Gaya Hidup
Al Fina

AI Mulai Geser Pekerjaan Kantoran, Gen Z Kini Incar Profesi Zaman Dulu dengan Gaji Fantastis

AI Mulai Geser Pekerjaan Kantoran, Gen Z Kini Incar Profesi Zaman Dulu dengan Gaji Fantastis

11 Oktober 2026 | 06:00

Perubahan ini tidak semata-mata disebabkan oleh AI, tetapi juga dipengaruhi perkembangan teknologi lain, kondisi ekonomi, dan pergeseran kebutuhan industri.

Sejumlah pekerjaan administratif dan berbasis pencatatan termasuk kategori yang menghadapi tekanan besar akibat otomatisasi.

Berikut 15 jenis pekerjaan yang masuk dalam daftar profesi dengan proyeksi penurunan permintaan menurut laporan WEF tersebut:

  1. Teller bank.
  2. Petugas layanan pos.
  3. Kasir dan petugas loket tiket.
  4. Staf entri data.
  5. Sekretaris dan staf administrasi.
  6. Petugas pencatatan stok.
  7. Staf akuntansi, pembukuan, dan penggajian.
  8. Anggota legislatif dan pejabat pemerintahan.
  9. Staf statistik, asuransi, dan keuangan.
  10. Penjual keliling dan pedagang langsung.
  11. Petugas keamanan.
  12. Manajer kredit dan pinjaman.
  13. Penyelidik dan pemeriksa klaim asuransi.
  14. Penguji perangkat lunak.
  15. Manajer hubungan pelanggan.

Daftar tersebut merupakan proyeksi berdasarkan kondisi dan asumsi saat laporan diterbitkan, bukan kepastian bahwa semua profesi tersebut akan hilang. Tingkat perubahan juga dapat berbeda menurut negara, perusahaan, dan jenis pekerjaan.

Bagi pekerja kantoran, perkembangan ini menjadi pengingat penting bahwa kemampuan beradaptasi, penguasaan teknologi, dan peningkatan kompetensi tetap dibutuhkan untuk mempertahankan daya saing.

Mengapa Pekerjaan Teknis Lebih Sulit Digantikan AI?

AI memang mampu mengerjakan banyak tugas digital, tetapi pekerjaan di lapangan memiliki tantangan yang berbeda. Teknisi harus berhadapan langsung dengan mesin, instalasi, kondisi lingkungan, dan persoalan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Ada beberapa alasan yang membuat keterampilan teknis tetap dibutuhkan.

1. Membutuhkan tindakan fisik secara langsung

Pekerjaan seperti memasang jaringan listrik, memperbaiki mesin, atau merawat sistem pendingin membutuhkan tindakan nyata di lokasi. AI dapat membantu menganalisis masalah, tetapi pelaksanaan pekerjaan fisik tetap memerlukan tenaga manusia atau sistem robotik khusus.

2. Menuntut kemampuan memecahkan masalah

Kerusakan di lapangan tidak selalu mengikuti pola yang sama. Teknisi perlu mengidentifikasi penyebab masalah, menentukan langkah perbaikan, dan menyesuaikan tindakan dengan kondisi aktual.

3. Berkaitan dengan keselamatan kerja

Pekerjaan kelistrikan, pengelasan, dan konstruksi memiliki risiko yang membutuhkan pengetahuan teknis serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Kesalahan dalam pelaksanaan dapat menimbulkan kerugian besar.

4. Membutuhkan penguasaan peralatan khusus

Mesin industri, sistem pendingin, dan perangkat otomatisasi memerlukan operator atau teknisi yang memahami cara kerja, pemeliharaan, serta penanganan gangguannya.

Meski demikian, bukan berarti pekerjaan teknis sepenuhnya kebal terhadap otomatisasi. Robot, perangkat lunak, dan AI juga dapat mengubah cara pekerjaan tersebut dilakukan. Keunggulan tenaga kerja justru terletak pada kemampuan mengombinasikan keterampilan praktis dengan pemahaman teknologi.

Indonesia Berpotensi Mengalami Pergeseran Serupa

Perkembangan industri digital di Indonesia turut membuka peluang bagi tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis. Pembangunan pusat data, perluasan jaringan telekomunikasi, pertumbuhan manufaktur, serta pengembangan infrastruktur membutuhkan pekerja dengan kompetensi yang sesuai.

Di sektor pusat data, misalnya, kebutuhan tenaga kerja tidak terbatas pada pengembang perangkat lunak atau ahli AI. Infrastruktur tersebut juga membutuhkan teknisi listrik, tenaga ahli sistem pendingin, teknisi jaringan, petugas pemeliharaan, serta spesialis sistem keamanan.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut berperan menjaga agar fasilitas dapat beroperasi secara stabil dan aman.

Di luar pusat data, kebutuhan tenaga terampil juga dapat muncul dari proyek konstruksi, instalasi energi, perawatan mesin, serta industri pengolahan. Namun, besarnya peluang di setiap bidang tetap bergantung pada perkembangan investasi, lokasi proyek, dan kebutuhan perusahaan.

Karena itu, generasi muda Indonesia dapat mulai mempertimbangkan pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, pelatihan industri, dan program magang sebagai alternatif untuk memasuki dunia kerja.

Pilihan tersebut tidak harus dipertentangkan dengan pendidikan sarjana. Keduanya memiliki jalur dan keunggulan masing-masing, tergantung pada bidang yang ingin ditekuni serta persyaratan pekerjaan yang dituju.

Cara Memanfaatkan Peluang Profesi Teknis di Era AI

Bagi anak muda yang ingin masuk ke sektor pekerjaan berbasis keterampilan, ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan.

Pertama, pilih bidang berdasarkan kebutuhan industri. Pelajari peluang di bidang kelistrikan, pengelasan, sistem pendingin, otomasi industri, jaringan, atau pemeliharaan mesin.

Kedua, ikuti pelatihan dan sertifikasi yang relevan. Kompetensi yang terukur dapat membantu membuktikan kemampuan kepada calon pemberi kerja. Pastikan sertifikasi berasal dari lembaga yang diakui dan sesuai dengan bidang pekerjaan.

Ketiga, bangun pengalaman praktik. Magang, proyek pelatihan, dan pengalaman kerja langsung membantu mengembangkan kemampuan yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran teori.

Keempat, kuasai teknologi pendukung.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 3
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Kecerdasan Buatan profesi Gen Z

Komentar Pengguna