keboncinta.com- Pindah rumah merupakan perubahan besar bagi keluarga, terutama jika anak juga harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru. Perubahan tempat tinggal, teman bermain, guru, dan rutinitas sehari-hari dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman pada sebagian anak.
Dalam situasi tertentu, anak mungkin menunjukkan penolakan untuk berangkat sekolah, menangis pada pagi hari, atau mengeluh tidak memiliki teman.
Kondisi tersebut tidak selalu berarti anak malas belajar. Penolakan sekolah dapat berkaitan dengan rasa cemas, kehilangan lingkungan yang familiar, kesulitan pertemanan, atau masalah lain yang perlu dipahami.
Setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi perubahan.
Sebagian anak mudah menjalin pertemanan, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih panjang untuk merasa nyaman.
Ketika pindah rumah, anak mungkin kehilangan kebiasaan yang sebelumnya membuatnya merasa aman.
Misalnya, bertemu teman lama, mengikuti kegiatan tertentu, atau berangkat sekolah melalui rute yang sudah dikenal.
Perubahan sekolah juga dapat membuat anak merasa khawatir mengenai penerimaan teman sebaya, aturan kelas, atau kemampuan mengikuti pelajaran.
Langkah pertama adalah memahami alasan penolakan tanpa langsung memarahi atau memberi label negatif.
Orang tua dapat mengajak anak berbicara ketika suasana sedang tenang.
Contoh pertanyaan yang bisa digunakan:
"Apa yang paling membuat kamu tidak nyaman di sekolah baru?"
"Apakah ada pelajaran atau kegiatan yang terasa sulit?"
"Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman di kelas?"
Berikan kesempatan kepada anak untuk menjawab dengan caranya sendiri.
Hindari memaksakan jawaban atau langsung menyimpulkan bahwa anak hanya ingin bermain di rumah.
Anak perlu mengetahui bahwa perasaan sedih, takut, atau rindu teman lama dapat dibicarakan dengan orang tuanya.
Orang tua dapat mengatakan:
"Kamu pasti membutuhkan waktu untuk mengenal lingkungan baru. Kita akan mencari cara supaya sekolah terasa lebih nyaman."
Respons yang mendukung membantu anak merasa didengarkan.
Namun, memahami perasaan anak bukan berarti seluruh kegiatan sekolah harus dihentikan tanpa mempertimbangkan penyebab masalahnya.
Baca Juga: Murid Tak Cukup Menghafal, Mengapa Penalaran Kritis Perlu Dilatih di Sekolah?
Rutinitas dapat membantu menciptakan rasa aman setelah terjadi perubahan besar.
Tetapkan jadwal tidur, bangun pagi, sarapan, dan persiapan sekolah secara konsisten.
Siapkan perlengkapan sekolah sejak malam agar pagi hari tidak terasa terburu-buru.
Orang tua juga dapat memberikan waktu khusus untuk berbicara dengan anak setelah pulang sekolah.
Hindari terlalu banyak perubahan kegiatan dalam waktu bersamaan apabila anak masih mengalami kesulitan penyesuaian.
Guru dapat membantu memberikan gambaran mengenai perilaku anak selama berada di sekolah.
Orang tua sebaiknya menanyakan apakah anak mengikuti kegiatan kelas, berinteraksi dengan teman, atau menunjukkan kesulitan tertentu.
Apabila memungkinkan, guru dapat membantu mengenalkan teman pendamping atau melibatkan anak dalam kegiatan kelompok.
Komunikasi antara orang tua dan guru penting agar masalah dapat ditangani berdasarkan kondisi yang benar-benar terjadi, bukan hanya dugaan.
Pertemanan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu anak merasa diterima di lingkungan sekolah baru.
Orang tua dapat mendorong anak mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minatnya.
Misalnya, klub membaca, olahraga, seni, atau kegiatan ekstrakurikuler.
Apabila sesuai situasi, orang tua juga dapat mengenalkan anak kepada keluarga teman sekelas untuk membangun interaksi di luar jam pelajaran.
Namun, proses pertemanan tidak perlu dipaksakan. Berikan waktu bagi anak untuk mengenal teman baru secara bertahap.
Pindah rumah tidak selalu harus memutus hubungan anak dengan lingkungan sebelumnya.
Jika memungkinkan, anak dapat tetap berkomunikasi dengan teman lama melalui panggilan video atau pertemuan yang direncanakan.
Hubungan tersebut dapat membantu mengurangi rasa kehilangan.
Meski demikian, orang tua juga perlu mendukung anak membangun pengalaman positif di lingkungan yang baru.
Kesulitan penyesuaian umumnya perlu ditangani secara bertahap. Namun, terdapat kondisi yang memerlukan perhatian lebih serius.
Misalnya, anak terus-menerus menolak sekolah, mengalami gangguan tidur yang berat, sering mengeluhkan sakit perut atau sakit kepala, menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok, atau mengalami ketakutan ekstrem.
Orang tua juga perlu memastikan tidak terjadi perundungan, kekerasan, atau perlakuan tidak aman di sekolah.
Jika penolakan berlangsung terus, mengganggu aktivitas, atau disertai tekanan emosional berat, berkonsultasilah dengan psikolog anak, dokter, atau tenaga profesional yang kompeten.
Dalam membantu anak beradaptasi, tujuan utama bukan sekadar membuatnya kembali hadir di sekolah, melainkan memastikan ia merasa aman, mendapat dukungan, dan mampu membangun hubungan positif dengan lingkungan barunya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir