Jika anak meminta waktu sendiri, kebutuhan tersebut dapat dihormati selama ia tetap aman dan berada dalam pengawasan yang sesuai. Setelah suasana lebih tenang, orang tua bisa kembali mengajaknya berbicara.
3. Tanyakan bantuan yang dibutuhkan anak
Daripada langsung memerintah anak agar berhenti marah, cobalah mencari tahu apa yang sedang ia rasakan. Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu mau ditemani atau ingin duduk sebentar?” dapat membantu anak merasa diperhatikan.
Anak yang masih kesulitan mengungkapkan kebutuhan mungkin memerlukan pilihan yang mudah dipahami. Dengan pendampingan seperti ini, anak perlahan belajar bahwa ia dapat meminta bantuan ketika menghadapi perasaan yang sulit.
4. Kenalkan teknik relaksasi sederhana
Latihan pernapasan dapat membantu anak memperlambat respons tubuh ketika mulai merasa kewalahan. Ajak anak menarik napas perlahan melalui hidung, lalu mengembuskannya dengan lembut. Lakukan beberapa kali tanpa memaksa jika anak belum bersedia.
Orang tua juga dapat mengajak anak duduk di tempat yang nyaman, merenggangkan tubuh, atau melakukan kegiatan menenangkan yang disukainya. Latihan ini sebaiknya dikenalkan ketika anak sedang tenang agar lebih mudah digunakan saat emosi meningkat.
Baca Juga: Pentingnya Literasi Digital untuk Anak, Ini 4 Dampak Buruk yang Bisa Dicegah Sejak Dini
Membantu anak mengelola emosi bukan berarti melarangnya merasa marah, sedih, kecewa, atau takut. Semua perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang perlu diajarkan adalah cara mengekspresikannya tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Ketika anak marah karena mainannya diambil, misalnya, orang tua bisa membantunya mengatakan, “Aku kesal karena mainanku diambil tanpa izin.” Kalimat seperti ini mengajarkan anak untuk menjelaskan penyebab perasaannya tanpa harus memukul atau berteriak.
Jika anak melakukan tindakan yang menyakiti orang lain, orang tua tetap perlu menghentikannya dengan tegas dan aman. Setelah anak tenang, jelaskan dampak tindakannya serta ajak ia memikirkan cara memperbaiki keadaan.
Penting juga bagi orang tua untuk tidak mengejek, meremehkan, atau menyalahkan anak karena menangis. Kalimat seperti “Anak laki-laki tidak boleh menangis” atau “Begitu saja kok marah” dapat membuat anak merasa perasaannya tidak diterima. Sebagai gantinya, akui emosinya sambil tetap mengarahkan perilakunya.
Salah satu langkah penting dalam perkembangan emosional adalah membantu anak mengenali nama perasaannya. Anak yang hanya mengenal kata senang dan marah mungkin kesulitan menjelaskan pengalaman emosional yang lebih beragam.
Orang tua dapat memperkenalkan kata-kata seperti kecewa, cemas, gugup, malu, kesepian, bangga, lega, dan frustrasi. Ketika anak terlihat murung, misalnya, orang tua bisa bertanya, “Kamu sedih karena temanmu tidak jadi bermain bersama?”
Jika tebakan orang tua kurang tepat, berikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan dengan caranya sendiri. Tujuannya bukan menentukan perasaan anak secara sepihak, melainkan membantunya menemukan kata yang sesuai.
Semakin terbiasa anak mengenali dan menyebutkan emosinya, semakin besar kesempatan baginya untuk mengomunikasikan kebutuhan secara verbal. Anak juga dapat belajar bahwa perasaan tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan.
Sebagian anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang, terutama jika pernah mengalami pengalaman yang menimbulkan trauma fisik maupun psikologis. Dalam kondisi seperti ini, respons anak terhadap tekanan bisa lebih kuat atau sulit diprediksi.
Orang tua perlu bersikap sabar, menjaga lingkungan tetap aman, dan menghindari paksaan yang justru menambah tekanan. Jika ledakan emosi terjadi berulang kali, sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau sulit ditangani meskipun sudah mendapat pendampingan, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional yang sesuai dapat menjadi langkah yang tepat.
Pada akhirnya, kemampuan mengelola emosi tidak terbentuk dalam satu malam.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir