KebonCinta.com-- Penggunaan media sosial sejak usia dini semakin menjadi perhatian orang tua. Di tengah kemudahan akses internet, anak-anak bisa menghabiskan banyak waktu untuk melihat video, mengikuti tren, hingga berinteraksi dengan orang lain melalui layar ponsel. Padahal, masa kanak-kanak juga membutuhkan ruang untuk bermain, bersosialisasi secara langsung, dan mengenali emosi diri sendiri.
Psikolog Ratih Ibrahim menyoroti pentingnya membatasi, bahkan menunda akses media sosial bagi anak sebelum berusia 16 tahun. Pendekatan ini dinilai dapat memberikan ruang bagi anak untuk menjalani tahap perkembangan sesuai kebutuhannya, tanpa terlalu dini menghadapi tekanan dari lingkungan digital.
Meski media sosial menawarkan kesempatan untuk mendapatkan informasi dan memperluas pertemanan, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan usia serta kesiapan anak. Mengurangi paparan media sosial bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi, melainkan juga memberi kesempatan lebih besar untuk membangun keterampilan hidup di dunia nyata.
Baca Juga: Anak Gen Z Makin Sulit Diajak Ngobrol? Ini 6 Cara Orang Tua Membangun Komunikasi yang Hangat
Masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk bermain, mencoba hal baru, dan membangun rasa ingin tahu. Ketika waktu di depan layar berkurang, anak memiliki kesempatan lebih luas untuk melakukan berbagai kegiatan secara langsung.
Mereka bisa bermain bersama teman, bersepeda, membaca buku, membantu pekerjaan sederhana di rumah, atau mengeksplorasi lingkungan sekitar. Kegiatan semacam ini memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh interaksi melalui layar.
Bermain juga membantu anak belajar menghadapi tantangan, menyelesaikan perselisihan kecil, dan memahami aturan ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, pembatasan media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan pengalaman nyata.
Usia anak dan remaja merupakan masa ketika berbagai kemampuan terus berkembang. Selain belajar di sekolah, mereka membutuhkan aktivitas fisik, kesempatan berinteraksi, serta pengalaman yang membantu membentuk kemandirian.
Mengajak anak berenang, bermain sepak bola, berjalan-jalan, atau melakukan kegiatan kreatif dapat memberikan stimulasi yang beragam. Aktivitas tersebut juga membuka kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama, mengikuti aturan, dan mengelola rasa kecewa ketika menghadapi kegagalan.
Di sisi lain, mengurangi waktu bermedia sosial dapat memberi ruang bagi anak untuk beristirahat, berkonsentrasi, dan menjalani rutinitas sehari-hari dengan lebih seimbang.
Namun, perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh penggunaan media sosial. Pola tidur, lingkungan keluarga, pendidikan, aktivitas fisik, serta dukungan emosional juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang yang sehat.
Media sosial sering menampilkan kehidupan orang lain melalui foto, video, dan berbagai pencapaian yang telah dipilih untuk dibagikan. Bagi anak yang masih membangun pemahaman tentang dirinya sendiri, paparan semacam ini berpotensi memunculkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Sebagian anak mungkin merasa kurang menarik, kurang populer, atau tertinggal ketika melihat unggahan teman sebaya. Keinginan memperoleh tanda suka, komentar positif, dan pengakuan dari pengguna lain juga dapat menjadi sumber tekanan.
Dengan menunda atau membatasi akses media sosial, anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepercayaan diri melalui pengalaman nyata, bukan semata-mata berdasarkan respons di dunia maya.
Meski demikian, kesehatan mental setiap anak dipengaruhi banyak faktor. Tidak menggunakan media sosial bukan jaminan bahwa anak akan terbebas dari masalah emosional. Dukungan keluarga, komunikasi terbuka, dan lingkungan yang aman tetap diperlukan.
Baca Juga: Gentle Parenting Bukan Berarti Memanjakan Anak, Ini Cara Menerapkannya dengan Tepat
Hubungan yang hangat dengan orang tua menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan anak.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir