Teknologi
Hilmi An Naufal

AI Makin Cepat Berkembang, Pakar NUS Ingatkan Generasi Muda Harus Siapkan Keterampilan agar Tak Tertinggal di Dunia Kerja

AI Makin Cepat Berkembang, Pakar NUS Ingatkan Generasi Muda Harus Siapkan Keterampilan agar Tak Tertinggal di Dunia Kerja

09 Oktober 2026 | 09:54

KebonCinta.com — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence terus mengubah cara perusahaan menjalankan berbagai pekerjaan.

Teknologi AI dapat membantu meningkatkan produktivitas, mempercepat analisis data serta mengotomatisasi pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu manusia.

Namun perkembangan tersebut juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan tenaga kerja.

Generasi muda yang baru akan memasuki pasar kerja menjadi salah satu kelompok yang perlu mempersiapkan diri sejak sekarang.

Profesor National University of Singapore Business School Johan Sulaeman menilai pemerintah perlu menyusun strategi yang tepat dalam menghadapi perubahan tersebut.

“Pemerintah seharusnya tidak sekadar antusias terhadap AI, tetapi juga tidak perlu takut,” ujar Johan.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pembahasan mengenai AI perlu disertai strategi dari perspektif ketenagakerjaan.

Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar.

Bonus demografi dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila masyarakat mempunyai keterampilan dan lapangan pekerjaan.

Sebaliknya, jumlah tenaga kerja yang besar dapat menjadi tantangan ketika perkembangan teknologi bergerak lebih cepat dibandingkan kemampuan sumber daya manusia.

AI memang mempunyai kemampuan menggantikan beberapa tugas.

Pekerjaan administratif yang berulang misalnya semakin mudah dilakukan menggunakan perangkat lunak.

Namun AI juga dapat menciptakan kebutuhan terhadap jenis keterampilan baru.

Baca Juga: Rutin Sikat Gigi tapi Warnanya Tetap Kuning? Kebersihan Mulut Bukan Satu-satunya Faktor 

Kemampuan mengoperasikan teknologi, menganalisis hasil, mengambil keputusan dan memahami kebutuhan manusia masih menjadi aspek penting.

Karena itu, persiapan menghadapi AI tidak selalu berarti seluruh orang harus menjadi programmer.

Kemampuan menggunakan teknologi sesuai bidang pekerjaan masing-masing juga semakin diperlukan.

Seorang guru dapat menggunakan AI untuk membantu menyiapkan bahan pembelajaran.

Tenaga administrasi dapat memanfaatkannya untuk mengolah dokumen.

Pelaku usaha dapat menggunakannya untuk menganalisis pasar maupun membuat materi promosi.

Namun hasil AI tetap perlu diperiksa manusia.

Kesalahan data, informasi yang tidak akurat maupun keputusan yang kehilangan konteks dapat terjadi apabila teknologi digunakan tanpa pengawasan.

Kemampuan berpikir kritis karena itu menjadi semakin penting.

Begitu pula kemampuan komunikasi, kreativitas, kepemimpinan dan pemecahan masalah.

Keahlian tersebut berkaitan dengan cara manusia memahami situasi yang kompleks dan berinteraksi dengan orang lain.

Perguruan tinggi dan sekolah juga menghadapi tantangan menyesuaikan pembelajaran.

Materi pendidikan perlu mengikuti perkembangan dunia kerja tanpa sekadar mengejar tren sesaat.

Pelatihan bagi pekerja yang sudah berada di dunia industri juga penting.

Seseorang yang telah bekerja selama bertahun-tahun tetap membutuhkan kesempatan meningkatkan keterampilannya ketika sistem kerja berubah.

Konsep yang kemudian banyak dibahas adalah pro-human AI.

Artinya, teknologi diarahkan untuk meningkatkan kemampuan manusia dan bukan hanya menggantikan sebanyak mungkin pekerjaan.

Namun kecepatan perkembangan AI membuat proses tersebut tidak mudah.

Generasi muda akhirnya perlu melihat AI sebagai teknologi yang harus dipahami.

Menghindari teknologi sepenuhnya dapat membuat seseorang tertinggal, sementara bergantung sepenuhnya pada AI juga dapat mengurangi kemampuan dasar yang justru dibutuhkan dunia kerja.

Kunci utamanya adalah belajar menggunakan teknologi sekaligus mempertahankan kemampuan manusia yang sulit digantikan mesin.

Tags:
AI Artificial Intelligence Dunia Kerja Gen Z Karier Lowongan kerja teknologi Kecerdasan Buatan

Komentar Pengguna