KebonCinta.com — Penggunaan telepon genggam dan media sosial sejak usia muda membuat pola edukasi kepada remaja juga perlu mengalami perubahan.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau BKKBN mendorong edukasi kesehatan reproduksi semakin aktif hadir di media sosial.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN Wihaji mengatakan anak kini dapat terpapar berbagai informasi sejak usia sangat muda.
“Sekarang anak baru lahir, sudah pegang handphone,” ujar Wihaji.
Ia menjelaskan ketika orang tua membuka TikTok maupun platform digital lainnya, konten yang muncul juga dapat dilihat oleh anak.
Kondisi tersebut membuat pendidikan kesehatan reproduksi tidak dapat lagi menggunakan pola komunikasi yang sama seperti beberapa dekade lalu.
Anak dan remaja hidup di lingkungan digital dengan algoritma yang terus menampilkan berbagai jenis konten.
Sebagian informasi dapat memberikan manfaat.
Namun terdapat pula konten yang belum sesuai dengan usia maupun tingkat pemahaman anak.
“Tanpa edukasi yang memadai, paparan tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan,” kata Wihaji.
Karena itu, orang tua dan lembaga pendidikan perlu membantu remaja memahami tubuh, batasan pribadi serta cara melindungi diri.
Edukasi kesehatan reproduksi bukan berarti sekadar membahas kontrasepsi.
Materinya juga dapat mencakup nilai, norma, relasi, kesehatan reproduksi, perlindungan dari kekerasan hingga informasi mengenai layanan kesehatan.
Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan usia penerima.
Bahasa untuk anak tentu tidak dapat disamakan dengan materi untuk remaja maupun orang dewasa.
Wihaji juga menekankan pentingnya prinsip bahwa tidak boleh ada kelompok yang tertinggal dalam memperoleh informasi.
Penyandang disabilitas mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan edukasi yang mudah diakses dan dipahami.
BKKBN pada 7 Oktober juga meluncurkan buku panduan inklusif terkait kesehatan reproduksi.
Salah satu bentuk awal yang disediakan menggunakan huruf braille agar dapat diakses penyandang tunanetra.
Ke depan, materi direncanakan terus dikembangkan untuk menjangkau lebih banyak ragam disabilitas.
Media sosial sendiri dapat menjadi tantangan sekaligus sarana edukasi.
Platform yang selama ini menjadi tempat remaja mencari hiburan juga dapat digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda.
Namun informasi yang diberikan harus berasal dari sumber yang benar dan disusun dengan pendekatan sesuai usia.
Remaja juga perlu dibekali kemampuan membedakan informasi kesehatan yang dapat dipercaya dengan informasi menyesatkan.
Peran keluarga tetap menjadi bagian penting meskipun edukasi diperluas ke media sosial.
Orang tua perlu membangun komunikasi yang memungkinkan anak bertanya tanpa merasa takut ataupun dihakimi.
Dengan perubahan pola konsumsi informasi generasi muda, edukasi kesehatan reproduksi akhirnya perlu hadir di tempat anak dan remaja memang banyak menghabiskan waktunya, termasuk di ruang digital.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir