan orang tua agar tidak membalas tantrum anak dengan kemarahan.
“Kalau anaknya lagi tantrum, ibunya jangan ikutan tantrum,” ujar Ratih Ibrahim.
Menurutnya, anak terutama pada usia balita banyak belajar dengan mengamati perilaku orang terdekat.
Ketika orang tua merespons kemarahan anak dengan berteriak atau marah, anak dapat memahami bahwa cara tersebut merupakan sesuatu yang normal untuk dilakukan.
Akibatnya, situasi bisa menjadi semakin sulit dikendalikan.
Orang tua disarankan mencoba menenangkan diri lebih dahulu.
Setelah itu, orang tua dapat membantu anak memahami apa yang sedang dirasakan.
Misalnya ketika anak kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi.
Orang tua dapat mengatakan bahwa mereka memahami anak sedang kesal atau sedih.
Mengakui emosi bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti.
Anak tetap membutuhkan batasan mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Marah atau kecewa merupakan emosi yang wajar.
Baca Juga: Rutin Sikat Gigi tapi Warnanya Tetap Kuning? Kebersihan Mulut Bukan Satu-satunya Faktor
Namun memukul orang, merusak benda atau melakukan tindakan berbahaya tetap perlu dihentikan.
Pendekatan tersebut membantu anak mengenali perbedaan antara perasaan dan tindakan.
Anak boleh merasa marah, tetapi perlu belajar bagaimana mengekspresikannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Ratih juga mengingatkan orang tua mengenai kebiasaan menyalahkan benda ketika anak terluka.
Contohnya ketika anak jatuh kemudian orang dewasa memukul lantai sambil mengatakan lantainya nakal.
Cara seperti itu dapat membuat anak kehilangan kesempatan memahami penyebab kejadian dan emosi yang sedang dialami.
Kemampuan mengenali perasaan merupakan bagian dari kecerdasan emosional.
Keterampilan tersebut berkembang secara bertahap dan membutuhkan contoh dari orang dewasa.
Karena itu, orang tua bukan hanya memberikan nasihat tentang cara mengendalikan diri.
Anak juga memperhatikan bagaimana ayah dan ibu bereaksi ketika stres, marah maupun kecewa.
Tantrum sendiri umum terjadi pada masa perkembangan anak.
Balita belum mempunyai kemampuan bahasa dan pengendalian emosi yang sama seperti orang dewasa.
Ketika kebutuhan atau keinginannya tidak terpenuhi, emosi dapat muncul dalam bentuk tangisan maupun ledakan perilaku.
Orang tua perlu tetap memperhatikan keamanan selama episode tersebut.
Apabila perilaku tantrum terjadi sangat sering, membahayakan anak atau orang lain, atau menimbulkan kekhawatiran terhadap perkembangan anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Tujuannya bukan memberi label kepada anak.
Konsultasi dapat membantu keluarga memahami apakah perilaku masih berada dalam tahap perkembangan yang umum atau membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Pada akhirnya, ketenangan orang tua merupakan bagian penting dalam proses mengajarkan anak mengelola emosi.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir