KebonCinta.com — Perkembangan kecerdasan buatan selama ini identik dengan perangkat lunak, chip komputer dan pusat data.
Namun di balik teknologi tersebut terdapat kebutuhan material dalam jumlah besar, termasuk nikel dan tembaga.
Kementerian Komunikasi dan Digital menilai kekayaan mineral Indonesia dapat menjadi salah satu modal untuk memperkuat posisi nasional dalam industri AI.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan pentingnya hilirisasi mineral kritis.
“Indonesia harus memastikan bahwa rantai nilai tersebut berkelanjutan bagi kedua belah pihak,” ujar Nezar.
Ia menjelaskan nikel dan tembaga bukan hanya komoditas pertambangan.
Material tersebut digunakan dalam berbagai bagian infrastruktur digital, mulai dari baterai, sistem kelistrikan, jaringan transmisi hingga sistem pendukung pusat data.
Pusat data yang menjalankan berbagai layanan AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar.
Selain server dan chip, fasilitas tersebut membutuhkan sistem pendingin, jaringan serat optik, peralatan kelistrikan dan infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, pembangunan industri AI tidak dapat dilihat hanya sebagai agenda sektor teknologi informasi.
Pengembangannya juga berkaitan dengan kebijakan industri, energi, pertambangan hingga lingkungan.
Indonesia mempunyai posisi penting karena menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia.
Komdigi menyebut kontribusi Indonesia berada di kisaran 62 persen produksi tambang nikel global.
Posisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh nilai tambah lebih besar.
Namun pemerintah tidak ingin hilirisasi hanya berarti mineral diproses lebih dekat dengan lokasi tambang.
“Hilirisasi harus berarti lebih dari sekadar melakukan pengolahan mineral di dekat lokasi tambang,” kata Nezar.
Menurutnya, pengembangan industri perlu memperhatikan kinerja lingkungan, ketertelusuran bahan baku, praktik tenaga kerja yang bertanggung jawab serta penggunaan energi rendah karbon.
Pengelolaan air dan limbah juga perlu menjadi perhatian.
Hal tersebut menjadi penting karena kebutuhan industri digital diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan AI.
Indonesia berpeluang tidak hanya memasok material mentah, tetapi membangun rantai industri yang lebih lengkap.
Nilai tambah dapat berasal dari pengolahan material, pembangunan komponen, infrastruktur pusat data hingga pengembangan layanan AI.
Pemerintah juga melihat peluang penciptaan pekerjaan bernilai tambah tinggi.
Namun peluang tersebut membutuhkan tenaga terampil.
Indonesia perlu memperkuat pendidikan, pelatihan serta riset agar sumber daya manusia mampu bekerja dalam industri teknologi yang semakin kompleks.
Selain mineral, kesiapan listrik dan jaringan digital juga menjadi tantangan.
Pusat data membutuhkan pasokan energi yang stabil dan sistem pendinginan yang efisien.
Karena itu, pertumbuhan industri AI perlu mempertimbangkan ketersediaan air, energi dan dampak terhadap masyarakat sekitar.
Pesan yang muncul adalah AI ternyata tidak hanya berbicara mengenai aplikasi dan komputer.
Di belakang sebuah layanan digital terdapat rantai industri yang sangat panjang, mulai dari pertambangan hingga pusat data.
Indonesia kini mempunyai peluang untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai tersebut dengan memanfaatkan kekayaan mineral sekaligus membangun industri yang berkelanjutan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir